
"Kenapa pulang? Batal kabur bareng pacar?"
Janu melontarkan sindirannya saat Cheryl baru memasuki ruang tengah. Terlihat jelas kemurungan di wajah wanita itu. Ia kira istrinya benar-benar tidak akan pulang setelah menemui pacarnya. Ternyata tebakannya salah.
"Dia tidak mau dengan wanita miskin, kan?" ledek Janu. Ia sangat puas membuat wanita itu bertambah kesal. "Kamu memang bukan siapa-siapa tanpa harta keluargamu. Hahaha ...."
"Hiks ... Hiks ... Hiks ...." Cheryl bersimpuh di lantai bersandar pada sofa sembari menangis sesenggukan. Hari ini ia merasa lelah dan kecewa. Semua rencana dan keinginannya tidak berjalan dengan baik.
Janu berhenti tertawa saat mendengar suara isak tangis Cheryl. "Jangan bilang kamu menangis gara-gara aku ledek sedikit ...."
"Hua .... Memangnya kenapa kalau aku hidup dengan harta orang tuaku? Apa itu merugikanmu? Kamu mau terus menyiksaku sampai aku mati, kan? Huhuhu ...." wanita itu menangis seperti anak kecil.
Janu kebingungan menghadapi wanita cengeng dan kekanakkan itu. "Biasanya juga tidak apa-apa kan kalau aku bicara?"
"Hiks ... Hiks ... Sekarang aku tidak punya apa-apa lagi. Kamu sudah merampas semuanya. Huhuhu ...."
"Siapa yang merampas darimu? Kamu masih bisa memilikinya asalkan tetap menjadi istriku." Janu berjongkok agar posisinya sejajar dengan Cheryl.
"Aku tidak mau menjadi istrimu!" bentak Cheryl.
"Ya, mau bagaimana lagi? Semua telah beralih atas namaku. Kalau kamu tidak berkenan, keluar saja dari rumah ini. Kamu bisa meminta pacarmu untuk menghidupimu."
Cheryl kembali sesenggukkan mendengar perkataan Janu. Seperti tebakan lelaki itu, pacarnya tidak mau mengikuti kemauannya untuk melarikan diri. Arsen meminta dirinya merebut kembali harta orang tuanya.
"Sudah aku bilang, cinta tidak ada harganya kalau disandingkan dengan uang. Tidak ada manusia dengan niat murni di dunia ini."
Cheryl mulai menghapus air matanya. Kalau bisa jujur, saat ini ia sangat malu untuk kembali lagi ke rumah itu. Ia seperti menelan ludah sendiri. Janu juga puas untuk mengolok-oloknya.
"Apa kamu bisa memberikanku pekerjaan? Aku lulusan jurusan administrasi bisnis. Mungkin kamu bisa menempatkanku di salah satu posisi di perusahaan Papa," kata Cheryl dengan nada lemah.
__ADS_1
"Untuk apa kamu bekerja? Aku tahu kamu tipe anak Papa yang tidak bisa apa-apa. Kamu tidak perlu mempersulit diri, cukup menurut padaku dan kebutuhanmu akan tercukupi."
Cheryl menggeleng. "Papaku sudah meninggal. Aku mau belajar menghasilkan uang sendiri supaya bisa cepat bisa kabur darimu!" tegasnya.
Janu terkekeh. Ia tidak menyangka jawaban itu akan terlontar dari mulut istrinya. "Kamu memang sangat lucu. Padahal, bekerja tak semenyenangkan yang kamu kira. Apa kamu akan kuat?" ia sedikit ragu dengannya.
"Jangan meremehkanku. Dulu memang aku malas bekerja karena orang tuaku kaya. Kalau masalah kerja, aku orang yang penuh tanggung jawab!" Cheryl berkata dengan penuh percaya diri.
Janu terdiam sejenak. Ia memikirkan pekerjaan yang sekiranya cocok untuk istrinya. "Ah, aku tahu. Bagaimana kalau kamu aku tempatkan di PT Atmajaya Sentosa?" tanyanya.
"Perusahaan besar itu? Dulu milik keluargamu, kan?" Cheryl agak kaget mendengarnya.
Janu mengangguk. "Kamu jangan khawatir. Meskipun perusahaan itu telah menjadi milik orang lain, aku punya cara memasukkanmu ke sana. Kamu pasti akan senang satu kantor dengan pacarmu, kan?" sindir Janu.
"Aku suka sekali membahagiakan istriku. Termasuk mendekatkan dengan pacarnya. Apa aku suami idaman?"
Janu serasa berada di atas awan. Cheryl memendam kekesalan yang besar kepadanya.
Janu memandang ke arah Cheryl. "Mau makan bareng? Kamu perlu tenaga kan, untuk melawanku?"
"Oh, tentu saja! Aku tidak akan sungkan lagi menunjukkan perlawananku secara frontal padamu!"
Cheryl bangkit dari duduknya. Ia lebih dulu pergi ke ruang makan meninggalkan Janu.
***
"Tuan, apa Anda yakin ingin menempatkan Nyonya di sana?" tanya Finn memastikan. Ia terkejut begitu mendengar keinginan Janu agar Cheryl bisa bekerja di Atmajaya Sentosa.
Berkat bantuan dari Pak Handoko, Janu akhirnya memiliki celah untuk menyusup masuk pada perusahaan lama ayahnya. Ia yakin salah satu petinggi di sana berkaitan dengan pembunuhan keluarganya.
__ADS_1
"Aku tidak yakin," kata Janu.
Finn jadi bingung mengapa atasannya ingin istrinya masuk ke perusahaan itu tapi dia sendiri tidak yakin.
"Tapi, kita lihat saja nanti. Dia orang yang sulit ditebak. Biarkan dia mengalami sedikit kesulitan dengan kehidupan luar."
"Tapi ... Nyonya pasti masih menjadi target pembunuhan." Finn ketar-ketir dengan keputusan tuannya.
Janu menyunggingkan senyum. "Itu tugasmu untuk melindunginya, Finn. Lakukan sebaik mungkin agar keamanannya terjamin. Tapi, jangan sampai mencolok memberikan pengamanan padanya. Aku rasa ia juga tidak akan nyaman kalau diberikan pengawal secara terang-terangan."
"Baik, Tuan."
"Lagi pula, orang-orang di sana tidak terlalu mengenalnya. Aku rasa tidak akan jadi masalah." Janu yakin rencananya kali ini akan berjalan lancar.
"Di sana ada kekasih Nyonya." Finn merasa risih untuk mengatakannya.
"Aku juga sudah tahu. Aku tidak masalah dengan hal itu. Bahkan sepertinya dia akan lebih bisa menjaga istriku di sana."
Finn terperangah mendengar perkataan bosnya. Baru kali ini ada suami yang tidak cemburu jika istrinya dekat dengan lelaki lain.
***
❤❤❤ PROMOSI ❤❤❤
Hai, semua ... Terima kasih sudah membaca karyaku. Jangan lupa mampir dan support karya author ini. Dukungan kalian sangat berharga bagi kami para author 😘
Judul: Chasing My Eife's Lost Love
Author: Chaca Shyla
__ADS_1