Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 17: Pergilah Kalau Bisa


__ADS_3

"Kamu masih ingat wanita yang bersamaku di restoran waktu itu?" tanya Janu.


"Ya, dia selingkuhanmu, kan?" Cheryl merapikan perban di lengan Janu. Ia tidak bisa melupakan momen yang menyebalkan itu. Bahkan ia hampir mati untuk kedua kalinya.


"Aku dijodohkan dengannya agar Silvia punya alasan untuk kembali ke negara ini."


"Jadi, kamu akan menurutinya?" Cheryl menata kembali perlengkapan yang telah selesai ia gunakan ke dalam wadahnya.


"Itu tergantung padamu."


Cheryl menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa jadi tergantung padaku?" tanyanya heran.


"Mungkin kalau aku bilang sudah punya istri, dia akan menyerah untuk menjodohkanku. Sayangnya, kamu terus meminta cerai dariku," sindir Janu.


"Ah, tentu saja. Aku tetap ingin bercerai darimu. Aku sudah punya calon suami!"


"Memang seberapa yakin kamu padanya?"


"Seribu persen tentunya!" jawab Cheryl mantap.


"Pergilah! Menikahlah dengannya, tapi jangan bawa apa-apa dari sini. Aku ingin lihat apa dia akan menerimamu tanpa harta ayahmu," tantang Janu.


"Oh, tentu saja dia akan menerimaku." Cheryl sangat percaya diri dengan pendapatnya.


"Buktikan!"


"Iya! Nanti pasti akan aku buktikan!" kesal Cheryl. Ia membawa perlengkapan obat itu keluar dari ruangan Janu.


Tok tok tok


"Masuk!" perintah Janu.


Sebenarnya Finn sudah sejak tadi berada di luar pintu. Mengetahui ada Cheryl di dalam, ia sengaja menunggu hingga wanita itu pergi untuk menemui atasannya.


"Ada apa?" tanya Janu seraya mengenakan kembali kemeja yang sempat Cheryl lepaskan.


"Ada informasi tentang keberadaan Bi Trini," kata Finn.


Janu terlihat antusias dengan kabar yang Finn bawa. Setelah sekian lama menanti, akhirnya sebentar lagi ia bisa bertemu dengan mantan pengasuhnya. Lima belas tahun lebih ia harus bersabar agar bisa kembali ke negara asalnya. Siapapun yang terlibat dengan kehancuran keluarganya, akan ia kejar sampai ke ujung dunia.


"Dimana dia?" tanya Janu.


"Anak buah kita menemukannya di sebuah desa terpencil di Kota B. Mereka tengah berusaha membawanya kemari," jawab Finn.


"Bagus. Teruskan pencarian kalian sampai kita tahu dimana dalang pembunuhan keluargaku!"

__ADS_1


"Baik, Tuan."


"Apa ada info lain yang kamu ingin sampaikan?"


"Iya, Tuan. Ternyata Nyonya masih punya keluarga."


Janu mengernyitkan dahi. "Keluarga Cheryl? Siapa?" Ia merasa tidak pernah bertemu anggota keluarga Cheryl selain Hendry dan Citra.


"Tuan Hendry masih memiliki orang tua dan saudaranya yang hidup di luar negeri. Tapi, sepertinya hubungan mereka kurang baik sejak Tuan Hendry menikah dengan Nyonya Citra. Mungkin Nyonya juga tidak tahu kalau masih memiliki kakek dan nenek kandung."


"Rahasiakan dulu hal ini darinya. Kita akan beritahukan setelah situasi membaik. Kita harus bergerak cepat sebelum waktunya habis."


"Baik, Tuan."


***


Klik!


Cheryl membuka pintu apartemen Arsen. Saat pintu terbuka, lagi-lagi ia melihat Dokter Diana ada di sana. Posisinya, kedua orang itu terlihat sedikit panik karena kedatangannya.


"Sayang, kamu sudah datang? Kenapa tidak pernah mengabariku dulu kalau kamu mau datang?"


Arsen berjalan menghampiri Cheryl dan memberikan pelukan. Tatapan Cheryl masih mengarah tajam pada wanita itu. Ia merasa ada yang tidak beres dengannya.


"Arsen, aku pamit pulang dulu. Jangan lupa minum obatnya," pamit sang dokter.


"Sayang, ayo masuk!"


Dengan lembut Arsen meminta Cheryl masuk setelah sang dokter keluar. Cheryl menepis tangannya dengan kasar dan berjalan menuju ka ruang tamu.


"Tiba-tiba aku ingin bercita-cita menjadi dokter. Sepertinya seru bisa berkunjung terus ke rumah pasiennya!" sindir Cheryl.


Arsen menghela napas. Ia yakin wanita itu tengah salah paham dengan kehadiran Diana. "Sayang, aku kan sudah bilang kalau dia datang untuk mengecek kesehatanku. Kenapa kamu jadi cemburuan begini?" ia mengelus kepala pacarnya yang sedang marah.


"Apa salah kalau aku cemburu melihat pacarku bersama wanita lain?" tanya Cheryl.


"Ya ... Itu wajar-wajar saja. Tapi harus lihat kondisi juga. Kamu pikir aku tidak cemas membiarkanmu tinggal serumah dengan lelaki lain? Kamu bahkan sudah menjadi istri orang!" Arsen membalikkan kata-kata Cheryl.


Wanita itu tak bisa berkata-kata. Kalau dipikir-pikir, ia memang lebih salah.


"Kamu kan tahu sendiri kalau itu bukan kemauanku menikah dengannya," rengek Cheryl. "Aku dia ajak nikah waktu amnesia." Kini ia sendiri yang merasa bersalah.


"Tapi sampai sekarang kamu juga tidak mau bercerai dengannya, kan? Sebenarnya kamu cinta atau tidak padaku? Aku jadi bingung!" giliran Arsen yang meluapkan kekesalannya.


"Kalau aku tidak mencintaimu, untuk apa aku ada di sini?"

__ADS_1


"Sampai kapan aku harus menunggumu?" tanya Arsen.


Cheryl terdiam sejenak. Ia tahu Janu tidak akan mau menceraikannya. "Arsen, bagaimana kalau kamu membawaku kabur?" ide itu muncul begitu saja di benaknya.


Arsen mengerutkan dahi. "Kabur? Kenapa harus kabur?" tanyanya heran.


"Janu tidak akan mau menceraikanku. Tapi, dia mengijinkanku pergi darinya ... Asalkan tidak membawa apa-apa," kata Cheryl.


"Apa? Kamu bodoh atau bagaimana? Kamu mau memberikan seluruh hartamu pada lelaki sialan itu?" Arsen tidak habis pikir dengan pemikiran pacarnya.


"Aku juga ingin memiliki seluruh peninggalan Papaku. Tapi, dia sudah mengalihkan semua atas namanya. Janu itu memang gila, aku tidak bisa melawannya."


Tampak jelas wajah Arsen menunjukkan kekecewaannya. Cheryl meraih tangan lelaki itu dan mentap wajahnya. "Bukankah yang terpenting jika kita bisa bersama? Masalah harta bisa kita cari lagi bersama. Bagaimana menurutmu?"


Cheryl yakin Arsen akan menerima apapun keadaannya. Mereka bisa memulai dari awal dan hidup bahagia bersama.


"Sayang, kamu tidak boleh menyerah padanya."


Raut optimis Cheryl berubah datar mendengar perkataan Arsen.


"Ambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu. Setelah itu, aku akan langsung menikahimu."


Cheryl masih tertegun mendengar kemauan Arsen. Apa yang dikatakan Janu tentang pacarnya itu sepertinya benar.


"Maksudmu apa?" tanya Cheryl dengan raut kecewa.


"Cheryl, aku tidak punya maksud buruk tentang hal itu." Arsen kelabakan takut Cheryl menyalahartikan ucapannya. "Ini bukan karena aku mengajarimu matrealistis, tapi kamu berhak mempertahankan apa yang kamu miliki. Jangan kamu buat orang itu menang dengan mendapatkan semuanya darimu." ia memberikan penjelasan sesederhana mungkin agar pacarnya tidak salah paham.


"Jadi, kamu tidak apa-apa kalau aku lebih lama bersama dengannya?" tanya Cheryl dengan nada yang lemas.


Arsen menarik tubuh Cheryl ke dalam pelukannya. "Tentu, aku tidak baik-baik saja. Aku selalu cemas ketika membiarkanmu berada di sana. Makanya, kamu cepatlah mengambil alih semuanya," bujuk Arsen.


"Tapi, dia sudah mengubah semua atas namanya."


Arsen menatap mata Cheryl. "Temukan dokumen-dokumen asli peninggalan ayahmu. Meskipun ditulis atas namanya, kamu bisa mengubahnya lagi. Aku akan membantumu. Carilah di rumah itu, dia pasti menyembunyikannya di suatu tempat."


***


❤❤❤ PROMOSI ❤❤❤


Hai ... Jangan lupa mampir di novel karya teman author, ya! Pasti seru, kok! 😘


Judul: Bidadari yang Diabaikan


Author: Santi Suki

__ADS_1



__ADS_2