
Janu meyakinkan bahwa kondisi kejiwaan Cheryl sudah stabil. Seharian ini ia hanya menemani istrinya yang terus bersedih atas kematian Michan.
"Kamu siap mendengarkan ini?" tanya Janu.
Cheryl mengangguk. Ia ingin tahu apa yang terjadi pada Michan sampai ada berita mengagetkan seperti itu.
"Michan meninggal karena dibunuh, di basement tempat parkirnya," kata Janu.
"Siapa yang membunuhnya?"
"Belum ada yang tahu, termasuk pihak kepolisian. Semua CCTV yang mengarah ke TKP sengaja dirusak. Tapi, tidak ada barang Michan yang mereka curi, kecuali ponselnya yang hilang. Kalau mereka memang berniat merampok, seharusnya mengambil mobil atau uang cash yang cukup banyak di dompet Michan. Mereka hanya membawa ponselnya saja. Apa kamu tahu sesuatu?" Janu berbicara dengan nada yang lembut demi mengorek informasi dari Cheryl.
Cheryl berusaha mengingat-ingat kembali percakapannya dengan Michan. "Dia memang sempat mengatakan ada yang mengikutinya beberapa hari terakhir. Aku tidak percaya kalau akhirnya mereka berbuat seperti itu pada Michan." ia menangkupkan tangannya ke wajah. Seraya menghela napas panjang.
Janu mengingat kembali bahwa Thor juga mengatakan telah menyuruh orang untuk mengawasi Michan. Namun, mereka kecolongan sehingga tidak mengetahui siapa pembunuhnya.
"Apa dia punya masalah dengan seseorang?" telisik Janu.
Cheryl menggeleng. "Dia tipe orang yang friendly, gampang disukai dimana saja. Dia juga lebih suka mengalah. Jadi, sepertinya ia tidak punya masalah dengan orang dekat."
"Pasti ada sesuatu kan, di ponselnya sampai membuat Michan harus dibunuh?"
Cheryl seperti teringat sesuatu. "Dia bilang menemukan ponsel orang yang foto-fotonya mengerikan! Katanya kemungkinan pemiliknya adalah sang pembunuh!"
Cheryl yakin orang itu pasti pelakunya.
"Apa dia tahu wajah pelakunya?" tanya Janu penasaran.
Cheryl mengangguk. "Michan sempat memotret mereka."
"Apa fotonya ada di ponsel yang dicuri?"
"Tidak. Waktu itu aku meminta foto pelakunya tapi dia bilang ada di ponsel satunya. Dia punya dua ponsel."
Janu berkesimpulan bahwa Michan menjadi incaran karena telah mengetahui sebuah rahasia besar.
"Michan bilang kemungkinan mereka yang telah membunuh kedua orang tuaku," kata Cheryl. Ia kembali bersedih mengingat Michan pernah berjanji akan membantunya menangkap pembunuh kedua orang tuanya.
"Ah, iya. Michan bilang dia menemukan dokumen aneh tentang Pat Atmajaya Sentosa di kantor. Dia sudah menyembunyikannya di suatu tempat. Seharusnya hari ini dia memperlihatkannya padaku."
Janu tertegun mendengarnya. Ternyata wanita menjengkelkan yang tampak seperti anak manja di hadapannya itu tahu lebih banyak dari pada dirinya. Pantas saja Michan menjadi incaran karena ada rahasia besar yang diketahuinya.
__ADS_1
"Ikut aku!" pinta Janu.
Ia menggandeng tangan Cheryl agar ikut dengannya ke ruang kerja. Ia menekan sebuah tombol yang tertutup buku sehingga sebuah ruang rahasia terbuka.
Cheryl tertegun melihat ruangan itu. Saat dia mengobrak-abrik seisi ruang kerja Janu, ia tak tahu jika ada ruangan lain di sana.
"Finn, tampilkan rekaman CCTV kantor dua hari terakhir!" perintah Janu.
Ia menarik Cheryl agar duduk di pangkuannya. Cheryl sampai membulatkan mata, lelaki itu tak ada risih-risihnya bertingkah seperti itu di hadapan Finn. Ia hendak duduk sendiri, namun Janu menahannya agar tetap diam di pangkuannya.
Rekaman CCTV mulai ditampilkan. Hari itu masih berjalan seperti biasa. Michan tampak sehat dan ceria seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda yang aneh. Finn mempercepat rekaman berusaha mencari hal-hal yang janggal.
"Tuan, rekaman di kamera CCTV sebelah sini sepertinya rusak."
Finn mendapati beberapa kamera di beberapa sudut kantor rusak. Aktivitas yang dilakukan Michan saat itu tak bisa dilihat.
"Ah, itu pakaian Michan kelihatannya beda!" seru Cheryl.
Mereka memperhatikan kembali rekaman yang Cheryl maksud dan dibandingkan dengan rekaman sebelum Michan masuk gudang.
"Sepertinya memang kejadiannya di gudang," kata Janu.
"Ya, lakukanlah dengan baik, Finn."
Janu mengarahkan pandangannya kepada Cheryl.
"Kenapa?" tanya Cheryl karena Janu memandangnya dengan aneh.
"Bisa minta bantuanmu, Sayang?"
"Bantuan apa?"
"Kamu pasti tahu kode akses apartemen Michan, kan?" tanya Janu memastikan.
"Ya, tentu saja." Cheryl masih tak bisa menebak apa yang ada di pikiran Janu.
"Malam ini, kita masuk ke sana."
Cheryl tercengang. Janu sedang membujuknya untuk melakukan suatu tindakan melanggar hukum. "Aku tidak berani. Kita bisa ditangkap polisi," tolak Cheryl.
"Itu kalau tertangkap, makanya jangan sampai tertangkap," ujar Janu.
__ADS_1
"Kita harus minta ijin ke pihak keluarga Michan," ucap Cheryl dengan polosnya.
"Tidak ada maling yang meminta ijin pada pemilik rumah, Sayang. Kita harus melakukannya secara diam-diam."
Cheryl tidak berani melakukannya. Meskipun tahu kode akses apartemen Michan, ia tak pernah berani seenaknya masuk ke apartemen teman baiknya itu.
"Kamu jangan khawatir, Thor ada di sana akan membantu mengamankan CCTV dan sekeliling. Aku hanya perlu bantuanmu untuk membuka pintu. Kalaupun kamu tidak mau, aku bisa merusak pintunya sendiri. Tapi, mungkin aku akan jadi buronan polisi karena merusak fasilitas orang."
Cheryl masih menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu tidak ingin menangkap orang yang telah membunuh Michan? Ponsel dan dokumen itu mungkin ada di sana. Kita harus cepat bergerak sebelum polisi mengembangkan kasusnya."
Setelah berpikir beberapa saat, Cheryl menyetujuinya. Malam itu, ia dan Janu langsung berangkat menuju apartemen Michan. Finn dan Thor melakukan tugas mereka masing-masing.
Thor memberikan kode saat mereka bertemu di area parkiran. Kode yang diberikan petanda kondisi aman dan CCTV akan segera dinonaktifkan selama 30 menit setelah mereka datang. Tak lupa mereka mengenakan sarung tangan dan masker agar tidak ada yang mengenali.
Janu menggenggam erat tangan Cheryl. "Jangan takut, ya!" pintanya.
Cheryl hanya mengangguk.
Setibanya di depan apartemen Michan, mereka melihat kondisi sekeliling sebelum Cheryl menekan tombol angka untuk masuk ke apartemen. Dengan mudah.
Lampu dinyalakan. Kondisi apartemen Michan masih tertata rapi seperti biasa.
"Kita berpencar untuk mencarinya. Waktu kita hanya 30 menit. Kalau bisa, cari di tempat yang biasa Michan gunakan sebagai tempat penyimpanan," kata Janu.
Cheryl mengangguk setuju. Mereka berpencar menyisir seisi apartemen utuk menemukan apa saja yang bisa dijadikan petunjuk.
Cheryl masuk ke kamar Michan. Di atas meja terdapat pigura yang memajang foto-foto mereka sejak jaman kuliah dulu. Ia jadi terharu. Dalam hati ia bertekad akan menemukan orang yang telah membunuh teman baiknya. Mereka harus mempertanggungjawabkannya.
Ia menyisir tumpukan buku-buku, siapa tahu bisa menemukan berkas yang Janu maksud. Namun, sepertinya hal itu tidak ditemukan.
"Sayang, apa ini ponsel milik Michan?" tanya Janu yang menghampiri Cheryl di kamar.
Janu memperlihatkan ponsel itu. "Ah, iya, benar," kata Cheryl.
"Tapi, ponselnya memakai kata sandi." Janu tak bisa membukannya.
Cheryl mengambil ponsel itu dan memasukkan nomor kodenya. Berhasil terbuka. Ternyata Michan menggunakan kode yang sama dengan kode pintu apartemen.
Ia membuka galeri foto Michan. Ditemukannya sebuah video yang merekam dengan jelas siapa pelakunya.
__ADS_1