
Janu bersama Finn dan Thor langsung menuju ke tempat kejadian dini hari itu. Michan terbunuh di area basement parkiran mobil area apartemen. Beberapa polisi masih berada di sana bersama ahli forensik dan saksi-saksi terkait.
Janu hanya melihat dari kejauhan agar tidak terlihat mencolok dan ikut dimintai keterangan. Ia heran mengapa Michan yang menurutnya tidak memiliki masalah ikut diserang.
"Apa ada CCTV di sekitar sini?" tanya Janu.
"Seharusnya ada, Tuan. Tapi, kata anak buah saya CCTV sudah dalam kondisi rusak. Kemungkinan disengaja," jawab Thor.
Janu berpikir sejenak. Ia rasa mereka pasti sudah memperhitungkan hal tersebut sebelum melakukan aksinya.
"Beberapa waktu terakhir Nona Michan terlihat dengan Nyonya, Tuan. Dia menjadi salah satu pendukung agar Nyonya berpisah dengan Anda. Karena itu, saya menyuruh orang untuk membuntutinya," kata Thor.
"Apa ada sesuatu yang aneh dengan pertemuan mereka?" Janu sangat penasaran dengan apa yang dibahas bersama Michan. Cheryl sampai memiliki keberanian untuk kabur saat ia tak ada di rumah.
"Tidak ada, selain masalah tentang Pak Arsen."
Janu tidak yakin. Pasti ada sesuatu yang membuat Michan menjadi target.
"Tuan, saya sudah mendapatkan detil kasus pembunuhannya."
Finn membawa layar tabletnya dan diperlihatkan kepada Janu. Ia memiliki seorang kenalan dari pihak forensik dan kepolisian yang memberikan informasi kepadanya. Ia memperlihatkan foto-foto Michan sebagai korban.
"Nona Michan diperkirakan meninggal karena hantaman benda tumpul di belakang kepalanya."
"Menurut keterangan, tidak ada barang yang hilang. Kunci mobil Nona Michan masih ada di dalam tasnya, begitu pula dengan dompetnya. Jadi, sepertinya ini memang bukan kasus perampokan."
"Hanya saja, ponsel Nona Michan tidak ditemukan dimanapun. Kemungkinan dibawa oleh pelaku," kata Finn.
"Apa ponselnya sudah bisa dilacak?" tanya Janu.
"Tidak bisa, Tuan. Pelaku sepertinya cukup pintar untuk mematikan ponsel Nona Michan."
"Jangan-jangan ada sesuatu di dalam ponsel tersebut," sambung Thor. Janu dan Finn menoleh padanya. Mereka memiliki pemikiran yang sama.
"Lalu, dimana mayatnya sekarang?" tanya Janu.
"Sudah dibawa ke Rumah Sakit XXX, Tuan," kata Finn.
"Thor, kerahkan anak buahmu untuk menjaga di sekitar apartemen ini. Awasi mobil Michan dan kamar apartemennya!" perintah Janu.
"Baik, Tuan."
__ADS_1
"Finn, kamu hubungi orang kenalanmu di rumah sakit itu. Katakan padanya untuk menjaga ketat mayat Michan. Laporkan siapa saja yang berusaha menemukan Michan di sana!"
"Baik, Tuan."
***
Cheryl mulai terbangun dari tidurnya. Ia mengerjap-ngerjapkan mata. Pemandangan yang ada di depan matanya adalah Janu. Lelaki itu tengah tersenyum kepadanya.
"Ah!" teriak Cheryl. Ia terkesiap kaget melihat lelaki itu ada di kamarnya. "Ah!" sekali lagi ia berteriak seraya menarik selimut menutupi tubuhnya yang terbuka.
Janu terkekeh. "Kenapa sejak semalam hobimu berteriak-teriak terus. Kamar ini belum aku pasang peredam suara, orang bisa mendengar suaramu berteriak, Sayang."
Cheryl menutupi matanya. Ia malu mengingat apa yang telah terjadi semalam. Saking malunya ia ingin menghilang dari muka bumi.
"Tidurmu nyenyak, kan?" Janu mendekat dan mendekap istrinya.
"Jangan pegang-pegang!" bentak Cheryl yang masih menyembunyikan wajahnya dibalik selimut.
Ia masih sangat kesal mengingat lelaki itu memaksa dirinya untuk bercinta. Bahkan saat ia menangis, lelaki itu terus melanjutkannya sampai ia tertidur karena kelelahan.
"Sudah aku berikan cinta semalam, kenapa masih suka marah-marah padaku, hm? Apa masih kurang?" goda Janu sembari mencium kepala istrinya yang terbungkus selimut.
"Mulai sekarang, kita akan tidur sekamar, Sayang ...."
Janu memaksa masuk ke dalam selimut membuat Cheryl kembali menjerit dengan ulah Janu yang menyebalkan. Lelaki itu pandai berciuman, membuatnya tak bisa menolak ketika bibirnya dipagut dengan begitu manisnya. Janu sangat licik, membuat dia yang membencinya merasa terhanyut dalam perbuatan erotis lelaki itu.
"Kamu terlihat cantik saat pipimu bersemu merah seperti ini," ucap Janu sembari memandangi istrinya.
Cheryl tak lagi melawan saat dirinya mulai menghujani tubuh sang istri dengan ciuman. Janu sangat suka mendengar suara desa han yang istrinya keluarkan saat ia memberikan gigitan kecil di telinga wanita itu.
Janu melepaskan pakaiannya. Sang istri tampak menutup mata ketika ia melakukan hal itu.
"Kenapa malu-malu? Semalam kita sudah melakukannya."
Lelaki itu tak puas hanya melakukannya semalam. Hasratnya masih membara untuk mendekap wanita itu terus dalam pelukannya. Jika semalam istrinya tidak tertidur, mereka berdua pasti tak akan berhenti sampai pagi menjelang.
"Jangan lagi, ini masih sakit." Cheryl berusaha menutupi miliknya yang semalam telah dimasuki oleh lelaki itu.
"Kali ini tidak akan sakit, percayalah." Janu menyingkirkan kedua tangan mungil itu.
Ia kembali mencium bibir manis istrinya, memberikan pagutan-pagutan mesra yang melenakan. Saat wanita itu telah terhanyut dalam gairahnya, perlahan ia arahkan miliknya ke dalam lembah kehangatan di dalam sana.
__ADS_1
Cheryl tak bisa lari lagi saat milik suaminya perlahan bergerak masuk ke sana. Ia mencengkram kuat kain sprei yang yang menutupi ranjang. Perasaannya antara takut dan resah bercampur dengan perasaan aneh yang membuatnya tak berdaya untuk menolak.
Janu melakukannya dengan sangat perlahan seolah tak ingin memberinya kesakitan seperti semalam. Ia tak menyangka akan kembali menikmati sensasi erotis seperti semalam. Bahkan kali ini rasanya begitu nyaman.
***
Janu membuat Cheryl kelelahan sepanjang hari. Mereka bahkan hampir melewatkan waktu sarapan. Jam 11 mereka baru menyantap sarapan.
Cheryl bahkan meminta makanannya diletakkan di atas ranjang. Ia dibuat tak bisa berjalan oleh suaminya. Untuk mandi saja Janu yang memandikannya. Bahkan lelaki itu masih berani memintanya mengulang di kamar mandi.
Ia merasa tubuhnya telah dimakan habis oleh lelaki itu. Janu sangat serakah tak menyisakan sejengkalpun dari tubuhnya yang luput dari sentuhannya.
"Apa kita perlu ke dokter?" tanya Janu.
"Ini kan karena ulahmu sendiri! Aku bilang sudah tapi terus-terusan kamu lakukan!" gerutu Cheryl sembari mengunyah makanannya.
"Aku tidak bisa berhenti karena kamu terlalu enak," kilah Janu.
"Hah! Kamu pikir aku makanan?"
"Ya, kamu lebih enak dari makanan ini," goda Janu.
Cheryl tidak habis pikir lelaki itu bisa sebuas serigala. Setelah perbuatannya sendiri, lelaki itu baru khawatir kepada kondisinya.
"Kalau besok kondisimu masih belum membaik, kamu tidak perlu pergi ke kantor sementara waktu."
"Kalau kamu mengulangnya lagi, aku tidak akan sembuh-sembuh!" protes Cheryl.
"Oh, kalau begitu, kamu tidak usah bekerja selamanya. Cukup di kamar sepanjang hari, karena aku pasti akan menghampirimu." Janu mengerlingkan sebelah matanya menggoda sang istri.
Cheryl sampai geleng-geleng kepala. "Hari ini aku mau pergi ke tempat Michan. Aku sudah ada janji dengannya," ucapnya.
Janu terdiam. Cheryl belum tahu kabar tentang Michan. Ia sengaja mengurung istrinya di dalam kamar agar tidak teringat tentang apapun. Termyata, istrinya masih mengingat janjinya kepada Michan.
"Kondisimu masih seperti ini dan kamu mau tetap pergi? Lebih baik istirahat saja di kamar," pinta Janu.
"Tidak bisa, aku sudah menunda pertemuanku dengannya sejak kemarin. Hari ini aku harus bertemu dengannya. Dia punya sesuatu yang serius untuk dibicarakan."
Cheryl telah menyelesaikan makannya. Ia hendak beranjak dari ranjang dengan gerakan perlahan. Janu menahan tangannya.
"Aku akan mengantarmu," kata Janu."
__ADS_1