Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 6: Tidak Bisa Lari


__ADS_3

"Orang tuamu meninggal sekitar tiga bulan yang lalu, Cheryl. Itu bertepatan dengan hari hilangnya dirimu. Aku yakin orang yang mengaku sebagai suamimu sekarang adalah orang jahat!"


Arsen cukup geram mendengar cerita dari pihak Cheryl. Ia tidak menyangka wanita itu telah mengalami kejadian buruk hingga hilang ingatan. Pantas saja Cheryl seperti orang yang kebingungan.


Sementara, Cheryl semakin merasa jika ada yang Janu sembunyikan. Lelaki itu mengatakan jika kedua orang tuanya sudah lama meninggal dan mereka juga sudah lama bertunangan sampai akhirnya memutuskan untuk menikah. Cerita yang Janu sampaikan sangat berbeda dengan versi Arsen.


"Siapa sebenarnya orang yang menyembunyikanmu selama ini, Cheryl."


Dia lebih mempercayai Arsen yang jelas-jelas memiliki banyak dokumentasi tentang kebersamaan mereka. Sementara, Janu tidak memiliki foto-foto kemesraan mereka dengan alasan sudah dihapus karena marahan.


"Kalau kita sudah lama pacaran, sampai tujuh tahun lebih ... Kenapa kita tidak menikah?" tanya Cheryl.


"Kamu tahu sendiri, kan!" Arsen menjeda perkataannya. Ia lupa kalau Cheryl amnesia. "Itu karena ayahmu belum merestui hubungan kita," lanjutnya seraya menghela napas. Mengingat hal itu terkadang membuatnya merasa sesak. Selama ini ia terus berusaha untuk memantaskan diri agar bisa diterima oleh ayah Cheryl yang tidak menyetujui hubungan mereka.


"Cheryl," Arsen meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya. "Pergilah bersamaku. Aku takut orang itu akan menyakitimu," katanya dengan ekspresi wajah yang cemas.


Cheryl belum sepenuhnya bisa mempercayai lelaki yang baru ia temui hari ini. Rasanya ia lebih baik pergi sendiri daripada mengikuti dua orang lelaki yang belum tentu jujur.


"Seandainya saja kamu tahu, aku sangat ketakutan saat mengetahui berita pembunuhan keluargamu. Baik orang tuamu dan seluruh pelayan di sana dibunuh dengan sadis. Aku kira kamu menjadi salah satu korban mereka. Bersyukur kamu masih diberi keselamatan." Arsen menciumi tangan Cheryl dengan lembut.


"Cheryl!"


Keduanya terkejut saat mendengar suara seruan itu. Tampak di hadapan mereka ada Janu bersama belasan anak buahnya telah berkerumun di sana. Wajah Janu terlihat kesal dan tatapannya tajam mengarah pada Cheryl.


"Ikut denganku! Kita pulang sekarang!" tegasnya.


Arsen tidak terima melihat kehadiran lelaki itu. Ia memegang erat tangan Cheryl dan membawanya mendekat ke arah Janu.


"Jadi kamu orang yang menyembunyikan Cheryl selama ini?" bentak Arsen.


Bugh!


Tanpa kata-kata, Janu langsung melayangkan pukulan ke arah Arsen hingga lelaki itu jatuh dan melepaskan genggaman tangan Cheryl.


Cheryl menutup mulut saking terkejut melihat apa yang Janu lakukan pada Arsen.

__ADS_1


"Ayo, Pulang!" paksa Janu seraya menarik tangan Cheryl.


"Apa-apaan kamu! Aku tidak mau!" Cheryl berusaha melawan. Namun, sia-sia saja tenaganya tidak ada artinya.


"Lepaskan Cheryl! Berani-beraninya kamu menipunya!"


Arsen hendak bangkit mengejar Cheryl yang dibawa oleh Janu. Namun, para pengawal itu menghalanginya. Merasa kalah jumlah, Arsen merasa tidak bisa menyelamatkan Cheryl kali ini.


"Lepas! Tanganku sakit!" keluh Cheryl.


Sepanjang orang-orang memperhatikan mereka. Janu sepertinya tidak peduli. Ia terus menarik tangan Cheryl, memaksa wanita itu berjalan terseok-seok mengimbangi langkah lebarnya.


Sesampainya di mobil, ia langsung mendorong Cheryl masuk dan dia mengikutinya. "Kunci pintunya!" perintah Janu pada sang sopir pribadi.


"Sebenarnya kamu siapa? Kenapa berbuat seperti ini kepadaku?" gerutu Cheryl.


Janu mengarahkan tatapan dinginnya. Ia sudah cukup kesal menerima laporan dari Thor bahwa wanita itu telah menghilang. Padahal, urusan bisnisnya masih banyak dan di harus dipusingkan dengan hilangnya wanita itu. Ditambah lagi ternyata Cheryl telah bertemu dengan mantan pacarnya.


"Aku suamimu, apa kamu lupa?" tegas Janu.


"Hah! Suami? Yang benar saja ... Apakah hubungan kita pernah seperti sepasang suami istri?"


Ia mendekat ke arah Cheryl, membuat wanita itu merasa tersudut. Dengan kedua tangannya, ia mengungkung tubuh Cheryl.


"Apa kamu sedang menantangku untuk melakukan hubungan suami istri? Apa kamu mengharapkannya?" tanyanya dengan senyum seringai.


Plak!


Cheryl melayangkan satu tamparan di pipi Janu. Ia melotot mendengar kata-kata yang tidak pantas dari lelaki itu. "Gila kamu!" bentaknya.


"Sepertinya jiwamu memang wanita yang kasar. Benar-benar tidak bisa dilatih untuk bersikap lembut rupanya." tamparan yang Cheryl berikan tidak ada apa-apanya baginya. Namun, harga dirinya terasa dilukai oleh wanita itu.


"Apa yang sebenarnya kamu mau dariku? Aku sudah mendengar semuanya dari Arsen!" Cheryl memberikan tatapan tajam.


Janu kembali menyeringai. "Apa kamu lebih percaya dengan mantan pacarmu itu? Ayahmu saja lebih percaya padaku daripada dia. Makanya hubungan kalian tidak pernah mendapatkan lampu hijau."

__ADS_1


"Setidaknya dia tidak memberikan kebohongan murahan sepertimu!" bantah Cheryl.


Janu tampak menghela napas. "Istri sebaiknya lebih mempercayai suaminya sendiri dari pada orang lain. Hanya wanita murahan yang masih menemui mantan pacarnya setelah menikah seperti dirimu."


"Hah! Apakah pernikahan ini bisa dianggap sah? Ingatanku masih belum kembali dan aku ragu kalau pernikahan ini bisa diakui. Kamu banyak bohongnya."


"Mulut kecil yang banyak bicara memang sebaiknya dibungkam saja."


Secara mendadak Janu memagut bibirnya. Cheryl yang terkejut berusaha mendorong lelaki itu. Sempitnya ruang di mobil dan tenaga Janu membuatnya susah memberikan perlawanan.


Janu benar-benar gila sekaligus tak tahu malu. Meskipun ada sopir di depan yang sedang mengemudikan mobil, ia terus melahap bibir mungil itu dengan agresif. Tak cukup ciuman biasa, tetapi ciuman yang mendalam hingga napas mereka terdengar tersengal-sengal.


Bahkan tanpa sadar Cheryl terhanyut dan membuka diri menerima ciuman itu. Di saat yang bersamaan, Janu menghentikan ciumannya.


"Seperti yang aku duga, kamu memang wanita gampangan," ejek Janu seraya duduk kembali ke posisinya semula.


Cheryl tertunduk. Ia malu sendiri sempat menikmati kegiatan mereka. Harga dirinya terasa direndahkan denhan ucapan Janu barusan.


"Kamu tidak terlihat mencintaiku. Kenapa kamu menikahiku?" tanyanya.


"Ini keinginan ayahmu." Janu memalingkan pandangan ke arah jendela.


"Ayahku sudah meninggal. Kamu tidak perlu melakukan apa yang tidak kamu sukai demi orang yang sudah meninggal."


"Hahaha ... Sepertinya kamu justru senang dengan kematian orang tuamu. Apalagi barusan bertemu pacarmu. Sungguh kesempatan bagus untuk bersama dengannya tanpa halangan dari ayahmu. Apa begitu yang ada di dalam otakmu?"


Lagi-lagi Janu menyindirnya.


"Ini hidupku! Terserah padaku mau melakukan apapun sesukaku. Jangan manfaatkan ketidaktahuanku untuk kepentinganmu!"


"Hah! Seharusnya kamu bersyukur ada orang yang peduli kepadamu. Kamu pikir pacarmu benar-benar peduli padamu?"


"Tentu saja! Kalau dia tidak peduli, mana mungkin tujuh tahun sanggup bertahan dalam hubungan denganku."


Janu hanya bisa tersenyum dengan kepolosan wanita itu. Meskipun usia mereka sama, namun tingkat kedewasaan keduanya benar-benar jauh berbeda.

__ADS_1


"Mulai sekarang, jangan biarkan dia keluar dari rumah ini!"


 


__ADS_2