Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 54: Makan Atau Dimakan?


__ADS_3

"Ini bekal makanan yang kamu minta," ucap Cheryl sembari meletakkan bekal itu di atas meja Janu.


"Terima kasih. Aku memang sedang kelaparan."


"Memangnya tadi pagi kamu belum sempat sarapan di rumah?" tanya Cheryl heran.


"Sudah, tapi rasanya aku belum kenyang."


"Makanlah! Kamu harus kenyang agar bisa bekerja dengan baik," nasihat Cheryl.


"Itu benar. Makanya aku menyuruhmu datang ke sini, Sayang. Ini masalah serius, aku bisa mati kalau kamu tidak cepat datang."


Cheryl merasa Janu sudah melebih-lebihkan bicaranya. "Kalau begitu, aku akan pulang," pamitnya.


"Tunggu, Sayang. Aku kan masih lapar. Kemari!" Janu memberi kode dengan lirikan matanya.


Lelaki itu menyuruhnya mendekat. Cheryl menurut. "Apa aku juga yang harus menyuapimu?" tanyanya.

__ADS_1


Janu kembali menyunggingkan senyum. Ia menyangga dagunya sembari memandangi lekat sang istri. "Seperti itu boleh. Aku yang menyuapimu juga boleh," godanya. Ia sangat menikmati lucunya raut kebingungan sang istri karena dirinya.


"Ya sudah, sini aku suapi agar aku bisa cepat pulang!" kesal Cheryl.


"Bukan itu. Bukan makanan yg itu. Karena yang lapar ada di sini." Janu mengarahkan jari telunjuknya ke bawah.


Cheryl mengikuti arah yang Janu tunjuk. Beberapa detik kemudian, ia baru paham apa yang Janu maksudkan. "Orang sinting! Ini di kantor, Janu! Kamu gila apa?" omelnya.


Ia melihat sesuatu yang menonjol di balik celana Janu. Lelaki itu benar-benar gila memanggilnya ke kantor hanya untuk hal semacam itu.


"Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Di kantor aku terus memikirkanmu sampai tidak bisa berkonsentrasi dan jadinya begini."


"Di depan sudah ada bodyguard, kamun tidak bisa keluar sebelum aku mengijinkanmu keluar."


Cheryl sampai tercengang. "Jadi, aku sedang terperangkap di sini?"


Suaminya memang luar biasa. Sejak dari rumah menggunakan alibi mengantarkan bekal makanan, lelaki itu memang sengaja untuk menjebaknya di sana.

__ADS_1


Janu berjalan mendekat ke arah istrinya. Ia memberikan pelukan hangat sembari menciumi leher istrinya. "Kalau aku bilang terus terang, mana mungkin kamu mau datang, Sayang. Punyamu sangat enak saat dimasuki. Setiap kali aku mengingatnya, dia selalu berdiri. Kamu harus bertanggung jawab," bisiknya.


Otak Cheryl terasa sudah tercemar dengan kata-kata ca bul yang suaminya ucapkan. Ia bagaikan seekor kelinci yang berada dalam lilitan ular besar.


"Aku punya satu kamar di dalam. Kamu mau memakan punyaku di dalam atau di sini?" rayu Janu sembari menciumi ceruk leher istrinya.


"Aku mau pulang." Cheryl berusaha keras agar tidak terpengaruh oleh perbuatan lelaki itu.


"Tapi aku tidak mengijinkanmu pulang. Bagaimana kalau kita melakukannya di sini? Kamu bisa menjerit sekeras mungkin meminta tolong. Siapa tahu akan ada yang datang menolongmu."


Lelaki itu tahu jika dia tak mungkin bisa melakukannya. Membuatnya berteriak untuk menarik perhatian orang di luar sana adalah hal yang tidak masuk akal.


Cheryl terkekeh. "Apa tata kramamu sudah hilang sampai mementingkan hasrat se ksual seperti ini?"


"Benar, Sayang. Aku memang tidak punya tata krama dan menjadi gila karenamu. Lalu, apa yang mau kamu lakukan padaku?"


Di sela-sela keintiman yang mereka lakukan, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Sontak Cheryl mendorong kasar Janu menjauh darinya. Finn terlihat canggung ketika sampai di ambang pintu.

__ADS_1


"Kenapa kamu masuk, Finn," geram Janu.


__ADS_2