
Bruk!
"Buatkan laporan dari data penjualan produk bulan ini! Kalau bisa besok sudah selesai!" perintah Dinda dengan gaya angkuh khasnya.
"Iya, nanti aku selesaikan," kata Cheryl. Dinda menyeringai lantas pergi dari meja kerjanya.
"Sabar, Cher! Semangat pokoknya!" kata Vina yang melongok dari balik tempat kerjanya.
Cheryl tersenyum. Ia kembali menyelesaikan laporan yang sebelumnya ia buat.
Menghadapi perlakuan kasar Dinda sudah menjadi makanannya. Ia berusaha cuek dan tidak terlalu memikirkan. Ia fokus dengan apa yang bisa dikerjakannya di sana.
"Fotokopikan ini dulu!"
Belum lama pergi dari sana, Dinda sudah memberikan pekerjaan baru untuknya. Cheryl beranjak dari tempatnya membawa dokumen yang Dinda bawakan ke ruang fotokopi yang ada di depan ruang kerjanya.
Lembar demi lembar ia salin menjadi lima sesuai permintaan Dinda. Untuk mengusir kebosanannya, ia layangkan pandangan mengamati aktivitas karyawan lain.
Hidupnya selama ini terlalu nyaman sampai ia lupa jika dunia begitu luas. Ia mengalami kesusahan tanpa bantuan orang tuanya.
"Nih! Buang dulu sampahnya ke bawah!"
Lagi-lagi Dinda menghampiri Cheryl untuk memberikan perkerjaan lain.
"Ini saja belum aku selesaikan, kamu sudah menyuruhmu melakukan pekerjaan lain?" protes Cheryl. Ia sudah sangat berusaha bersabar menghadapi kelakuan Dinda kepadanya.
"Memangnya kenapa? Ini juga salah satu tugasmu!"
__ADS_1
"Setahuku ada petugas kebersihan yang akan mengambil sampah-sampah," kilah Cheryl.
"Hah! Kamu mau membantahku?" bentak Dinda.
Wanita itu melotot padanya. Cheryl tak mau kalah juga membalas melotot.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau biar aku yang membuang sampah ini sendiri. Tapi, aku juga akan berusaha membuang teman kerja di sebelahmu!" ucap Dinda sembari menyeringai.
Tak ingin Vina menjadi korban keangkuhan Dinda, terpaksa Cheryl mengambil tempat sampah dari tangan Dinda.
"Biar aku yang membuangnya!" kata Cheryl seraya membawa tempat sampah itu untuk dibuang di area belakang perusahaan.
"Hah ... Kalau seperti ini aku berasa menjadi budaknya Dinda," gerutunya.
Mungkin hanya dia karyawan yang berpakaian rapi tapi menenteng tempat sampah seperti seorang petugas kebersihan.
Ketika sampai di lantai bawah, ia berpapasan dengan Janu dan Michan. Janu menghentikan langkah saat bertemu dengannya.
"Apa yang kamu kerjakan?" tanya lelaki itu dengan nada bicara yang dingin seperti biasa.
Cheryl tersenyum pada Michan yang memberi kode lambaian tangan kepadanya. "Aku mau buang sampah," jawabnya.
"Kamu di sini dijadikan petugas kebersihan?" tanya Janu heran. Seingatnya, ia telah meminta untuk menempatkan Cheryl di divisi marketing.
"Tidak, aku menjadi staff di divisi marketing. Kebetulan saja sampah sedang menumpuk jadi aku inisiatif membuangnya sendiri," jawab Cheryl. Ia tidak mau Janu tahu kalau di tempat kerja ia dirundung seseorang. Ia tidak ingin dinilai lemah tak bisa mengatasi masalah sekecil itu sendiri.
"Karyawan yang baik itu harus bekerja sesuai tupoksi, jangan mau mengerjakan di luar hal itu!" tegas Janu. Ia merasa malu melihat Cheryl seperti itu. Bagaimanapun juga, wanita itu adalah istrinya.
__ADS_1
"Kamu, kenapa ada di sini?" tanya Cheryl.
"Aku mau menghadiri rapat, kerjasama perusahaan."
"Oh ...," Cheryl mengangguk-angguk.
Pantas saja jika mereka berada di kantornya sekarang.
"Tuan, sebentar lagi rapatnya akan dimulai."
Finn datang menjemput Janu. Ia melirik sebentar ke arah Cheryl namun tak berkomentar apapun.
"Aku pergi dulu," pamit Janu pada Cheryl.
"Ah, iya," jawab Cheryl.
Sudut matanya terus mengikuti langkah kaki mereka yang semakin menjauh darinya. Setelah mereka tak terlihat lagi, ia melanjutkan langkah ke tempat tujuan semulanya.
***
❤❤❤ PROMOSI ❤❤❤
Hai, terima kasih sudah membaca karya author. Jangan lupa mampir ke karya teman author yang satu ini. Ceritanya juga pasti tidak kalah menarik 😘
Judul: Hasrat Tetangga Kamar
Author: AdindaRa
__ADS_1