
Sesampainya di depan rumah, Cheryl masih tertidur di pangkuan Janu.
"Apa perlu saya bantu membawa Nyonya Cheryl ke dalam, Tuan?" tanya Finn yang baru saja membantu membukakan pintu.
Janu memberikan lirikan tajam ke arah Finn. "Biar aku saja yang membawanya!" tegas Janu. Ia seakan tidak rela istrinya disentuh orang lain.
Janu memapah Cheryl, membawa wanita itu masuk ke dalam kamar. Ia merebahkan perlahan agar istrinya tidak terbangun.
"Jangan pergi!"
Cheryl memegangi ujung pakaiannya saat Janu hendak pergi dari kamar itu. Tampak sang istri membuka mata dan menatap dengan sendu.
Janu duduk di tepian ranjang, mengusap lembut rambut Cheryl. "Tidurlah, besok kita baru bicara," ucapnya.
Cheryl menggeleng. "Aku butuh teman," lirihnya.
"Jadi, apa kamu ingin bicara sekarang?" tanya Janu memastikan.
Cheryl bangkit. Ia kembali memeluk Janu seperti seorang yang ingin dimanja. Melihat perubahan sikap istrinya, tentu saja membuat Janu kebingungan.
"Aku merasa sangat sedih sampai tidak tahu bagaimana harus mengungkapkannya." Cheryl mulai bisa berbicara. Air matanya kembali menetes mengingat kembali hal yang membuat hatinya terasa sangat sakit.
"Apa ini ada kaitannya dengan pacarmu itu?" tanya Janu. Ia sangat benci saat harus membahas lelaki lain yang sangat dicintai istrinya. Ia berusaha menahan diri untuk mendengarkan cerita sang istri.
"Aku tidak tahu lagi harus cerita dengan siapa. Hatiku terasa sangat sesak sampai rasanya tidak bisa bernapas," ucap Cheryl. Ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Apa yang dia lakukan padamu, Cheryl?"
__ADS_1
"Hiks ... Hiks!" Cheryl mulai terisak kembali. "Dia tidur dengan wanita lain ... Huhuhu ...." ia menelusupkan wajahnya di dada Janu.
Sebenarnya Janu sangat kesal mengetahui istrinya menangis karena lelaki lain. Namun, melihatnya menangis, Janu tak tega untuk marah. Ia hanya bisa mengusap punggung Cheryl untuk menenangkan.
"Dia jahat!" umpat Cheryl.
"Apa perlu aku membunuhnya untukmu?" seloroh Janu.
"Ya! Bunuh saja dia. Aku tidak mau melihatnya ada di muka bumi ini!" Cheryl mengeluarkan kekesalannya.
"Tapi, aku tidak mau melakukannya. Aku tidak mau kamu nanti menyesal dan menangis lagi untuknya. Lebih baik dia tetap hidup agar kamu terus membencinya."
"Dia tidur dengan dokter pribadinya. Aku sudah dibohongi!"
Janu menyunggingkan senyum. "Biarkan saja, kamu kan juga bisa tidur dengan suamimu sendiri," candanya.
"Siapa yang sedang bercanda? Kamu sudah punya suami, untuk apa menangisi lelaki lain? Aku jadi sedikit bersyukur kejadian ini bisa menyadarkanmu kalau tindakanmu selama ini sudah salah." Janu mulai menyindir perbuatan Cheryl.
Cheryl yang merasa tersindir melepaskan pelukannya dan tertunduk di hadapan Janu. "Kamu pasti marah, kan?" tanyanya.
Janu mengangkat dagu Cheryl agar menatap matanya. "Adakah suami yang tidak marah jika istrinya berniat kabur dengan lelaki lain? Aku sangat marah, Cheryl ... Sampai aku buru-buru pulang untuk menghentikan tingkah bodohmu ini!" Ia memberikan tatapan tajam dan provokatif terhadap istrinya.
"Pernikahan kita kan bukan pernikahan yang wajar, kenapa kamu terus menyebutku sebagai istri?" Cheryl mencebikkan bibir.
"Apapun alasannya, pernikahan tetap pernikahan. Selama kita belum bercerai, kamu adalah istriku dan tidak boleh selingkuh dengan lelaki lain!" tegas Janu.
Cheryl merasa lemas setiap kali mengingat apa yang Arsen lakukan. Sampai matipun ia tak akan bisa melupakan dan memaafkannya. Seharusnya ia lebih percaya pada firasatnya sendiri. Mana mungkin ada dokter yang rajin berkunjung ke kediaman pribadi pasiennya tanpa jadwal yang jelas.
__ADS_1
"Ah!"
Cheryl terkejut dan melebarkan matanya. Tiba-tiba Janu merengkuh dan membuatnya berguling di atas ranjang.
"Kamu mau apa?" tanya Cheryl. Janu tepat berada di atas tubuhnya dengan tatapan yang tajam terarah padanya.
Janu menyeringai. "Tentu saja mau memarahi istri yang sudah membuat suaminya khawatir."
"Aku kan tidak bermaksud begitu." Cheryl berusaha mengelak. Ia tak berani menatap wajah lelaki yang ada di hadapannya.
Janu mengunci tangannya sehingga ia tak bisa berkutik di bawah kungkungan lelaki itu.
"Wanita senakal dirimu pasti sangat pintar mengambil kesempatan. Saat aku pergi kami berencana kabur dengan lelaki lain, kan?" Janu mendekatkan wajahnya mengintimidasi istrinya.
Cheryl merasa terpojok. Ia berusaha memalingkan muka agar Janu tak menciumnya.
"Ah!" pekiknya.
Janu menempelkan bibir pada ceruk lehernya. Rasanya sangat aneh, membuatnya seakan merinding sekujur tubuhnya. Apalagi ketika Janu menyisir area lehernya dengan ciuman bertubi-tubi seakan ada desiran-desiran aneh itu membujuknya untuk menyerah pasrah.
"Janu ... Berhenti!" teriaknya.
Ia menggeliat mencoba melepaskan diri. Namun, Janu tak melonggarkan cengkramannya.
Janu berhenti. Ia kembali menatap Cheryl dengan intens. "Mengetahui istriku memikirkan lelaki lain itu sangat menyebalkan. Aku ingin mulai sekarang kamu hanya memikirkan suamimu sendiri," katanya.
Kali ini ia memagut bibir istrinya dengan agresif. Awalnya Cheryl terus berusaha menolak, namun kegigihannya memaksa membuat wanita itu akhirnya mengalah dan menuruti kemauannya. Janu baru melepaskan ciumannya ketika istrinya tampak hampir kehabisan napas.
__ADS_1
Wajah yang bersemu merah dengan napas yang setengah memburu itu begitu menggodanya. Ia tak bisa lagi menahan diri.