Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 14: Target Pembunuhan


__ADS_3

"Mau apa kalian?" tanya Cheryl yang berusaha mengusir rasa takutnya terhadap ketiga orang itu.


"Hahaha ... Kamu mau tahu? Tentu saja kami ingin membunuhmu."


Salah seorang dari mereka mengeluarkan sebilah pisau. Cheryl kebingungan, ia tak bisa bela diri. Sepertinya ia harus pasrah untuk mati kali ini.


Dug! Brak!


Seseorang datang menendang penjahat yang hampir menghunuskan pisau ke arah Cheryl. Sang penjahat tersungkur.


"Janu!" Cheryl terkejut melihat lelaki itu ada di sana. Lirikannya mengisyaratkan jika Janu memendam kekesalan terhadap Cheryl.


"Kurang ajar! Ada yang mengganggu pekerjaan kita!"


Ketiga orang itu maju bersama mengeroyok Janu. Dengan gerakan yang lincah, Janu berusaha melawan ketiganya. Cheryl tidak menyangka jika Janu sehebat itu. Ketiga penjahat dihajar habis olehnya sampai babak belur.


Usai menumbangkan ketiganya, Janu menghampiri Cheryl.


"Kalau aku tidak kebetulan berada di dekat sini, kamu pasti sudah mati!" gerutu Janu. Sejak awal dia sangat membenci orang yang merepotkannya.


Cheryl hanya menunduk. Ia tahu dirinya salah karena telat pulang. Seharusnya sore ia sudah harus di rumah.


"Diberi kebebasan sedikit langsung bertingkah. Aku sudah mengingatkanmu kalau banyak bahaya di luar. Itu sebabnya aku menyuruhmu tetap di rumah!"


"Iya, maaf. Aku salah," ucap Cheryl.


"Cepat berdiri! Kita pulang!" perintah Janu.


Cheryl bangkit berdiri. Matanya melebar ketika melihat penjahat tadi hendak menghunuskan pisau ke arah Janu.


"Awas!" teriaknya


"Ah!"


Terlambat. Pisau orang tersebut mengenai lengan kanan Janu.


Janu mencabut dan merebut pisau yang orang itu tancapkan. Matanya memerah penuh amarah. Dilayangkannya pukulan bertubi-tubi ke arah orang yang berani melukainya. Ia juga menancapkan pisau tepat di dada sang penjahat.


Orang itu sampai terkapar tak bergerak. Dua teman penjahat itu yang lain juga masih terkapar dan ketakutan melihat kesadisan yang Janu lakukan.


Cheryl gemetar. Ia seakan tak punya daya untuk berteriak maupun bergerak. Di depan matanya, Janu menghunuskan pisau dengan sadis.


Janu menyeringai. "Apa kamu takut?" ledeknya. "Di dunia ini, kalau bukan kita yang membunuh, maka kita yang akan dibunuh. Bagaimana bisa ingin balas dendam dengan mental selemah ini. Kamu mau tetap di sini menunggu mati atau ikut denganku?"


Janu dengan santai berjalan meninggalkan tempat itu. Cheryl yang ketakutan memaksakan diri berlari mengikutinya.

__ADS_1


"Tuan, apa yang terjadi dengan Anda?" tanya Finn khawatir. Ia melihat darah yang menetes di lengan atasannya.


"Ada tiga orang yang hampir membunuh dia. Antar kami pulang dan suruh Thor membereskan mereka!" perintah Janu.


"Baik, Tuan."


Finn membukakan pintu mobil untuk Janu dan Cheryl. Setelah mereka masuk, ia mengemudikan mobilnya.


Cheryl terus menatap ke arah Janu. Lelaki itu tampak tetap tenang meskipun lengannya terluka.


"Apa tidak sebaiknya kita pergi ke dokter? Lukamu perlu diobati," kata Irene.


Janu menyunggingkan senyum. "Kamu mengkhawatirkanku?" tanyanya.


Bagaimanapun juga, Janu telah menyelamatkan dirinya. Meskipun kelakuannya menjengkelkan, Cheryl tak bisa marah. Apalagi Janu dalam kondisi terluka.


"Lukamu harus segera diobati agar tidak infeksi," kata Cheryl.


"Kamu saja yang melakukannya kalau mau. Aku tidak suka pergi ke rumah sakit."


Sesampainya di rumah, Janu langsung berjalan masuk lebih dulu. Cheryl ditinggal di belakang. Lelaki itu masuk ke dalam kamarnya.


"Bi, apa ada peralatan P3K?" tanyanya kepada salah satu pelayan.


"Ada, Nyonya. Biar saya ambilkan."


Cheryl membawa kotak itu ke lantai atas. Sebenarnya ia malas untuk berhubungan dengan lelaki itu. Namun, ia tetap tidak tega melihat luka yang dialami Janu.


"Permisi," saat Cheryl masuk, Janu terlihat tengah berusaha melepaskan pakaiannya sendiri.


"Kamu mau apa?" tanya Janu ketus.


"Mengobati lukamu."


Cheryl menunjukkan kotak yang dibawanya. Ia berjalan mendekat ke arah Janu. Dibantunya lelaki itu melepaskan pakaian.


Ia sampai berusaha membuang pandangan saat tubuh Janu yang polos tepat di hadapannya. Dada bidangnya terbentuk sempurna dan tampak kokoh. Aroma yang khas dari tubuh Janu membuatnya sedikit gugup. Ia secara perlahan melepaskan pakaian dari lengan Janu.


"Ah!" pekik Janu.


Mau tidak mau luka Janu tersenggol ketika baju terlepas. Lumanya terlihat cukup parah. Bahkan darah segar masih mengalir di sana.


"Aku bilang juga seharusnya kita pergi ke rumah sakit!"


Cheryl ngeri menyentuh luka itu. Namun, karena Janu keras kepala, ia harus mengurus luka itu. Untung saja lukanya tidak begitu dalam sehingga tidak butuh jahitan. Hanya saja, lukanya memang cukup panjang.

__ADS_1


Cheryl membersihkan sisa-sisa darah yang masihbkeluar dengan cairan antiseptik. Janu bersikap tenang tidak menunjukkan jika lukanya terasa perih saat ia membersihkannya.


"Kenapa kamu tidak membiarkanku mati?" tanya Janu.


"Apa?" Cheryl tidak mengerti dengan ucapan Janu.


"Bukankah kamu akan senang kalau aku mati di tangan mereka? Seharusnya kamu tadi tidak perlu memperingatkanku," kata Janu.


"Entahlah. Mungkin mati merupakan balasan paling ringan untukmu. Kamu harus menderita seumur hidup atas apa yang telah kamu lakukan pada keluargaku," ucap Cheryl.


"Bagaimana kalau bukan aku yang membunuh mereka?" tanya Janu.


Cheryl menatap mata Janu. "Kamu tetap harus mati karena telah merampas seluruh milik ayahku!" tegasnya.


"Hahaha ...." Janu justru tertawa mendengar ucapan Cheryl. "Ternyata kamu cepat juga mengetahuinya."


"Kamu tidak merasa malu telah merampasnya dariku?"


Cheryl membalutkan perban setelah selah selesai membersihkan luka dan mengoleskan obat.


"Tidak, untuk apa aku malu? Kamu masih terlalu bodoh untuk mengambil alih semuanya. Lebih baik aku yang memegang semuanya."


Cheryl menarik ikatan karena kesal. Janu tampak kesakitan dengan ulah wanita itu.


"Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan kembali apa yang menjadi hakku!" kata Cheryl.


Janu menarik Cheryl hingga terjatuh ke pangkuannya.


"Apa-apaan kamu!" Cheryl merasa kesal dengan perbuatan Janu. Ia berusaha bangkit namun lelaki itu mencegahnya.


"Kenapa kita selalu bertengkar? Suami istri seharusnya harmonis, kan?" goda Janu. Ia paling suka membuat Cheryl ketakutan.


Tangan Cheryl dibimbingnya agar menyentuh bagian abs-nya. "Bukankah tubuhku sangat menarik? Sekarang giliranmu menunjukkan tubuhmu juga," goda Janu lagi.


Cheryl langsung mendorong kuat Janu sampai terjatuh ke ranjang. "Dasar gila!" gerutunya seraya berlari pergi dari kamar Janu.


"Hahaha ...." Janu tak bisa berhenti tertawa melihat tingkah Cheryl.


"Tuan, Thor sudah membawa mereka ke tempat rahasia," ucap Finn yang baru masuk ke kamarnya.


"Apa mereka masih hidup?" tanya Janu. Ia kembali pada mode serius.


"Orang yang Anda tusuk telah mati. Sisa dua orang lagi masih hidup, Tuan."


"Bagus! Obati mereka sampai sembuh. Berikan makanan dan pakaian yang terbaik. Kapan-kapan aku akan mengunjungi mereka."

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Janu punya rencana sendiri. Ia harus tahu siapa yang berusaha membunuh Cheryl. Orang itu pasti ada kaitannya dengan komplotan yang telah membunuh keluarga Cheryl.


__ADS_2