Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 37: Saksi Kunci


__ADS_3

"Tante ...," sapa Cheryl.


"Hai, Sayang. Apa kabar? Lama kita tidak bertemu." Ira memeluk Cheryl dengan penuh hangat. Ia terlihat bahagia bisa bertemu kembali dengan kekasih putranya itu.


Hari ini Arsen mengajak Cheryl makan siang bersama ibunya. Ira sendiri yang meminta Arsen agar mempertemukannya dengan Cheryl.


"Tante sempat khawatir denganmu, Sayang. Syukurlah kamu baik-baik saja."


Cheryl tersenyum getir. Ia kembali teringat kedua orang tuanya yang telah lama meninggal.


"Ah, sudahlah! Kita tidak boleh berlarut-larut pada masa lalu. Lebih baik kita fokus menata masa depan," kata Ira.


Beberapa pelayan berdatangan menghidangkan menu yang telah dipesan sebelumnya. Ira memesankan hidangan khas Jepang untuk makan siang mereka bertiga. Ia tahu jika Cheryl suka makanan Jepang.


Dulu, Arsen sering mengajak Cheryl datang ke rumah. Ia sangat senang melihat hubungan Cheryl dan putranya berjalan dengan baik. Ia berharap keduanya akan menikah.


"Aku dengar kamu bekerja di perusahaan yang sama dengan Arsen, ya?" tanya Ira.


"Iya, Tante," jawab Cheryl sembari memakan makanannya.


"Kenapa kamu tidak menggantikan ayahmu di perusahaannya?"


Cheryl menoleh ke arah Arsen. Di saat yang bersamaan, Arsen juga tengah menatap ke arahnya. Cheryl seakan meminta bantuan agar ia bisa menjelaskan di hadapan Ira.


"Masalahnya agak rumit, Ma. Sewaktu Cheryl hilang, dia sempat amnesia. Ada laki-laki yang mengaku sebagai suaminya yang sekarang menguasai perusahaan ayah Cheryl. Makanya Cheryl tidak bisa bekerja di sana."


"Benarkah?" Ira berpura-pura kaget seakan tidak tahu apa-apa.


Cheryl merasa bersalah dan malu kepada Ira. "Maafkan saya, Tante. Saya masih mencintai Arsen. Tapi, kondisinya memang kacau seperti ini," katanya.


"Aduh, Tante harus mengatakan apa padamu? Kasihan sekali putraku. Dia sudah menunggumu begitu lama, pasti menyakitkan mengetahui kamu menikah dengan lelaki lain." perkataan Ira seolah ingin menyudutkan Cheryl.

__ADS_1


"Saya juga sedang berusaha agar bisa pisah dari dia, Tante. Kalau saya sudah mendapatkan semua aset milik ayah saya, saya akan kabur dan pergi dengan Arsen."


"Apa kamu yakin bisa?" tanya Ira memastikan.


"Bisa, Tante."


Ira tersenyum senang. "Ya sudah, kalian berdua berusahalah! Perjuangkan cinta kalian. Aku hanya bisa memberikan restu."


***


Michan tengah menata berkas-berkas tak terpakai di bagian gudang penyimpanan perusahaan. Ketika ia berada sendirian di sana, ia mendengar ada suara langkah kaki dua orang semakin dekat ke arahnya.


"Jadi, berkasnya ada di ruangan ini?"


"Iya. Pak Yohan yakin pasti ada di salah aatu tumbukan berkas yang ada di ruangan ini."


"Apa tidak sebaiknya kita periksa di ruangan CEO baru itu? Aku rasa berkas penting seharusnya ada di sana."


"Tidak, Pak Yohan bilang ingat telah menyimpannya di tempat ini."


Tanpa sengaja Michan mendengarkan percakapan dua orang lelaki yang tidak dikenalnya. Ia mencoba mengintip lewat celah-celah tumpukan berkas, wajah keduanya terlihat asing. Sepertinya ia tidak pernah melihat karyawan seperti mereka di perusahaan. Tapi, keduanya mengenakan kalung tanda pengenal untuk akses masuk ke tempat itu.


Ia merasa ada yang aneh dengan mereka berdua. Ia mengambil ponsel dan merekam ulah mereka.


"Orang itu pasti masih berambisi untuk menguasai perusahaan ini."


"Itu sudah pasti. Pak Yohan sudah mengambil resiko besar untuk menghabisi keluarga Pak Hendry. Tentu saja dia ingin mengambil alih tempat ini."


Michan menutup mulutnya sendiri. Ia hampir berteriak tidak percaya mendengar tentang orang yang telah membunuh keluarga Cheryl.


"Aku tidak menyangka Pak Yohan sesadis itu. Padahal putranya kelihatan seperti anak baik-baik."

__ADS_1


"Usahanya dari dulu memang kepala preman dan rentenir. Makanya dia bisa kaya dari bisnis itu, termasuk membunuh orang."


Bruk!


Tanpa sengaja Michan menyenggol buku dan terjatuh. Otomatis kedua orang itu berhenti bicara.


"Siapa itu? Apa ada orang di sini?"


Kedua orang itu langsung memasang sikap waspada.


"Ayo kita cek! Gawat kalau ada yang mendengar kita."


Michan menutup rapat-rapat mulutnya. Ia meringkuk di bawah sambil gemetar takut ketahuan. Kedua orang itu terus berjalan maju mendekat ke arahnya.


Ia sudah mendengar sesuatu yang besar. Jika mereka menemukan keberadaannya, mereka pasti akan membunuhnya.


"Kamu coba sisir sebelah sana dan aku sisir sebelah sini!"


"Oke!"


Michan merapalkan segala doa agar jangan sampai ketahuan. Ia bisa mati sebelum memberitahukan semuanya kepada Cheryl.


"Heh! Kalian sedang apa? Kita batalkan misi hari ini. Ada yang mencurigai keberadaan kita!" seru seseorang dari arah pintu.


Berkat orang itu, kedua orang yang hendak mencari Michan mengurungkan niatnya.


"Tapi kami belum menemukan yang kita cari."


"Sudah, itu urusan besok. Yang penting kita kabur sebelum ketahuan!"


"Ah, oke. Baiklah. Ayo kita pergi."

__ADS_1


Michan menghela napas lega setelah mereka keluar dari ruangan itu. Ia mematikan video rekamamnya. "Pak Yohan siapa, ya?" gumam Michan. Ia tidak tahu siapa orang yang mereka bicarakan.


Tapi, ia jadi tahu sedikit tentang siapa yang sudah membunuh keluarga Cheryl, pastilah tak jauh dari lelaki yang bernama Yohan.


__ADS_2