Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 56: Kelanjutan Perjodohan


__ADS_3

Janu keluar dari ruangannya dengan suasana hati yang bahagia. Ia menenteng kotak makanan yang Cheryl bawakan untuknya namun belum sempat ia makan. Ia sudah kenyang setelah memakan istrinya. Bekal hanya alasan agar menu utama yang ia inginkan datang ke kantor, yaitu istrinya sendiri.


Finn tampak berdiri di depan pintu ruangannya dengan wajah penuh masalah. Janu tak mempedulikannya. Ia memang telah membayar mahal Finn sebagai asisten agar bisa mrnanggung beban pikirannya.


"Tuan, apa Anda sudah siap menemui Nona Ariana?" tanya Finn. Ia merasa sedikit lega karena akhirnya Janu telah keluar dari ruangan.


"Kalian berdua tetap jaga di sini. Jangan sampai ada yang masuk ke dalam selama aku pergi. Termasuk kalian!" ucap Janu kepada kedua orang bodyguard-nya.


"Baik, Tuan."


"Ini bekal makanan buatan pelayan di rumah. Karena aku sudah kenyang, kalian saja yang makan." Janu menyerahkan bekalnya untuk kedia bodyguard-nya.


Kedua bodyguard itu saling menatap keheranan. Kotak bekal yang Janu berikan tampaknya bahkan belum dibuka, tapi bosnya sudah merasa kenyang.


Janu lantas mengajak Finn untuk turun menemui Adila dan keluarganya. Mereka tengah menunggu kedatangannya di restoran tak jauh dari kantor yang Finn pesankan.


"Tidak usah tegang begitu, Finn. Santai saja," ujar Janu.


Finn memang tidak bisa santai. Saat memberikan alasan bahwa atasannya masih memiliki urusan dengan orang penting, ia disambut dengan raut masam dari Ariana dan kedua orang tuanya. Dengan kecerdasan akalnya, ia meminta mereka untuk menunggu di restoran keluarga yang terdapat di seberang perusahaan. Selain restoran, di sana juga ada tempat karaoke sehingga tidak akan membuat bosan selama menunggu.


Ia akui bahwa atasannya memiliki kharisma yang luar biasa. Bisa dibuktikan dengan keluarga Ariana yang tidak marah meskipun Janu akan telat datang. Padahal, atasannya sendiri yang sebenarnya lebih membutuhkan mereka untuk melancarkan rencana balas dendam.


Mereka seperti kerbau yang telah dicucuk hidungnya. Apa yang Janu kehendaki, mereka bisa mengusahakannya.


"Janu ...."


Ariana berlari menyambut kehadiran Janu. Ia selalu antusias dengan keberadaan Janu. Meskipun mereka telah terikat tali pertunangan, namun intensitas pertemuan mereka sangat jarang.


"Lama sekali kamu datang, Janu. Apa urusanmu sudah selesai?" tanya Pak Handoko.


Janu menjabat tangan Pak Handoko dan Ibu Handoko. "Maaf sudah membuat kalian menunggu," ucapnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Kata Finn kamu ada pertemuan mendadak dengan orang penting. Kalau memang tujuan untuk bisnis, kami bisa memaklumi."


"Janu, lehermu kenapa?" sahut Ibu Handoko yang melihat keanehan di bagian leher Janu.


Ariana ikut terkejut dan memeriksa bagian leher tunangannya itu. "Iya, Sayang, kenapa di lehermu ada seperti bekas cakaran begini?"


Janu tertegun sejenak. Ia lupa untuk menyembunyikan luka cakaran yang Cheryl berikan padanya tadi. "Ah, ini gara-gara dicakar kucing, bukan luka yang serius," kilahnya.


"Memangnya kamu memelihara kucing sekarang?" tanya Ariana. Dia tidak pernah tahu jika Janu menyukai binatang.


"Iya, aku baru memeliharanya di rumah belum lama ini. Kucingnya sangat lucu, tapi saat aku menggendongnya, dia mencakarku," ucap Janu. Ia kembali membayangkan sarapan yang sangat memuaskan tadi. Ekspresi wajah istrinya yang bersemu merah kembali terbayang. Suaranya yang merdu dan erotis terngiang-ngiang, membuatnya ingin segera kembali ke ruangannya.


"Aku kira kamu tidak suka kucing karena dulu kamu pernah menendang seekor kucing hitam yang tiba-tiba lewat," gumam Ariana.


Janu tersenyum. "Entahlah. Kucing yang kali ini sangat imut, aku bahkan tidak tega mengusirnya karena tingkahnya menggemaskan."


Janu memang sudah kurang waras. Ia kembali membayangkan istrinya yang selalu membuat ia gemas dan ingin mengganggunya. Ia suka istrinya yang pembangkang, membuatnya tertantang untuk bisa membuatnya luluh dan patuh padanya.


"Iya, nanti akan aku lakukan."


Mereka dialihkan ke ruang makan. Pelayan mulai berdatangan membawakan sajian yang telah dipesan untuk menemani perbincangan mereka.


"Janu, Papa berhasil mendapatkan tambahan saham dari PT Atmajaya Sentosa," ucap Ariana dengan nada bersemangat.


"Benarkah?" Janu turut senang mendengarnya.


"Ada beberapa relasi bisnis yang bersedia menyerahkan sabamnya kepadaku. Kata mereka, kepemimpinan presdir yang sekarang tidak sebagus dulu. Mereka melihat ada penurunan dan sepertinya tidak bagus berinvestasi di sana," ucap Pak Handoko.


"Begitu, ya?" gumam Janu sembari menikmati hidangan pembuka yang disajikan.


"Jadi, apa kamu tetap akan menaruh investasi di sana?" tanya Pak Handoko memastikan.

__ADS_1


Janu mengangguk. Tekadnya sudah bulat akan mengambil alih perusahaan itu baik dengan cara yang baik maupun cara yang licik.


"Aku berharap kamu akan memikirkannya kembali. Perusahaan itu sepertinya dimiliki oleh orang-orang dengan kepentingan yang berbeda-beda. Kalau terjadi crash sedikit saja, aku rasa perusahaan itu akan bubar."


Menurut Janu, itu akan lebih menguntungkan baginya. Ia memang sengaja membuat masalah secara diam-diam untuk membuat satu per satu rekan bisnis Thea Rudianto itu melepaskan diri. Ketika perusahaan melemah, ia akan mulai masuk ke dalamnya.


"Anda tenang saja. Saya sudah memikirkannya dengan baik. Berapapun yang Anda minta, akan saya penuhi asalkan bisa punya posisi yang diperhitungkan di sana."


Handoko mengangguk paham. "Baiklah, kalau memang itu kemauanmu. Aku sudah mendapatkan 15 persen saham di sana. Kapanpun kamu mau, katakan saja, aku akan mengalihkannya atas namamu."


Janu menyunggingkan senyum. "Terima kasih atas bantuan Anda," ucap Janu.


"Kami mengajakmu bertemu di sini bukan hanya untuk membahas ini, Janu," sambung Ibu Handoko.


Janu mengarahkan pandangannya pada ibu kandung Ariana itu.


"Kami ingin memastikan kapan kamu akan menikah dengan putri kami?" tanya Ibu Handoko.


"Mama ...." Ariana merasa tidak enak hati kepada Janu. Ia tidak tahu jika ibunya ingin membahas hal itu.


"Kalian sudah cukup lama saling kenal. Usia kalian juga sudah matang, mau menunggu apa lagi untuk menunda-nundanya?" tanya Ibu Handoko.


"Kalau masalah PT Atmajaya Sentosa yang kamu khawatirkan, aku akan memastikan kamu mendapatkan posisi yang kamu mau di sana."


Janu terlihat bimbang memikirkannya. Ia tidak mau melepaskan kesempatan mendapatkan kembali perusahaan. Di sisi lain, ia juga tidak ingin mengecewakan istrinya, Cheryl Putri Alexander yang statusnya masih ia sembunyikan.


"Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, saya akan memikirkan pernikahan setelah urusan perusahaan itu beres," ucap Janu.


"Kalau memang Janu belum siap, itu tidak apa-apa, Papa, Mama ... Dia memang sedang fokus pada usahanya. Pernikahan bukanlah sesuatu yang harus diburu-buru," ucap Ariana dengan nada bijak.


Sebenarnya Janu tidak ada urusan dengan keluarga Ariana. Dia tidak punya dendam tertentu terhadap mereka. Namun, karena melalui tangan Pak Handoko ia bisa lebih dekat dengan PT Atmajaya Sentosa, maka ia masih belum melepaskan perjodohan yang diatur oleh Silvia terhadapnya.

__ADS_1


__ADS_2