
Jam kerja telah selesai. Dinda sibuk mencari-cari informasi tentang Cheryl. Dia sangat penasaran kenapa wanita itu begitu berani padanya. Data yang ia dapatkan di bagian HRD sangat tidak lengkap. Memang benar, ada kejanggalan dengan berkas yang tidak lengkap itu Cheryl bisa masuk perusahaan. Meskipun lewat rekomendasi orang dalam, perlu kedudukan yang tinggi untuk bisa memasukkannya.
"Universitas XXX angkatan tahun 20XX?" gumamnya.
Ia mengetikkan sesuatu di keyboard komputernya. Muncul informasi tentang Cheryl Putri Alexander yang membuatnya terkejut. Tidak disangka wanita itu memang bukan wanita sembarangan.
Dinda mencari kembali informasi tentang keluarga pemilik Minata Persada yang beberapa bulan lalu sempat menggemparkan dengan berita pembantaian seluruh keluarga. Ternyata Cheryl putri dari keluarga itu. Di sana bahkan ada informasi tentang hubungan Cheryl dengan Arsen.
Tubuhnya melemas. Pantas saja Cheryl sama sekali tidak takut kepadanya. Wanita itu ternyata pacar direktur keuangan perusahaan. Justru dia yang harus berhati-hati jika berurusan dengannya.
Perasaan Dinda menjadi jengkel. Mengesalkan mengetahui ada seseorang yang lebih darinya. Ia tidak suka Cheryl lebih unggul darinya.
Ia memutuskan untuk mengakhiri pencarian jawaban atas rasa penasarannya. Dinda mulai mengemasi barang-barangnya dan bersiap pulang. Kondisi tempat kerja sudah terlihat sepi. Ia tidak sadar bekerja lembur sampai cukup larut malam.
Di area koridor kantor juga hampir tidak ada orang. Hanya terlihat satu dua orang saja yang mungkin sama dengannya bertahan di kantor karena lembur. Ia berjalan menuju basement untuk mengambil mobilnya.
"Bagaimana, apa malam ini kita bisa jalan berdua?"
"Em, boleh."
Dinda menghentikan langkah kakinya. Ia bersembunyi di belakang salah satu tiang yang ada di sana. Ia sangat terkejut melihat ada Pak Arsen di sana bersama seorang wanita.
Ia perlahan mengintip dari balik tiang, memastikan siapa wanita yang dilihatnya. Ternyata benar, wanita itu bukanlah Cheryl.
Tidak mungkin jika mereka hanya teman biasa. Sang wanita terlihat begitu biasa menggandeng lengan Pak Arsen dengan mesra.
"Siapa, ya? Apa salah satu karyawan di sini? Tapi, kenapa aku tidak pernah melihatnya?" gumam Dinda.
Sesaat kemudian muncul ide buruk di pikirannya. Ia menyeringai. Dinda mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan mengambil video kedua orang itu.
"Ini hadiah untukmu, Cheryl," ucap Dinda sembari tersenyum jahat.
__ADS_1
Tepat saat ia mengambil gambar, keduanya tampak berpelukan. Mereka juga tak segan saling berciuman di tempat umum yang bisa saja ada orang lain yang melihat.
"Kasihan sekali Cheryl. Dia ingin membanggakan punya pacar dengan jabatan tinggi tapi dibelakang main wanita lain."
***
"Thor, kamu cukup mengantarku sampai di sini. Aku mau pacaran!" perintah Cheryl setelah anak buah Janu itu mengantarnya ke sebuah pusat perbelanjaan.
"Maaf, Nyonya. Anda dilarang berhubungan dengan lelaki lain selama Tuan pergi." Thor tidak mau menuruti kemauan Cheryl.
"Hahaha ... Bukankah kamu juga lelaki lain? Apa perlu aku laporkan kalau aku jalan denganmu? Mau aku cium, sini!"
Cheryl menakut- nakuti Thor. Ia maju dan membuat Thor perlahan mundur.
"Nyonya, Anda tidak boleh seperti ini. Saya hanya menjalankan tugas." lelaki itu tampak salah tingkah dengan kegilaan Cheryl.
"Aku ini wanita agresif. Kalau berkelahi denganmu, sudah pasti akan kalah. Menciummu aku rasa cara termuda membuatmu dipukuli Janu sampai mati."
"Nyonya ...."
"Nyonya ...."
"Aku akan pulang sebelum malam, aku janji!"
Thor akhirnya mengalah. Ia memilih pergi meninggalkan Cheryl sendiri.
Tak lama setelah kepergian Thor, Arsen datang. "Kamu diantar untuk pacaran denganku?" tanya Arsen. Ia sempat melihat sopir yang mengantarkan kekasihnya.
"Ya ... Aku diantar untuk pacaran. Hahaha ...."
Arsen menggandeng tangan Cheryl. Dengan mesra mereka berjalan berdua memasuki kawasan pusat perbelanjaan itu.
__ADS_1
Tujuan pertama mereka menonton film di bioskop. Sepanjang film diputar, mereka saling bermesraan. Arsen menyandarkan kepalanya pada bahu pendek Cheryl.
"Apa lehermu tidak pegal?" tanya Cheryl.
"Ini karena kamu yang tidak mau bersandar padaku, jadi biar aku yang bersandar padamu," jawabnya.
Mendengar hal itu, Cheryl merubah posisi. Ia yang menyandarkan diri pada bahu Arsen. Namun, lelaki itu meraih kepalanya agar bersandar di dada.
"Aku jadi ingat masa-masa pacaran kita dulu," ucap Arsen.
Usai film selesai diputar, mereka makan direstoran. Seolah keduanya sedang bernostalgia mengenang masa-masa indah yang dulu.
Seperti biasa, Arsen selalu memperlakukan Cheryl dengan manis. Lelaki itu selalu tampak baik di hadapannya.
"Jadi, bagaimana? Apa kamu sudah menemukannya?" tanya Arsen tiba-tiba.
"Belum. Aku sudah berusaha mencarinya dimana-mana. Tapi, aku belum berhasil menemukannya."
Selama Janu pergi, Cheryl sibuk menjelajahi seisi rumah untuk mencari surat-surat kepemilikan aset ayahnya. Ia sama sekali tidak tahu dimana Janu menyembunyikannya.
Seluruh sudut ruang kerja sudah ia jelajahi namun hasilnya nihil. Bahkan dengan berani ia beberapa memasuki kamar Janu untuk mencari benda itu dan belum ketemu.
"Oke, kamu tidak perlu terburu-buru. Mumpung lelaki itu tidak ada, manfaatkan waktu sebaik mungkin." Arsen menepuk lembut puncak kepala Cheryl. Ia tidak ingin terlalu menekan Cheryl. Meskipun sebenarnya ia sudah sangat ingin membawa wanita itu kabur bersamanya.
Sebenarnya Cheryl selalu terpuruk saat Arsen menanyakan hal itu. Ia sudah sangat lelah mencarinya. Sementara, ia sudah tidak sabar untuk meraih kebebasannya.
***
❤❤❤ PROMOSI ❤❤❤
__ADS_1