
"Wanita bodoh ini benar-benar ...."
Byur!
Janu mengabaikan rasa kesalnya terhadap Cheryl. Ia menceburkan diri ke dalam sungai, mengikuti arus yang cukup deras untuk meraih tubuh wanita itu.
Cheryl tampak berusaha menyembulkan kepalanya ke permukaan air. Kakinya kram dan tidak bisa digunakan berenang. Arus terus membawanya hanyut ke bagian hilir. Sesekali ia merasakan tubunya membentur bebatuan serta tergores ranting-ranting yang ada di sekitar aliran sungai. Hingga akhirnya ia pingsan saat kepalanya membentur batu.
Janu mempercepat gerakannya. Wanita itu tampak tidak bergerak, hanyut begitu saja bersama aliran air. Ia menjadi semakin panik. Setelah bersusah payah berusaha, akhirnya ia bisa meraih tubuh Cheryl.
Ditariknya tubuh wanita itu ke tepian. Janu terengah-engah. Ia sangat kelelahan dan hampir kehabisan napas. Mereka terseret arus air cukup jauh.
"Cheryl, buka matamu! Cheryl!" Janu berusaha menepuk-nepuk pipi wanita itu. Tak ada respon. Ia semakin khawatir kalau sampai wanita itu mati.
Janu memberikan tekanan pada dada Cheryl dengan gerakan yang teratur, berharap wanita itu bisa bangun dan mengeluarkan air yang telah terlanjur tertelan. Merasa usahanya belum berhasil, ia memberikan napas bantuan.
"Cheryl bangun!" teriak Janu panik. Segala usahanya tak membuahkan hasil.
Ia akhirnya memutuskan untuk memapah tubuh wanita itu dan membawanya berjalan mencari pertolongan.
"Tolong ... Tolong ...," teriaknya panik sembari menggendong Cheryl.
Tempat ia berada saat ini cukup sepi, jarang ada kendaraan yang lewat. Beberapa menit menunggu, akhirnya terlihat sebuah mobil yang lewat. Ia nekad berdiri di tengah jalan menghentikan mobil tersebut.
"Ada apa ini?" seorang lelaki yang mobilnya dihentikan Janu turun hendak memaki-maki. Melihat kondisi mereka yang basah kuyup, serta wanita yang sepertinya tengah pingsan, ia jadi tidak tega.
"Tolong antar kami ke rumah sakit terdekat. Dia hanyut di sungai," ucap Janu.
"Ah, iya. Masuklah ke dalam mobil!"
Mereka bergegas masuk ke dalam mobil. Istri si pemilik mobil ikut terkejut melihat orang yang baru masuk ke dalam mobil mereka.
__ADS_1
"Kenapa itu, Yah?" tanya sang istri khawatir.
"Katanya hanyut di sungai," jawab sang suami seraya melajukan kembali mobilnya.
Setibanya di rumah sakit, Cheryl langsung dilarikan ke IGD. Para dokter segera berusaha memberikan pertolongan.
Janu masih terlihat cemas dengan kondisi wanita itu. Ia bahkan tidak sanggup menelepon Thor agar datang ke sana. Ia meminta seorang perawat untuk menghubungi anak buahnya itu.
***
"Ariana," panggil Janu dengan nada lembut.
Wanita yang dipanggil itu menoleh sekilas. Mengetahui orang yang datang adalah Janu, ia kembali memalingkan pandangan dan memasang wajah kesal. Ia kembali fokus dengan lukisan yang tengah dibuatnya.
Sejak kejadian malam itu, ia telah memblokir nomor Janu. Bahkan, ia menyuruh bodyguard untuk mengusir lelaki itu setiap kali datang menemuinya.
"Bagaimana caramu bisa masuk ke sini?" tanya Ariana tanpa menoleh ke arah Janu. Seharusnya di luar sana ada beberapa bodyguard yang berjaga di studio tempatnya menyalurkan hobi melukis.
Ariana sudah menebaknya. "Ternyata kamu pandai mengambil hati orang," kata Ariana dengan menyunggingkan senyuman sinis.
Wanita mana yang tidak murka saat mendengar ada seorang wanita datang mengaku sebagai istri dari pacarnya sendiri. Meskipun Janu tidak mengakui, perlakuan pacarnya malam itu semakin membuatnya ragu. Ariana menunggu begitu lama di restoran tapi Janu tak kunjung kembali menemuinya.
"Aku ingin minta maaf dan meluruskan semuanya, Ariana." Janu kembali berbicara. Nadanya terdengar tulus dan penuh penyesalan. Siapa yang mendengar pasti akan mudah percaya dengan ucapan itu.
Ariana mempercepat gerakan tangannya menggoreskan cat warna diatas kanvas. Ia meluapkan rasa marahnya lewat lukisan yang tengah dibuat.
"Wanita itu masuk rumah sakit karena mencoba bunuh diri. Bahkan dia belum sadarkan diri."
Janu berusaha menyembunyikan rasa cemasnya terhadap kondisi Cheryl. Meskipun kesal, bagaimanapun juga wanita itu adalah anak dari wanita yang telah menyelamatkannya. Ia tidak bisa membiarkan wanita itu mati begitu saja.
Sementara, ia harus tetap menjaga hubungan dengan Ariana. Ada tujuan tersembunyi yang dimilikinya untuk tetap berhubungan dekat dengan keluarga Ariana.
__ADS_1
"Lalu, untuk apa kamu datang ke sini? Temani saja wanita itu! Dia kan istrimu!" omel Ariana.
"Kamu masih percaya dengan pengakuannya? Come on, Ariana! Apa kalau ada 10 orang mengaku sebagai istriku, kamu akan langsung percaya?" Janu menegaskan kata-katanya. Ia berusaha memberitahu wanitanya bahwa itu bukan salahnya. "Siapapun bisa mengaku seenaknya. Tapi, hal itu tidak benar!"
Ariana menoleh dan melayangkan tatapan tajam. "Kalau tidak benar, kenapa kamu kelihatannya sangat peduli padanya? Kamu tega meninggalkan aku di restoran sendiri seperti orang gila!"
Ia masih ingat bahwa dirinya terus menunggu Janu kembali sampai restoran yang didatanginya hampir tutup. Ia menangis sendirian menghadapi pesanan makanan yang sudah dingin.
Janu terdiam sejenak. "Ariana, maafkan aku. Aku memang salah," katanya. Ia terus berusaha merayu wanita itu agar mau memaafkannya.
"Sebenarnya aku tidak terlalu peduli padanya. Tapi, dia anak mantan pelayan di rumahku. Dia jadi agak gila karena pernah disiksa suaminya dan kehilangan bayinya. Dia sangat terobsesi padaku," kilah Janu.
"Kemarin aku berusaha menasihatinya, tapi dia nekad terjun ke sungai. Dia mau bunuh diri."
Mendengar penjelasan Janu, Ariana terkejut sendiri. Ia tidak menyangka jika wanita yang mengaku sebagai istri Janu benar-benar wanita gila. Sepertinya wanita itu tersentuh dengan cerita karangan Janu.
"Apa kamu juga akan membiarkan orang seperti itu mati begitu saja?" tanya Janu dengan nada serius.
Ariana menggeleng. Sebagai sesama wanita, tidak mungkin ia merasa kasihan dengan cerita yang begitu miris seperti itu.
Janu meraih tangan kiri Ariana dan menciumnya. "Aku harap kamu tidak salah paham, Sayang. Wanita yang aku cintai hanya kamu."
Entah mengapa hati Ariana menjadi luluh. Ia lega mendengarkan pengkuan langsung dari sang kekasih. Diletakkannya kuas lukis lalu ia memeluk tubuh lelaki itu dengan tulus.
"Kalau sampai kamu membohongiku, aku akan membencimu sampai mati!" ucap Ariana dengan nada yang memanja. Meskipun kesal, ia sangat takut kehilangan Janu. Ariana sangat mencintai lelaki itu.
Janu hanya tersenyum sambil mengelus punggung Ariana. "Aku tidak akan membohongimu, Ariana. Aku sangat mencintaimu. Beberapa hari tidak bisa bertemu denganmu, rasanya aku mau mati," bualnya.
Mereka bertemu saat sama-sama kuliah di luar negeri. Keduanya satu kampus, namun beda jurusan. Karena sama-sama berasal dari negara yang sama, hubungan mereka menjadi lebih dekat. Merasa saling nyaman ketika bersama, akhirnya memutuskan untuk berpacaran.
__ADS_1