
"Oh, jadi ini tempat persembunyianmu sepulang bekerja?"
Janu menghampiri Cheryl yang tengah berada di ruang mini teater yang ada di kamarnya.
Wanita itu terlihat santai memakan popcorn yang dibawanya sembari menikmati adegan demi adegan film yang diputar.
Janu duduk di sebelah Cheryl dan ikut mengambil popcorn milik istrinya dengan santai. Cheryl melirik kepadanya karena merasa miliknya tengah diambil orang dan dia tidak suka.
"Film apa ini? Sepertinya tidak menarik," kritik Janu.
"Kalau tidak suka ya pergi saja!" jawab Cheryl dengan ketus.
Film yang sedang ia saksikan memang bergenre romansa yang memiliki alur cerita klise dan konflik ringan. Kehadiran Janu membuat mood-nya jadi terganggu.
Tiba-tiba layar film di hadapannya menampilkan adegan tokoh utama yang saling berciuman. Cheryl merasa malu sendiri dan ingin kabur. Ia melirik sedikit ke arah Janu. Ternyata lelaki itu juga tengah memandang kepadanya sembari menopang dagu.
"Kenapa? Kamu mau mengajakku ciuman juga?" goda Janu.
Cheryl langsung menutup wajahnya. Kesenangan menonton film romantis itu benar-benar hilang. "Bisa kamu pergi dari sini sekarang? Aku sedang ingin menonton sendiri," pintanya.
"Bukankah lebih menyenangkan jika berdua? Aku kamu bisa mempraktikkannya dengan orang di sampingmu ini," seloroh Janu.
Ia semakin ingin menggoda Cheryl. Apalagi adegan dalam film sudah semakin liar, ciuman kedua pemainnya sangat panas dan berakhir pada adegan ranjang.
__ADS_1
Cheryl semakin tak berani melihat layar besar di hadapannya. Terdengar suara tawa kecil Janu karena tingkahnya.
"Kalau mau jangan sungkan, aku sedang baik ingin mengabulkannya jika memang kamu mau," ledek Janu.
"Oh, Ya Tuhan ... Siapa yang sedang berpikiran kotor di sini? Apa perlu otaknya aku sapu?" gerutu Cheryl sembari menahan malu.
"Hahaha ...." Janu tak bisa lagi menahan tawanya. Reaksi Cheryl sangat lucu. "Besok aku akan pergi ke luar negeri untuk waktu yang lama, mungkin dua mingguan. Takutnya kamu kesepian kalau setiap hari menonton seperti ini."
Cheryl menoleh ke arah Janu. "Kamu mau kemana?" tanyanya penasaran.
"Pulang ke rumah," jawab Janu.
Cheryl melebarkan mata. "Apa kamu sudah gila? Mereka kan yang sudah berbuat jahat padamu?" ia tampak mengkhawatirkan lelaki itu.
"Itu sih namanya bunuh diri." Cheryl tetap tak setuju jika Janu ingin kembali.
Janu mendekatkan wajahnya pada Cheryl. "Apa kamu mengkhawatirkanku? Apa kamu takut aku mati? Bukankah kamu akan suka kalau aku mati?"
Cheryl masih ragu dengan perasaannya sendiri. Meskipun kematian orang tuanya berkaitan dengan Janu, ia benar-benar tak bisa menghiraukan lelaki itu.
"Untuk apa aku khawatir padamu. Kamu sudah cukup dewasa untuk bisa menjaga diri. Terserah padamu kalau mau kembali," jawab Cheryl dengan nada cuek.
Janu bangkit dan memeluk Cheryl dengan erat. Ia pandangi wajah wanita itu dengan seksama. Bahkan helaian rambut yang mencoba menutupi wajah itu ia singkirkan agar tidak mengganggu.
__ADS_1
"Jangan nakal selama aku pergi, oke? Jaga diri baik-baik, hindari mantan pacarmu. Kamu harus ingat kalau kamu masih istriku. Kalau aku mati, baru kamu boleh menikah dengan orang lain."
Kata-kata Janu terdengar mengintimidasi dam lebih seperti ancaman.
"Perkataanmu membuatku berharap kamu tidak akan kembali lagi. Aku akan menikahi orang yang aku cintai," kata Cheryl sembari terkekeh.
Tiba-tiba Janu memberikan ciuman kepadanya. Mata Cheryl melebar dan tak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Selesai menonton, kamu harus langsung tidur, ya! Selamat malam," kata Janu.
Lelaki itu pergi begitu saja setelah membuat Cheryl syok. Film di hadapannya sudah tidak ia pedulikan lagi.
"Hah! Kenapa sih orang itu?"
Cheryl benar-benar kesal pada dirinya sendiri. Seharusnya ia senang Janu akan pergi, namun sisi hatinya yang lain menolaknya. Ia khawatir dengan keselamatan Janu.
Bagaimana bisa Janu mau kembali pada keluarga yang pernah menyiksa dirinya dan menjual salah satu ginjalnya. Itu sungguh tidak masuk akal.
***
❤️❤️❤️ PROMOSI ❤️❤️❤️
__ADS_1