Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 27: Makan Siang


__ADS_3

"Sayang, kemarilah!"


Arsen menyambut kehadiran Cheryl di ruangannya dengan senyuman. Tak lupa ia mengunci pintu agar tidak ada yang datang mengganggu. Sekertarisnya sudah ia beri tahu kalau dia akan sibuk selama waktu istirahat.


Di bagian meja telah terhidang makanan dan minuman yang terlihat menggugah selera. Arsen menarik tangan Cheryl agar duduk bersamanya.


"Aku kan sudah bilang jangan terang-terangan mendekatiku di kantor. Nanti bakalan ada rumor," protesnya.


"Lalu aku harus bagaimana? Selama ini kamu seperti menghindariku terus. Bahkan saat istirahat kamu lebih memilih makan dengan temanmu. Pulang kerja kamu tidak mau jalan sebentar denganku. Makanya aku terpaksa menggunakan jabatanku untuk memanggilmu."


Arsen memeluk pinggang Cheryl. Ia menyandarkan kepalanya di sana. "Aku sangat tersiksa tak bisa dekat denganmu setiap saat," ucapnya.


Cheryl sangat dibatasi waktunya oleh Janu. Ia harus langsung pulang ke rumah setelah bekerja. Kalau melanggar, ijin kerjanya akan dicabut. Karena itu ia tidak bisa leluasa bertemu dengan pacarnya sendiri.


"Padahal jawabannya sangat sederhana, kan? Kamu tinggal membawaku pergi dari lelaki itu," sindir Cheryl.


Arsen tak bisa membantah. Ia tidak bisa melakukannya karena kemauan ibunya.


Ditatapnya wajah Cheryl dalam-dalam. "I'm sorry, Honey," katanya dengan raut wajah sendu yang membuat orang tak tega marah kepadanya.


Cheryl menghela napas. "It's okay," katanya.


"Aku sudah membelikan makanan kesukaanmu. Mungkin kamu kesulitan beradaptasi dengan menu yang ada di kantin perusahaan."


Arsen meletakkan satu piring spagetti di hadapan Chryl. Ia juga menghidangkan es cappucino kesukaan pacarnya.


"Terima kasih," kata Cheryl. "Makanan di kantin sebenarnya tidak seburuk yang aku bayangkan. Menurutku harganya murah dan rasanya enak," ucapnya.


"Oh, aku tidak menyangka Cherylku bisa berkata seperti itu," kata Arsen sembari tertawa kecil.

__ADS_1


Ia seperti berhadapan dengan orang yang berbeda. Cheryl yang ia kenal seorang wanita manja yang hobi belanja dan foya-foya. Perkataannya sekarang seperti wanita yang sedang berhemat dan punya banyak hutang.


Cheryl mulai menyuapkan spagetti ke dalam mulutnya. Rasanya enak namun masih kalah dengan masakan pelayan di rumah Janu. Ia yakin harga makanan itu pasti mahal.


"Bagaimana? Enak?" tanya Arsen.


Cheryl mengangguk. "Lumayan," katanya.


"Jadi kapan kamu punya waktu untuk jalan denganku?"


"Mungkin akhir pekan ini. Tapi sore aku sudah harus pulang."


Arsen rasanya ingin tertawa. Begitu sulit baginya untuk jalan bersama kekasihnya sendiri. "Apa itu juga aturan darinya?"


"Ya, dia punya banyak aturan untukku. Termasuk tidak boleh pacaran denganmu."


Arsen benar-benar merasa kesal. Namun, ia tak bisa melakukan apa-apa.


Arsen merasa bersalah mendengar pertanyaan Cheryl. Ia meraih tangan kiri wanita itu dan menggenggamnya. "Jangan bilang seperti itu. Aki sungguh-sungguh mencintaimu," katanya.


"Apapun keadaanmu, aku tetap menyukaimu. Tapi, apa kamu akan menyerah pada semua yang sudah susah payah diusahakan oleh orang tuamu?"


Cheryl terdiam sesaat dengan perkataan Arsen. Baginya itu sudah tidak penting. Keinginan untuk mendapatkan haknya kembali justru membuat ua merasa menderita harus bertahan hidup dengan orang yang tidak disukainya.


"Perasaanku sangat sedih karena kamu menganggapku sebagai lelaki matrelialistis hanya karena hal ini."


Lagi-lagi perkataan Arsen mampu meluluhkan perasaan Cheryl. "Aku minta maaf karena telah menyinggungmu," ucapnya.


Arsen merasa bahagia bisa membuat Cheryl mengerti. Ia mencium pipi kekasihnya karena merasa senang.

__ADS_1


"Aku harap kamu bisa segera menemukan surat-surat berharga itu. Selanjutnya, aku yang akan membantumu mendapatkan semuanya," katanya.


Cheryl berpikir ia hanya menjadi sensitif setelah kematian keluarganya. Arsen masih sama, selalu baik kepadanya. Ia hanya berprasangka buruk karena memang sulit memercayai orang lain setelah peristiwa mengerikan itu.


Selesai makan, keduanya tampak bermesraan. Arsen tak bisa menahan untuk tidak mencium bibir wanita yang ada di pangkuannya. Ingin rasanya ia melakukan hal yang lebih jauh, tapi Cheryl pasti akan menolaknya.


Tangannya hanya bisa meraba-raba sisi tubuh kekasihnya, menelusuri pinggang kecil itu hingga turun ke bawah pada bongkahan padat yang terasa empuk. Pikirannya menerawang kemana-mana membayangkan isi dari tubuh yang terbungkus di balik pakaian kerja.


Cheryl tak begitu menyadari apa yang tengah pacarnya lakukan dan bayangkan terhadap dirinya. Ia terhanyut ke dalam ciuman penuh gairah yang penuh hasrat terselubung.


Drrtt ... Drrtt ...


Aktivitas mereka terganggu dengan getaran ponsel milik Cheryl. Keduanya berhenti berciuman. Cheryl turun dari pangkuan Arsen dan meraih gawainya. Telepon dari Vina.


"Halo, Vin?" sapa Cheryl.


"Kamu mau aku bawakan minuman atau kue-kue nggak? Kebetulan hari ini aku makan di kafe depan?"


"Ah, tidak usah. Aku sedang tidak ingin mengemil."


"Oh. Baiklah. Jangan ngiler kalau nanti banyak makanan di mejaku. Juga jangan minta!" tegas Vina.


Cheryl hanya senyum-senyum mendengarnya.


"Bye!" ucap Vina seraya memutus sambungan telepon.


***


❤❤❤ PROMOSI ❤❤❤

__ADS_1



__ADS_2