
"Apa yang mau kamu lakukan selanjutnya?" tanya Michan.
Sebagai salah satu karyawan di perusahaan Janu, ia belum yakin jika lelaki itu bisa sekejam itu pada Cheryl. Entah apa maksudnya sampai mengambil alih semua peninggalan keluarga Cheryl, awalnya ia merasa Janu memiliki niat baik. Mendengar cerita langsung dari Cheryl, memang Janu patut ia curigai.
"Entahlah. Aku sendiri tidak tahu. Kamu teruslah mencari tahu informasi lain yang berkaitan dengan Janu. Lebih bagus kalau kamu bisa menemukan bukti kejahatannya," kata Cheryl.
"Arsen bagaimana? Kamu juga harus membicarakan hal ini dengannya supaya tidak ada salah paham," usul Michan.
***
Flash back on
“Tuan, itu wanita yang sedang berjoged di sana merupakan putri dari Tuan Hendry,” kata salah seorang anak buahnya.
Janu tampak duduk santai di salah satu meja klab malam sembari menikmati wine yang dipesannya. Ia mengarahkan pandangan pada sosok wanita muda berpakaian cukup sek si dengan tangtop dan hotpant sedang menari-nari bahagia mengikuti alunan musik.
Melihat penampilan semacam itu sudah membuat Janu tidak tertarik. Entah mengapa rasanya wanita yang dikenalnya dulu sudah banyak berubah. Cheryl seperti wanita liar. Padahal, ibu Cheryl terlihat santun dan elegan setiap kali mereka bertemu.
Sejak kecil orang tuanya selalu membahas tentang kebaikan keluarga Cheryl. Katanya, Tante Citra dulu merupakan orang yang menolongnya dari penculikan. Cheryl lahir lebih cepat dari semestinya karena Citra mengalami komplikasi kehamilan setelah menolongnya. Orang tuanya seakan ingin mengingatkan jika dirinya memiliki hutang budi terhadap keluarga Cheryl.
Kalau bisa memilih, mungkin ia lebih baik tidak ditolong oleh Citra agar ia tidak berhubungan dengan Cheryl atau keluarganya.
Membayangkan dirinya harus menjaga wanita semacam itu sudah membuatnya merasa pusing. Ia merasa akan sangat direpotkan kedepannya.
“Tuan, apa perlu saya memanggilnya agar datang ke sini?” tanya anak buahnya.
“Tidak perlu. Aku sudah cukup melihatnya dari sini sana.”
“Baik, Tuan.”
Janu kembali mengarahkan pandangan kepada Cheryl. Wanita itu dirangkul oleh seorang lelaki dengan mesra. Keduanya duduk tak jauh dari Janu sehingga ia bisa lebih jelas memperhatikan. Janu semakin tidak suka dengan Cheryl. Ia bisa menilai pergaulan yang dilakukan wanita itu sebebas apa.
__ADS_1
Flash back off
Janu berdiri menghadap jendela kaca di ruang kerjanya. Dari sana ia bisa melihat pemandangan gedung-gedung tinggi serta hilir mudik kendaraan di senja itu. Tempatnya berdiri saat ini merupakan perusahaan milik keluarga Cheryl yang berhasil ia kuasai.
Meskipun bukan sepenuhnya kesalahan keluarga Cheryl, entah mengapa sesekali muncul rasa benci dan hasrat ingin balas dendam kepada mereka. Cheryl sudah ada dalam genggamannya, ia bisa kapan saja menyiksa wanita itu sampai ia merasa puas.
"Kalau saja Om Hendry tidak bekerjasama dengan mereka, seharusnya keluargaku tak perlu mati," gumam Janu.
"Anda tidak bisa menyalahkan orang yang tidak berkaitan secara langsung, Tuan. Anda harus fokus pada target utama," nasihan Finn.
"Aku tahu! Aku hanya menyayangkan langkah yang Om Hendry ambil saat itu," kata Janu.
"Jalan untuk mengambil alih PT Atmajaya Sentosa memang cukup sulit, Tuan. Anda harus bersabar," ucap Finn.
Janu menghela napas panjang. Ia telah merencanakan balas dendamnya untuk waktu yang lama. Ia sudah banyak bersabar dan menahan diri hingga akhirnya bisa kembali. Ambisinya ingin mengembalikan apa yang seharusnya menjadi haknya.
"Tuan, apakah Anda butuh waktu bersiap-siap? Sebentar lagi kita hari datang ke Hotel XXX untuk menghadiri acara makan siang dengan keluarga Nona Ariana," kata Finn mengingatkan.
Janu memijit keningnya. Ia hampir lupa dengan janjinya sendiri. "Kita berangkat sekarang!" ucap Janu.
Ada banyak hal positif yang bisa didapatkan dari perjodohan itu. Ia lebih mudah bergaul di kalangan para pengusaha. Dengan nama besar Handoko, namanya sendiri menjadi cepat dikenal.
Wanita bukanlah sosok yang menarik untuknya. Hidup Janu dipenuhi dengan ambisi dan balas dendam. Ia tak memiliki cinta kepada siapapun.
"Janu ...,"
Ariana berlari menyambut kedatangan Janu dan langsung memeluknya. Padahal di sana ada orang tuanya, namun ia tak malu melakukannya. Janu yang dingin hanya berpura-pura menyukai sambutan Ariana.
"Ayo, Sayang, duduk denganku."
Ariana menggandeng lengan Janu dan menganaknya berjalan menuju meja yang telah dipersiapkan. Keduanya duduk berdampingan.
__ADS_1
"Kamu pasti sangat sibuk dengan pekerjaan barumu, Janu," kata Pak Handoko.
Janu mengulaskan senyum. "Saya tidak sesibuk itu. Maaf kalau saya sedikit terlambat datang," katanya dengan nada yang sopan.
"Kamu tidak datang telat, Janu. Kami yang kepagian datang karena Ariana ingin mengecek tempatnya lebih dulu" sahut Ibu Handoko.
Ariana menyenderkan kepala dengan manja di lengan Janu seakan tak mau melepaskan lelaki itu.
Pelayan mulai datang menuangkan wine di gelas. Ada pula yang menyajikan hidangan pembuka di hadapan mereka.
"Sepertinya putriku sudah tidak bisa jauh-jauh darimu. Bagaimana kalau perjodohan kalian dipercepat? Kamu bisa menghubungi orang tuamu terlebih dahulu," kata Pak Handoko.
Janu terlihat kurang nyaman disuguhi dengan pembahasan tentang pernikahan. Kalau bisa, ia lebih memilih untuk tidak menikah seumur hidup. Keluarga menurutnya adalah suatu beban dan kelemahan.
Orang yang memiliki keluarga tidak akan berani melakukan hal-hal yang beresiko. Kehilahang keluarga juga rasanya sangat menyakitkan. Ia tak menginginkan apapun lagi di dunia ini selain membuat orang-orang yang telah menghancurkan keluarganya mati secara mengenaskan.
"Saya belum bisa memberi kepastian karena ada satu hal yang harus saya selesaikan," kata Janu.
Pak Handoko tampak mengerutkan dahinya. "Apa itu?" tanyanya.
"Saya ingin berinvestasi di PT Atmajaya Sentosa," ucapnya secara blak-blakan.
Tidak ada yang tahu jika dia merupakan Januar Atmaja. Semua orang telah menganggapnya mati. Selama tinggal di luar negeri, ia menggunakan nama belakang suami Silvia, Edgar Dimitri. Ia dikenal sebagai adik Kenzo dan anak Silvia.
"Untuk apa kamu berinvestasi di sana? Ada banyak perusahaan lain yang bisa kamu jadikan tempat investasi. Aku dengar cukup sulit jika ingin berinvestasi di sana. Memang terdengar aneh, tapi mereka membatasi pada kalangan mereka sendiri," kata Pak Handoko.
"Justru itu yang membuat saya tertarik untuk ikut masuk ke sana," jawab Janu.
Ia hanya ingin memastikan siapa saja yang terlibat dengan kematian keluarganya. Ia bersumpah tidak akan membiarkan hidup mereka tenang bahkan sampai mereka mati.
Pak Handoko terlihat agak heran dengan jalan berpikir Janu. "Kamu hanya menyulitkan dirimu sendiri."
__ADS_1
"Mungki itu benar. Tapi, masuk ke PT Atmajaya telah menjadi impian saya sejak lama. Dan impian saya berikutnya adalah menikah dengan Ariana." Janu mengeluarkan gombalannya.
Ariana tentu saja merasa senang dengan perkataan Janu. Pak Handoko yang merasa putrinya sangat mencintai Janu, ia pasti akan berusaha membantu Janu walaupun tidak diminta. Ia hanya ingin putrinya segera menikah dengan Janu.