Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 73: Perdebatan


__ADS_3

"Mommy?"


Kenzo terkejut melihat keberadaan ibunya di sana. Ia tidak menyangka ibunya akan datang lebih cepat dari rencana.


"Kamu dari mana, Sayang?" tanya Silvia.


"Ada sedikit urusan di luar," jawab Kenzo. Ia berjalan mendekat dan duduk di hadapan ibunya.


Silvia menyilangkan kaki dan melipat tangannya. Tatapan tajamnya mengarah pada Kenzo, membuat putra kesayangannya itu tampak tertunduk. "Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" tanyanya.


"Sepertinya Mommy sudah tau semuanya."


"Kamu sudah tahu dan tidak memberitahu kepada Mommy, Kenzo?"


Kenzo terdiam sejenak. "Mau sampai kapan Mommy mengatur kehidupan Janu? Dia sudah dewasa dan bisa menentukan pilihannya sendiri."


"Mommy mau mengatur kehidupan Janu selamanya, Kenzo! Kamu dengar, kan? Dia harus membayar penderitaan yang Mommy alami karena ulah ibunya di masa lalu." Silvia berbicara dengan emosi sampai matanya membulat.


"Mom!" bentak Kenzo.


"Kalau kamu memang menyayangi Mommy, jangan campuri urusan Mommy dengan Janu!" tegas Silvia.


"Kenapa ramai sekali di sini? Apa aku boleh bergabung?" sahut Janu. Ia baru saja turun dari lantai atas setelah berdebat dengan Cheryl.


"Lama sekali kamu turun? Aku kira kamu akan kabur bersama wanita itu," sindir Silvia.


Janu tertawa kecil. "Untuk apa aku kabur?" jawabnya. Ia berjalan mendekat seolah tak takut berhadapan dengan Silvia.


Kenzo memegangi lengan Janu memberi isyarat agar adiknya tak perlu di sana namun Janu melepaskan tangannya. Dengan santai Janu duduk di hadapan Silvia. Mau tidak mau Kenzo kembali duduk di sana.


"Apa yang mau kamu lakukan dengan wanita itu? Mommy tidak mau perjodohanmu dengan Ariana batal," ucap Silvia.


"Aku tidak berencana membatalkannya."


Silvia tertawa. "Lalu, bagaimana dengan wanita itu?"

__ADS_1


"Dia akan tetap di sini," tegas Janu.


"Keluarga Handoko tidak akan bisa menerimanya. Dia tidak boleh ada di sini. Kalau kamu tidak bisa mengurusnya, aku yang akan menyingkirkanya!" Silvia tak mau kalah.


"Berani Mommy menyentuhnya sedikit saja, aku akan menggagalkan semuanya! Bahkan aku akan bekerja sama dengan Nyonya Thea yang paling Anda benci," ancam Janu.


Silvia melotot ke arah Janu. "Sudah berani kamu mengancamku?"


"Kalau bisa menyelesaikan segala sesuatu dengan tenang, kenapa harus saling mengancam, Mom? Cheryl tidak akan mengganggu rencana kita. Makanya, biarkan dia tetap di sini!" pinta Janu.


Silvia terdesak dan merasa tak punya pilihan lain. "Baiklah, lakukan sesukamu. Kalau sampai keluarga Handoko tahu, aku tidak akan segan-segan membunuhnya di depan matamu!" ia mengancam balik Janu.


"Mom ...." Kenzo tak tahan dengan kelakuan ibunya sendiri.


"Sudahlah, Kenzo. Kamu jangan ikut campur. Janu juga sudah menyetujuinya," timpal Silvia.


Kenzo benar-benar tidak habis pikir dengan keluarganya sendiri. Ia kira kembali ke tanah air akan membuka lembaran kehidupan yang lebih baik. Nyatanya, mereka masih mengurusi soal dendam lama.


"Perusahaan juga sudah kamu dapatkan, bukan?" tanya Silvia. Ia mendapatkan informasi dari Black.


"Kenapa tidak langsung kamu alihkan kepada kakakmu? Kamu mau menguasainya sendiri?"


"Aku yang tidak mau, Mom!" sahut Kenzo. Ia tidak ingin adiknya dipersalahkan atas keputusannya sendiri.


Silvia terdiam sesaat. Ia memandangi Kenzo dengan tatapan kesal. Ingin ia memarahi putra kesayangannya sendiri, namun tidak tega. "Kalau kamu tidak mau, biar Mommy yang menjalankan perusahaan itu. Memang kamu sepertinya tidak ingin melihat Mommy bahagia, Kenzo!"


"Aku sudah mengurus pengalihan kepemilikan kepada Kak Kenzo, Mommy tidak perlu khawatir tentang hal itu," ujar Janu.


"Baguslah kalau begitu. Artinya kamu memang masih menghargai kakakmu. Dia sampai mengorbankan perusahaannya demi dirimu."


"Perusahaanku memang hampir bangkrut, Mom. Janu berjuang sendirian di sini," sambung Kenzo.


Silvia semakin tak ingin menanggapi putranya sendiri. Meskipun anak kandung, Kenzo membuatnya kesal dengan membela Janu.


"Aku sudah berdiskusi dengan Pak Handoko. Katanya kamu juga siap kapanpun pernikahannya akan digelar. Keluarga mereka meminta diselenggarakan bulan ini juga. Mereka protes karena seakan kamu tak mau memikirkannya sama sekali," kata Silvia.

__ADS_1


"Aku memang fokus dengan pekerjaan, Mom. Lakukan saja pernikahan itu sesuai kesepakatan kalian."


"Ya. Tentu saja. Aku bilang kamu sudah siap. Mereka juga sudah mengatur bulan ini juga pernikahan kalian akan digelar."


Janu mangguk-mangguk. "Baiklah," jawabnya enteng.


Kenzo tidak menyangka Janu akan berkata demikian.


"Boleh aku kembali ke kamar, Mom?" tanya Janu.


"Kamu benar-benar sudah menikahi wanita itu?" tanya Silvia memastikan.


Silvi tampak tak peduli lagi. "Terserah apapun yang kamu lakukan. Tapi, setelah menikah dengan Ariana, jangan membuat putri Pak Handoko sedih. Nyawa wanita itu yang akan jadi jaminannya. Aku akan memantaumu."


Janu tak peduli. Ia bangkit dari duduknya meninggalkan ruang tengah menuju lantai atas.


Kenzo yang melihat Janu pergi turut pergi membuntuti adiknya. "Janu, tunggu!" Kenzo menghentikan adiknya sebelum masuk ke kamar.


"Kenapa, Kak?" tanya Janu.


"Maksudmu tadi apa?" tanya Kenzo balik.


"Seperti yang sudah Kakak dengar, aku akan melakukan apa yang Mommy minta."


Plak!


Kenzo memberikan tamparan pada Janu. "Sudah aku bilang, jangan menyakiti Cheryl atau Ariana demi rencana bodoh ini!"


Janu memegangi pipinya. Tamparan Kenzo cukup keras san membuatnya sakit. "Mommy sudah bilang kalau Kakak tidak perlu ikut campur dengan rencanaku."


"Kenapa kamu jadi menjijikan begini? Memangnya Cheryl dan Ariana punya salah apa padamu? Kalau kamu memang lelaki sejati, pilih saja satu di antara mereka dan biarkan yang lainnya pergi. Kamu pikir rencanamu akan berjalan dengan baik? Aku khawatir justru mereka berdua yang akan terluka karena keegoisanmu!" omel Kenzo. Ia sama sekali tak ingin melihat adiknya menjadi orang yang jahat.


Janu terdiam. Masalahnya tak sesederhana itu untuk diselesaikan. Sekalipun harus bercerita pada Kenzo, kakaknya juga belum tentu paham.


"Biar aku yang bertanggung jawab pada pilihanku sendiri, Kak!" ucap Janu.

__ADS_1


"Ya, terserah padamu. Aku tahu orang keras kepala sepertimu tak akan mendengarkanku!" kesal Kenzo. Ia lantas memilih pergi ke lantai bawah.


__ADS_2