Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 41: Informasi Michan


__ADS_3

"Ril, aku beneran ngrasa takut deh."


Cheryl sedikit terkejut mendengar perkataan Michan dari seberang telepon. Ia yang tengah mengambil kopi dari pantry langsung membawa gelas kopinya masuk kembali ke ruang kerja dan duduk di kursinya.


"Takut kenapa?" tanyanya penasaran.


"Sejak kemarin aku merasa ada orang yang membuntutiku."


"Memangnya kamu sudah ngapain sampai bisa dibuntuti orang?" Cheryl semakin penasaran. Ia menyeruput kopi yang baru diambil dari pantry.


"Serem banget, Ril ... Aku nemuin ponsel orang di dalamnya ada foto mayat. Kayaknya gara-gara itu deh!"


Cheryl terkejut mendengarnya. Apa yang Michan katakan sepertinya mengerikan. "Kok bisa, sih?" tanyanya.


"Aku kan sudah bilang sejak kemarin mau ketemu kamu. Susah kalau dijelaskan lewat telepon."


"Memangnya tentang apa? Itu ada kaitannya denganku?" selidik Cheryl.


"Sebenarnya dua hari yang lalu aku nggak sengaja mendengar percakapan dua orang aneh yang masuk ke gudang kantorku."


"Sebentar, sebentar ...," cegah Cheryl.


Cerita Michan. Sepertinya cukup rahasia. Michan melirik ke sekeliling, masih ada rekan kerja lain yang memilih istirahat sore di dalam ruangan. Ia memilih pergi dari sana menuju toilet yang dianggapnya lebih aman.


"Oke, coba kamu lanjutkan. Aku baru pindah tempat takut ada yang dengar," kata Cheryl.


"Mereka membahas tentang kematian keluargamu, Ril. Makanya aku ingin bertemu denganmu dan mengatakannya langsung."


Cheryl jadi tahu alasan Cheryl kemarin meminta bertemu. "Terus, bagaimana? Apa kata orang itu?"

__ADS_1


"Entahlah, aku juga kurang begitu paham. Pokoknya aku sempat merekam wajah mereka, siapa tahu nanti kamu mengenalnya."


"Coba kirimkan rekamannya!" pinta Cheryl. Ia juga penasaran dengan wajah orang yang telah tega membunuh keluarganya.


"Ada di ponselku yang satunya, Ril. Ada di apartemen tidak aku bawa. Nanti kalau pulang aku kirimkan padamu."


Cheryl semakin tidak sabar untuk mengetahui siapa pelakunya. Kemungkinan memang bukan Janu yang melakukannya.


"Oh, iya. Orang-orang itu sempat menyebut nama Yohan. Apa kamu mengenalnya?"


"Yohan?" Cheryl mengerutkan dahi. Sepertinya ia tidak asing dengan nama itu. Ia pernah mengetahui namanya, namun ia lupa siapa Yohan itu.


"Mereka bilang orang yang bernama Yohan ingin mengambil alih perusahaan milik ayahmu. Itu alasan Yohan membunuh keluargamu, Ril."


"Apa mungkin Yohan itu nama samaran?" tebak Cheryl. Mungkin saja itu sebutan lain dari Janu, meskipun dia juga sangat meragukannya. Ia merasa tak ada masalah dengan bisnis yang ayahnya jalankan.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Oh, iya! Aku juga menemukan berkas-berkas yang berkaitan dengan PT Atmajaya Sentosa di dalam gudang perusahaan. Aneh, kan?"


Isi otak Cheryl semakin rumit. Semua petunjuk sangat membingungkannya. " Tapi, mungkin itu ayahku yang membawanya ke sana. Soalnya dulu ayahku bersahabat baik dengan pemilik perusahaan itu dan sempat memiliki bagian di sana."


"Oh, begitu, ya ... Aku baru tahu kalau ayahmu punya kaitan dengan PT Atmajaya Sentosa."


"Apa kamu masih menyimpannya? Aku mau lihat."


"Iya, masih aku simpan di tempat yang aman. Besok kalau kita ketemu akan aku berikan kepadamu," kata Michan.


"Ya sudah, aku mau lanjut kerja dulu, ya! Sampai bertemu besok," ucap Cheryl mengakhiri teleponnya.


Ia keluar dari toilet dan kembali ke meja kerjanya. Meskipun banyak pertanyaan berputar di otaknya, ia harus tetap bisa fokus bekerja menyelesaikan pekerjaan kantornya.

__ADS_1


"Dari mana?" tanya Vina melongok ke arah Cheryl.


"Dari toilet," jawab Cheryl."


"Kamu mau nggak?" Vina menyodorkan kotak pizza yang menyisakan 3 irisan pizza.


"Wah, kamu beli ini tadi?" Cheryl mengambil satu iris pizza tersebut.


"Ya, otakku tidak bisa jalan kalau tidak ditunjang dengan asupan makanan," seloroh Vina.


Setelah menghabiskan pizza itu, Cheryl kembali bekerja hingga waktu jam pulang tiba. Untung saja hari ini tidak ada acara lembur seperti sebelumnya.


***


Cheryl tengah bercermin di kamar hotelnya. Ia memandangi penampilannya yang dirasa sudah cukup cantik untuk bertemu Arsen. Malam ini ia akan meninggalkan hotel itu menuju apartemen milik Arsen.


"Hari ini Arsen sudah pulang kan, dari luar kota," gumamnya bahagia.


Rencananya berjalan sangat mulus. Ia tidak sabar bertemu Arsen dan memberikan kabar gembira bahwa iantelah menemukan semua surat-surat itu. Untung saja Janu tidak ada sehingga tidak ada pihak yang menghalanginya. Ia benar-benar akan meninggalkan Janu dan hidup bahagia bersama Arsen.


"Saya mau check out dari hotel," ucap Cheryl saat menjumpai resepsionis di lobi hotel. Ia mengembalikan kartu akses kamar hotel yang sebelumnya ia dapatkan.


"Oh, atas nama Nyonya Cheryl Putri Alexander? Taksi yang Anda pesan juga sudah siap di depanm terima kasih atas kunjungannya di hotel kami," ucap sang resepsionis dengan ramah.


Cheryl menarik kopernya menuju ke arah luar hotel.


"Pak, antar saya ke tower apartemen XXX di jalan XXX," ucapnya ketika masuk ke dalam taksi yang telah dipesannya.


"Baik, Nona."

__ADS_1


***


__ADS_2