
"Hah, perombakan kepengurusan perusahaan lagi? Sumpah?" ucap Vina kaget.
"Yang aku dengar begitu. Kemungkinan ada beberapa jabatan yang diganti posisinya, entah staf, kepala manajer, atau direktur yang mengalami penggantian. Info ini juga valid karena aku mendengarnya sendiri dari ruang HRD," ucap Tiara.
Cheryl baru saja selesai mengisi gelasnya dengan kopi dan membawanya ke meja pantry tempat kedua teman sekantornya sedang bercakap-cakap. Ia kurang bersemangat setelah bertemu dengan Dokter Diana.
"Oh, kalau itu sih sudah valid," ucap Vina menimpali. "Kalau menurut pendapatku, Pak Arsen yang bakalan naik jabatan menjadi presdir menggantikan ibu Thea."
"Heh! Kamu sembarangan saja. Masa Ibu Thea digantikan? Dia kan pemilik perusahaan ini," kilah Tiara.
"Justru karena pemilik perusahaan, makanya Ibu Thea bisa saja menyerahkan jabatannya ke orang kepercayaan. Lagi pula Ibu Thea juga tidak memiliki putra, jadi bisa saja diserahkan pada Pak Arsen yang cukup dekat dengannya," kata Vina.
Cheryl tak begitu menggubris percakapan mereka. Apalagi yang dibahas adalah Arsen. Ia sibuk mengaduk-aduk kopinya agar cepat dingin dan bisa diminum.
"Keren banget sih kalau hal itu bisa terjadi. Di usia yang masih sangat muda itu bisa naik jabatan menjadi presdir itu luar biasa." Tiara mengungkapkan kekagumannya.
"Lagipula dia kan memang punya kemampuan," tambah Vina.
"Eh, Pak Arsen sebenarnya sudah punya pacar apa belum, ya?" Tanya Tiara.
"Nggak tau tuh! Coba tanya sama Cheryl, dia sering banget dipanggil masuk ke ruangan Pak Arsen. Aku rasa dia tertarik dengan Cheryl," kata Vina.
Cheryl hanya tersenyum kaku memandangi mereka.
"Yah, kalau saingannya Cheryl, aku mundur teratur, nggak bakalan menang soalnya," gumam Tiara.
"Belum juga usaha kok sudah mau menyerah gitu. Semangat, Tiara!" Vina memberikan semangatnya.
"Hahaha ... Nggak deh, aku hanya bercanda. Mana mungkin aku berkhayal bisa mendapatkan lelaki seperti Pak Arsen. Dia sudah tampan, kaya, dan mapan. Seleranya pasti minimal Cheryl, lah!" kata Tiara.
"Jika dia jadi presdir? Masalah pribadinya pasti juga diatur, kan? Keluarganya bisa saja menjodohkan dengan wanita yang selevel dengannya. Mana mungkin calon presdir bisa sembarangan berpasangan dengan wanita biasa," ujar Vina.
"Atau bisa jadi sebenarnya dia sudah berpacaran dengan wanita yang selevel dengannya. Meskipun di kantor terlihat galak dan menakutkan, bisa saja itu berbeda saat bersama dengan wanita yang jadi kekasihnya. "
__ADS_1
"Bagaimana menurut pendapatmu, Cheryl?" tanya Vina.
"Hah, apa?" Cheryl terkejut saat ditanya. Sejak tadi ia tidak fokus dengan perbincangan mereka.
"Kalau menurutmu, Pak Arsen itu sudah punya pasangan atau tidak?" Vina kembali mengulang pertanyaannya.
"Ah, itu ya ... Aku tidak tahu," kilah Cheryl. "Lagi pula, aku juga tidak tertarik untuk mengurusi hal urusan pribadi orang lain. Pekerjaanku saja sudah cukup pusing!"
"Padahal aku penasaran banget bagaimana kalau orang sesempurna Pak Arsen bisa bersanding dengan Cheryl. Kalian pasti sangat serasi.
Cheryl hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan Tiara. Apa yang mereka katakan sama sekali tak mencerminkan apa yang dialaminya. Belum tentu orang yang sempurna dari luarnya juga baik di dalamnya.
Pengkhianatan yang Arsen lakukan padanya memorehkan luka yang begitu mendalam. Sampai sekarang rasa sakit hatinya juga masih ada. Ingin rasanya ia membalaskan rasa sakit hati itu dengan cara yang lebih menyakitkan. Arsen telah membuat harga dirinya terluka.
Ponsel Cheryl yang ada di atas meja bergetar. Muncul nomor kontak ibu Arsen di layar ponselnya. Segera ia mengambilnya sebelum ada yang melihat.
"Aku angkat telepon ini dulu sebentar," ucap Cheryl seraya berjalan pergi menjauh dari mereka.
"Halo, Ibu?" sapanya.
"Halo, Cheryl. Aku kira kamu tidak akan mengangkat teleponku juga."
Dari nada bicara Ira, ia tahu jika ibu Arsen itu sepertinya sedang kurang suka padanya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Sepertinya kita tidak perlu berbasa-basi lagi. Arsen sudah menceritakan kalau kamu katanya meminta putus darinya."
Cheryl terdiam. Ia tidak menyangka jika Arsen begitu kekanakkan menceritakan masalah pribadi mereka kepada orang tuanya.
"Dengar, Cheryl. Kalian sudah lama saling mengenal dan Arsen selama ini juga tidak pernah berbuat buruk padamu. Putraku bisa saja melakukan satu kesalahan. Apa kamu sampai harus mendramatisir masalah itu sampai meminta putus?"
Cheryl merasa sakit hati mendengarkan nada bicara Ira yang terkesan angkuh kepadanya. Selama ini, ia mengenal Ira sebagai sosok yag keibuan dan lemah lembut. Ini pertama kalinya ia mendengar kata-kata yang menyakitkan dari wanita itu.
__ADS_1
Ia tidak terima perbuatan Arsen sebagai masalah yang sepele. Bahkan hatinya masih terasa hancur setiap kali mengingat peristiwa itu.
Ia telah susah payah menunggu momen yang tepat untuk lari dari rumah Janu. Ketika ia hampir berhasil melakukannya, Arsen sendiri yang trlah mematahkan mimpinya untuk membina rumah tangga berdua. Bahkan saat ini ia semakin terikat dengan Janu karena lelaki itu tak akan rela melepaskannya.
"Katanya kamu tetap ngotot mau putus gara-gara Arsen tidur sekali dengan Dokter Diana? Itu sangat keterlaluan. Kamu bahkan mungkin sudah pernah tidur dengan lelaki lain berkali-kali. Apa hal seperti itu patut untuk dipermasalahkan?"
Telinga Cheryl terasa semakin panas. Ira seolah ingin menghinanya dan melabelinya sebagai wanita murahan yang mudah tidur dengan siapa saja. Itu sangat menyakitkan.
"Apa kamu tuli? Kenapa tidak bicara padaku sekarang?"
Cheryl menghela napas. "Iya, Ibu. Saya masih mendengarkan," ucapnya dengan nada santun.
"Bersikaplah lebih baik kepada Arsen. Kamu pasti tidak tahu kalau dia berusaha untuk mengiris pergelangan tangannya setelah kamu meminta putus. Arsen hampir mati, Cheryl."
Lagi-lagi Cheryl merasa kecewa dengan Arsen. Selain kekanak-kanakkan, lelaki itu juga pengecut. Arsen tak berani menghadapi masalah yang dibuatnya sendiri dan lebih memilih bunuh diri. Itu sangat gila.
"Lalu, apa itu menjadi tanggung jawabku jika Arsen lebih memilih bunuh diri?" tanya Cheryl yang sudah tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.
"Hah! Sepertinya kamu memang tidak pernah dididik dengan baik oleh orang tuamu! Bisa-bisanya kamu mengatakan hal yang kurang ajar seperti itu!"
Ira memaki-maki Cheryl dengan kasar. Cheryl semakin tidak terima kedua orang tuanya dibawa-bawa dalam masalah mereka.
"Putraku sudah berkali-kali meminta maaf padamu, bahkan sampai bersujud dan merendahkan dirinya demi mendapatkan maafmu. Tapi, sepertinya kamu memang tidak peduli sama sekali dengan putraku."
"Ibu juga tidak peduli dengan perasaan saya. Hanya Arsen yang Anda pedulikan. Saya juga memiliki kehidupan saya sendiri, Ibu. Untuk apa saya meneruskan hubungan yang tidak membuat saya bahagia." Cheryl berani menimpali perkataan Ira.
"Bahkan Anda tega memasukkan wanita yang telah tidur dengan putra Anda ke perusahaan mami. Apa Anda sedang bermaksud memberikan penghargaan pada wanita murahan seperti dia?"
"Maaf, Ibu. Apapun alasannya, saya sudah tidak berniat kembali pada Arsen. Saya ingin fokus pada kebahagiaan hidup saya sendiri."
"Anak kurang ajar!" umpat Ira. "Kalau sampai terjadi apa-apa pada Arsen, aku tidak akan memaafkanmu!"
Cheryl memutuskan sambungan teleponnya. Ia merasa harus menjaga kewarasan sehingga menghindari kata-kata toxic wanita itu.
__ADS_1