
Silvia merasa geram dengan kegagalan rencananya. Ia akhirnya melihat putranya sendiri menikah dengan putri keluarga Handoko karena keterpaksaan.
"Nyonya, semua ini ulah Tuan Muda Kenzo," ucap Black.
Silvia hanya bisa menghela napas panjang. Apa yang ia inginkan selalu bertentangan dengan kemauan putranya. Makanya ia tidak suka ketika Kenzo dekat dengan Janu. Putranya selalu berusaha melindungi adiknya.
"Mom, jangan ganggu adikku lagi. Kalau sampai aku dengar terjadi apa-apa dengan mereka, aku akan menghancurkan impian Mommy, termasuk dengan perusahaan," ucap Kenzo dengan nada lirih saat telah selesai menerima ucapan selamat dari para tamu.
Kenzo lantas masuk kembali ke dalam menemui Ariana yang masih tampak bersedih dengan kekacauan pernikahannya. Ia menggenggam tangan wanita itu dengan lembut.
"Aku tahu perbuatan adikku tidak bisa termaafkan. Dia sudah melukai perasaanmu. Tapi, aku harap kamu tetap mau memaafkannya," kata Kenzo.
"Salahku apa, Kak? Kenapa dia tega melakukan hal ini padaku?"
Ariana kembali menitihkan air mata. Ia tahu banyak yang membicarakan tentang pernikahan mereka yang tak sesuai rencana. Tak lama lagi akan ada banyak gosip tentangnya.
"Kamu tidak punya salah apa-apa. Janu yang salah. Kamu berhak mendapatkan pasangan yang lebih baik dari dia. Untuk sementara, bertahanlah dengan status pernikahan kita. Nanti kalau suasana sudah tenang, kamu boleh memutuskan bagaimana ke depannya."
***
Orang-orang suruhan Kenzo telah sigap mengalahkan orang-orang Silvia bahkan hampir tanpa perlawanan. Mereka tak berani membantah karena Kenzo adalah putra semata wayang Silvia. Cheryl mereka serahkan kepada anak buah Kenzo.
"Kita mau pergi kemana?" tanya Cheryl cemas.
"Nona tenang saja, kami adalah orang suruhan Tuan Kenzo. Nyonya akan diserahkan kepada Tuan Janu."
__ADS_1
Cheryl mengernyitkan dahi. Ia tak paham dengan apa yang orang itu sampaikan padanya. Ia rasa Janu tak akan datang karena tengah melangsungkan pernikahan dengan Ariana.
Mengingat hal itu lagi membuat hatinya merasa sedih. Kalau boleh jujur, ia tak rela membiarkan Janu melakukannya.
Di tengah hutan, mobil.yang membawa Cheryl berhenti.
"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Cheryl.
"Menunggu kedatangan Tuan Janu, Nyonya."
Cheryl hanya bisa menurut. Ia menyandarkan punggung pada kursi sembari melihat gelapnya kondisi sekeliling yang diterangi dari sorot lampu mobil yang menyala.
Tak berapa lama terlihat sebuah mobil datang. Mobil itu berhenti dan dua orang di dalamnya turun menghampiri mobilnya.
"Cheryl ... apa kamu baik-baik saja?" tanya Janu dengan panik.
"Kamu tidak ada yang terluka, kan?" tanya Janu sembari mengecek kondisi istrinya.
"Tidak, aku baik-baik saja. Tapi, Thor terluka parah sampai pingsan." jawab Cheryl.
"Kami sudah membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, Tuan," sahut salah satu orang suruhan Kenzo.
Cheryl memandangi pakaian yang suaminya kenakan. "Bagaimana dengan pernikahannya?" tanyanya.
"Kenapa malah itu yang kamu tanyakan?" Janu sangat mencemaskan kondisi Cheryl namun wanita itu malah masih mempertanyakan tentang pernikahan.
__ADS_1
"Tuan, Nyonya, kami diminta Tuan Kenzo untuk membawa Anda berdua ke tempat yang aman. Beliau sudah mempersiapkan tempat tinggal yang nyaman untuk kalian berdua."
Janu dan Cheryl saling bertatapan. Mereka tak tahu apa yang telah Kenzo rencanakan terhadap keduanya.
"Silakan masuk kembali ke dalam mobil, Tuan, Nyonya. Kita akan melewati perjalanan yang cukup panjang selama 7 jam."
Janu dan Cheryl masuk ke dalam mobil tersebut. Sementara, Finn mengendarai mobil milik Janu.
Selama di dalam mobil, Cheryl terus memeluk lengan Janu seakan tak mau lagi melepaskannya. Ia merasa lega setelah Janu mengatakan bahwa ia tak jadi menikah dengan Ariana.
"Lalu, kenapa kamu tidak mengatakan tentang kehamilanmu kepadaku?" protes Janu.
Cheryl cukup kaget karena ternyata Janu telah tahu. "Aku tidak mau menjadi bebanmu," katanya.
"Siapa yang menganggap kamu beban?"
"Aku sendiri yang merasa begitu. Kamu mengalami banyak kesulitan karena aku."
"Sayang, aku justru merasakan banyak kebahagiaan setelah bertemu denganmu. Bahkan aku sangat senang mendengar berita kehamilanmu. Aku hanya sedih karena aku bukan orang pertama yang tahu tentang itu."
"Aku hanya merasa keberadaanku dan bayi ini bisa menghambat rencanamu ke depannya. Termasuk dengan pernikahan itu."
"Tidak, itu tidak benar. Apa yang aku lakukan tujuannya hanya untuk kebahagiaan kita. Jika memang kamu tidak bahagia, lebih baik aku melepaskannya."
Keduanya saling bersandar dan berpelukan. Sementara, mobil yang membawa mereka terus melaju menembus kelamnya malam. Mereka tak tahu ujung perjalanannya dan kemana tujuan mereka.
__ADS_1
❤❤❤
Hai ... Kita hampir di bagian akhir cerita. Seperti janji author, setelah cerita tamat akan ada hadiah yang dibagikan kepada 3 pembaca yang beruntung. Terima kasih atas support kalian selama ini, jangan lupa follow author untuk mendapatkan update cerita-cerita lainnya yang tidak kalah menarik 😘