
"Kalau kamu merasa kurang nyaman dengan permintaan mama dan papaku, kamu tidak perlu memikirkannya saat ini. Fokus saja pada tujuanmu," ucap Ariana.
Usai pertemuan itu, Ariana meminta waktu berdua dengan Janu. Mereka memang jarang bisa bertemu. Ariana ingin sedikit bermanja dengan tunangannya itu. Ia terus menyandarkan kepalanya di bahu Janu sembari memeluk lengannya.
"Apa malam ini kamu ada waktu? Kita sudah jarang pergi berdua," pinta Ariana.
"Sepertinya aku belum bisa. Kucingku akan marah kalau aku tidak pulang," kata Janu.
Ariana tertawa kecil. "Aku sampai lupa kalau sekarang kamu punya kucing. Aku jadi ingin memelihara kucing juga sepertimu."
"Kamu sudah cukup sibuk bekerja, merawat kucing itu sangat merepotkan. Kalau kamu kena cakar, wajahmu bisa jadi jelek."
"Iya juga, sih. Memangnya kucing jenis apa yang kamu pelihara?"
Janu kembali memikirkan Cheryl. Ia memang lelaki jahat yang mampu memikirkan wanita lain saat ada Ariana di sisinya. "Aku tidak tahu dia jenis kucing apa. Mungkin jenis Ras Persia," ucapnya.
"Hm, Kucing Persia biasanya lucu."
"Dia juga lucu. Kelihatannya kecil dan putih. Kalau aku mengangkat tubuhnya, dia akan mencoba mencakar dengan kukunya. Tapi, ketika aku terlihat marah, ia akan menampakkan wajah yang imut sembari mengibaskan ekornya dengan menggemaskan. Dia akan tertidur dengan polosnya di sampingku dengan tenang."
Janu memikirkan kucing berbentuk manusia yang ada di ruangan kantornya. Memikirkannya saja membuat ia tidak sabar untuk segera kembali. Meskipun punya resiko dicakar, ia tidak pernah kapok mengajaknya bermain-main dengannya.
"Aku jadi iri dengan kucing itu. Dia bisa sepanjang waktu tidur di sisimu." Ariana memanyunkan bibirnya.
"Maafkan aku, sudah membuatmu merasa dikalahkan oleh seekor kucing."
"Setelah menikah, kucing itu akan aku larang dekat denganmu lagi!" tegas Ariana.
"Hahaha ... Kamu orang yang sangat kejam. Kucingku bisa menangis jika kamu kasar padanya," kata Janu. Ia melihat jam tangannya, sudah cukup lama ia meninggalkan Cheryl di ruangannya. "Sepertinya aku harus kembali bekerja sekarang," pamitnya.
Ariana menghela napas kecewa. "Baiklah, padahal aku ingin lebih lama bersamamu," ucapnya merajuk.
__ADS_1
"Kalau aku ada waktu, aku sempatkan untuk jalan bersamamu."
Ariana memeluk Janu dengan erat. Ia memanyunkan bibirnya agar Janu mau menciumnya. Janu hanya sekilas menempelkan bibirnya.
"Yah, kok begitu?" protes Ariana. Ia mengalungkan tangannya ke belakang leher Janu dan memagut bibir Janu.
Awalnya Janu tak mau sampai harus berciuman seperti biasa, namun Ariana akan sulit ia tinggalkan jika belum diberikan apa yang wanita itu inginkan.
Janu membalas pagutan bibir Ariana dengan ciuman yang mendalam sampai membuat wajah wanita itu memerah dan terengah-engah.
"Aku pergi dulu," ucap Janu seraya mencium kening Ariana sebelum pergi.
***
"Apa istriku sudah keluar?" tanya Janu kepada bodyguard yang berjaga di luar.
"Belum, Tuan."
Janu menatap pakaian istrinya yang masih berserakan di lantai. Ia memungutinya saru per satu dan meletakkannya di atas ranjang.
"Hm, ini imut sekali," gumam Janu memperhatikan pakaian berbetuk segitiga milik istrinya. Pikiran kotornya kembali muncul membayangkan benda yang biasa tertutupi oleh kain mungil itu.
Pintu kamar mandi terbuka. Cheryl keluar dari dalam mengenakan selembar handuk untuk menutupi tubuhnya. Ia terkejut mendapati Janu sudah kembali ada di sana.
"Kamu sudah kembali?" nada bicaranya terdengar seperti sedang kesal.
Janu bangkit dari duduknya, menghampiri sang istri dan memberikan pelukan. "Apa kamu marah tidak melihatku saat kamu bangun?" godanya.
Janu tak sekedar memberi pelukan. Lelaki itu membali menciumi ceruk leher Cheryl dan menimbulkan getaran-getaran aneh yang kembali dirasakannya.
"Berhenti! Aku baru selesai mandi," ucap Cheryl seraya menjauhkan tubuh Janu darinya. Ia tahu apa makna dari sentuhan yang lelaki itu berikan kepadanya.
__ADS_1
Ucapan Cheryl tak membuat Janu menurut. Ia kembali menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya.
"Kenapa memangnya kalau sudah mandi? Kamu bisa mandi lagi. Kalau malas, aku yang akan memandikanmu," katanya seraya menarik handuk yang Cheryl kenakan lalu membuangnya jauh-jauh.
Cheryl ternganga dengan kelakuan suaminya yang sangat di luar nalar liarnya. Ia berusaha menuti bagian tubuhnya dengan tangan. "Kamu ini bukan binatang ya, Janu!" kesalnya.
Janu hanya terkekeh mendengar umpatan Cheryl. Tanpa persetujuan wanita itu, Janu tetap mengangkat wanita itu ke atas ranjangnya. Ia menciumi bibir mungil yang selalu menggemaskannya.
Seperti yang pernah katakan, sifat wanita itu yang suka membangkang juga membuatnya tertantang. Ia tak bisa lagi berpikir secara nalar ketika berhadapan dengan istrinya.
Ia memandangi wajah istrinya yang memerah dengan napas terengah-engah. Semakin ia memandanginya, semakin ia ingin berbuat lebih padanya. Wajah polos yang ditunjukkan membuatnya ingin mengotorinya.
Setelah merasakan kehangatan tubuh istrinya, pengontrol hasrat yang ada dalam dirinya seakan telah rusak dan tidak bisa diperbaiki. Keposesifan yang ia miliki semakin bertambah.
Janu menangkupkan kedua telapak tangannya pada gundukan bukit yang empuk itu. Bibirnya kembali memagut bibir sang istri yang sangat lembut. Mengingat wanita itu pernah lama berpacaran dengan lelaki bernama Arsen membuatnya kesal. Membayangkan wanita polos itu direngkuh lelaki lain, ia tidak rela. Seakan hanya dia yang berhak memiliki wanita imut yang ada di bawahnya.
"Kamu yang sudah membuatku jadi seperti ini, Sayang. Jadi, kamu yang harus bertanggung jawab," ucapnya dengan nada yang nakal.
Cheryl melengkuh saat lelaki itu kembali menyatukan tubuh mereka. Ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya seakan pasrah dan menikmati apa yang Janu lakukan terhadapnya.
"Aku ingin kamu segera hamil, Sayang. Aku tidak sabar menantikan anak-anak imut yanh akan kamu lahirkan," bisik Janu.
Cheryl bahkan belum memikirkan tentang anak. Lelaki itu sama sekali tak memberikannya waktu istirahat. Sejak pertama kali Janu melakukannya, lelaki itu terus mengulang hal yang sama padanya.
"Kamu akan kerepotan kalau kita punya anak. Aku akan sibuk mengurusi bayi dan tidak bisa kamu melakukan ham seperti ini padaku!" bantah Cheryl.
Janu menyeringai. "Aku bisa membayar banyak baby sitter untuk merawat mereka, Sayang, tugasmu hanya merawatku saja," balasnya.
Wanita yang ia sebut sebagai kucing Persia itu terlihat lucu saat kesal, juga imut saat menjadi penurut. Ia sangat menyukai kucing Persianya.
"Ah, Cheryl ... Kamu adalah milikku, selamanya tetap milikku," ucapnya seraya memeluk erat tubuh istrinya. Ia tak akan melepaskannya sampai kapanpun. Siapa saja yang berani mengganggu kesayangannya, akan ia singkirkan tanpa berpikir dua kali
__ADS_1