
Setelah satu minggu cuti dari pekerjaannya, hari ini Cheryl kembali berangkat ke kantornya. Ia sudah cukup kelelahan mengikuti kemauan Janu yang di luar nalar terus mengajaknya bercinta seolah mereka masih pengantin baru.
Ia memantapkan hati untuk kembali ke perusahaan menepis keresahaannya karena pasti akan bertemu dengan Arsen, lelaki yang kini sangat dihindarinya. Ia berpikir lebih baik menghadapi Arsen dengan tegar dari pada terus di rumah dan Janu tak mengijinkannya keluar kamar.
"Dor!" Hendra memukul pundak Cheryl hingga mengagetkan wanita itu. "Akhirnya Dewi dari Divisi Marketing berangkat juga ...," selorohnya.
Cheryl mengelus dadanya. Hampir saja jantungnya mau copot karena dikagetkan. "Kamu bisa nggak mrnyapa orang dengan wajar? Rasanya aku mau jantungan," protesnya.
"Hahaha ... Maaf, ya! Aku terlalu bersemangat melihatmu kembali ke kantor. Katanya kamu sakit selama seminggu ini?"
Cheryl hanya tersenyum kaku, ia bahkan tak tahu alasan apa yang Janu buatkan untuknya. Awalnya ia juga tak mau kembali lagi bekerja di sana. "Aku tidak sakit. Aku hanya ada urusan penting saja yang perlu ditangani."
"Enak, ya, jadi kamu. Ambil cuti sampai seminggu tapi tidak dipecat. Kalau aku atau karyawan lain yang melakukan, orang HRD pasti sudah tidak perlu sungkan-sungkan mengirimkan surat pemecatan," gumam Hendra.
Setibanya di depan lift, mereka menunggu sampai lift terbuka dan masuk ke dalamnya menuju ruang tim pemasaran.
Pintu lift terbuka. Mereka telah sampai di lantai yang dituju. Langkah kaki Cheryl terhenti saat melihat sosok yang tak asing baginya ada di sana. Seorang wanita mengenakan seragam dokter terlihat berjalan lewat di hadapannya.
"Kamu kenapa, Cher?" tanya Hendra bingung. Tiba-tiba saja Cheryl berhenti.
"Ah, aku tidak apa-apa," kilahnya. Mereka kembali berjalan menelusuri koridor sebelum sampai di ruang divisi marketing.
"Kamu tadi lihat dokter yang barusan lewat, kan?" tanya Cheryl.
"Oh, itu. Dia dokter yang baru bergabung di tim medis perusahaan, namanya Dokter Diana. Baru beberapa hari dia bergabung di sini. Kamu mengenalnya, ya?"
"Tidak, aku tidak mengenalnya," tepis Cheryl.
Tentu saja ia tidak akan lupa seperti apa wajah wanita yang telah menggoda kekasihnya. Ia masih merasa sakit hati dengan wanita itu.
__ADS_1
Sepertinya keputusan untuk kembali ke perusahaan bukanlah langkah yang tepat. Ia bukan hanya harus menghadapi Arsen, tetapi juga Dokter Diana.
"Dia banyak juga dibicarakan karyawan lain karena kecantikannya. Tapi, kalau menurutku, masih tetap lebih cantik Cheryl dari Divisi Marketing," goda Hendra.
Cheryl hanya tersenyum. Ia tahu Hendra hanya berniat bercanda kepadanya. Tapi, kalau Janu yang mendengar sendiri perkataan Hendra barusan, suaminya yang arogan itu pasti tidak akan melepaskan Hendra. Lelaki itu sepertinya tidak mengerti apa yang namanya bercanda.
"Cheryl ... Akhirnya teman kerja semejaku sudah kembali ...." seru Vina. Ia buru-buru berlari menyambut kehadiran Cheryl di ruang kerja mereka. Ia memberikan pelukan yang erat hingga Cheryl merasa sesak napas.
"Heh, lepaskan Cheryl! Dia bisa mati kalau kamu seperti itu terus!" tegus Hendra.
Vina melonggarkan pelukannya. Ia sangat bahagia mengetahui kondisi Cheryl baik-baik saja.
"Kalian kenapa pagi-pagi sidah membuat ribut? Ini kantor, ya! Bukan kafe! Kalau mau haha hihi sana pergi ke luar!"
Dinda yang merasa tidak senang dengan kegaduhan yang terjadi di ruang kerjanya mendekat dan memberi peringatan yang keras. Ketiganya langsung terdiam dan berjalan menuju tempat kerja masing-masing.
"Selama tidak ada kamu, Dinda sebenarnya lebih jinak. Aku heran kenapa dia kembali angkuh setelah kamu kembali," ucap Vina dengan nada setengah berbisik.
Keduanya tertawa pelan-pelan karena takut kena omel lagi.
Cheryl memang sangat cantik jika dibandingkan dengan karyawan lainnya. Bahkan dengan penampilan yang seadanya ia masih terlihat cantik. Wajar orang seperti Dinda akan iri terhadapnya. Apalagi Cheryl bisa dikatakan lumayan cakap dalam bekerja.
"Selama kamu pergi, aku sudah mengerjakan sebagian laporan yang ada di tumpukan meja kerjamu. Kamu tinggal melanjutkan sisanya. Kalau bingung, tanyakan saja padaku," kata Vina.
Cheryl merasa terharu. Ia tidak menyangka Vina akan seperhatian itu padanya. Padahal, mereka belum terlalu lama saling mengenal.
"Makasih ya, Vin! Kamu baik banget," ucap Cheryl.
"Hehehe ... Aku juga melakannya untuk diriku sendiri. Awalnya aku kira kamu tidak akan kembali lagi ke divisi ini."
__ADS_1
Niat awal Cheryl memang seperti itu. Namun, ada kondisi lain yang menjadikannya merubah rencana.
"Nanti saat makan siang, kita makan bareng di kantin, ya! Aku akan mentraktirmu makan," ajak Cheryl.
"Yeay! Kalau ajakan makan gratis mana mungkin bisa aku tolak. Makasih ya, Cheryl sayang!" Vina mengerlingkan sebelah matanya dengan genit.
Cheryl kembali fokus berkutat pada layar monitornya. Ia mengecek email yang berkaitan dengan perusahaan baik email masuk maupun email keluar. Ia juga mengecek laporan yang telah Vina bantu kerjakan secara teliti. Ia tidak ingin ada kesalahan yang bisa menyebabkan masalah di masa depan.
Dinda lewat di depan meja kerjanya. Wanita itu sepertinya tengah mengawasi rekan kerja yang lain dalam bekerja. Pemandangan semacam itu yang ia benci selama bekerja di sana. Ketua tim yang seharusnya mengayomi anak buahnya justru melakukan perannya seperti penegak hukum yang siap menjatuhkan vonis kapanpun anak buahnya melakukan kesalahan.
Untuk mengurangi ketegangan dalam bekerja, Cheryl sengaja masuk ke dalam toilet. Ia mencuci wajahnya yang terasa panas karena terlalu lama menatap layar monitor. Sapuan air yang mengenai wajahnya memberikan sensasi segar yang menenangkan.
Ternyata Dinda juga mengikutinya masuk ke dalam ruang toilet wanita itu. Ia mengunci pintu setelah dua orang keluar dari sana. Kini hanya ada mereka berada di toilet itu.
Cheryl menghela napas. Ia benar-benar ingin menjaga kewarasannya di hari pertama ia bekerja. Selain Janu yang membuatnya lelah di rumah, masih ada Dinda yang akan merepotkan fisik dan psikisnya selama bekerja di kantor itu.
Dinda berdiri di depan pintu keluar sembari melipat kedua tangannya di dada. Ia seakan tengah menunjukkan kekuasaannya bahwa Cheryl tidak bisa berbuat sesuka hati selama ada dirinya, termasuk di ruangan itu.
"Aku mau kembali bekerja!" ucap Cheryl.
"Ya, kamu boleh keluar setelah kita selesai berbicara." Dinda menyunggingkan senyuman sinis.
"Kamu mau membahas apa lagi? Aku baru juga masuk kerja. Tidak terima aku masih bertahan?" ledek Cheryl.
Dinda tertawa dengan rasa percaya diri Cheryl yang tinggi. "Apa kamu tahu kalau ada dokter baru yang masuk perusahaan?" tanyanya memastikan. Ia menyeringai seakan tengah meledek Cheryl.
"Namanya Dokter Diana. Tiga hari yang lalu dia baru bergabung dengan perusahaan kita. Tanpa mengajukan surat lamaran atau menjalani tes wawancara seperti pelamar lainnya. Kamu tahu kan, maksudku? Maksudku, dia masuk karena bantuan orang dalam," ucap Dinda.
"Ah, begitu," gumam Cheryl. Ia hanya mengangguk-angguk karena sudah tahu.
__ADS_1
Dinda tersenyum lebar. "Kamu tidak ingi tahu siapa yang memasukkannya?" tanyanya.