
"Thor, bagaimana dengan Cheryl di sana?" tanya Janu.
Ia tersambung panggilan video dengan anak buahnya melalui monitor yang ada di hadapannya. Thor terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari bosnya.
"Thor, katakan saja semuanya ...!" desak Janu.
"Maafkan saya, Tuan. Nyonya Cheryl tidak mau mematuhi perintah Anda. Saya tidak berani menentang kemauannya."
Janu mengernyitkan dahi. Ia merasa ada yang tidak beres dengan istrinya selama ditinggal ke luar negeri.
"Apa saja yang dia lakukan?" tanya Janu.
"Nyonya sering pergi bersama lelaki yang bernama Arsen, Tuan."
Janu mengepalkan jemarinya. Ia tetap berusaha terlihat santai di hadapan anak buahnya. Sudah ia duga akan seperti itu jadinya.
"Kamu tidak mengikuti mereka?"
"Tidak, Tuan. Nyonya melarang saya ikut. Saya diancam mau dicium kalau memaksa ikut dan akan melaporkan kepada Anda yang tidak-tidak."
Janu menyeringai. Istrinya memang seorang gadis yang nakal. Sejak pertama melihatnya di klab malam waktu itu, ia sudah tahu akan sulit mengatasinya. Cheryl seakan telah menginjak harga dirinya sebagai seorang suami.
"Lalu, apa lagi yang dia lakukan selain itu?"
"Tidak ada, Tuan. Nyonya selalu pulang sebelum malam, kecuali saat ada jam lembur. Itupun saya yang menjemputnya."
"Oh, dia tidak diantar pulang oleh si brengsek itu?" tanya Janu memastikan.
"Tidak, Tuan."
"Baiklah kalau begitu. Lanjutkan kembali tugasmu!" perintah Janu.
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Janu memberi kode pada Finn agar mematikan sambungan teleponnya.
"Finn, apa akses CCTV rumah terhubung dengan monitor ini?" tanya Janu.
"Iya, Tuan."
"Bantu munculkan rekamannya!" perintah Janu.
"Baik, Tuan."
Janu mengecek rekaman CCTV beberapa hari yang lalu dari setiap CCTV yang terpasang di rumahnya. Ia menggerak-gerakkan kursor mencari rekaman yang diinginkan.
Ia memutar rekaman pada bagian saat Cheryl mengendap-endap keluar dari kamar. Wanita itu masuk ke dalam ruang kerjanya seperti tengah mencari sesuatu.
Ia memutar rekaman lainnya dan sama. Cheryl terlihat memasuki beberapa ruangan di rumah termasuk kamarnya.
"Finn, istriku sedang mencari surat-surat kepemilikan aset keluarganya. Dia mau kabur bersama pacarnya," kata Janu kepada Finn.
"Apa Anda menyimpannya di rumah?" tanya Finn.
"Ya, aku menyembunyikannya di rumah. Aku berharap dia tidak terlalu pintar untuk menemukannya."
Janu telah menyimpannya di tempat yang aman dan sangat rahasia. Dari rekaman CCTV, Cheryl belum mendekati tempat ia menyembunyikannya.
"Apa aku harus membuatnya hamil?" gumamnya.
"Memangnya Anda bisa?" celetuk Finn. Ia langsung menutup mulutnya yang keceplosan.
Saat lirikan tajam Janu terarah padanya, Finn langsung menunduk.
__ADS_1
"Kamu kira aku tidak bisa melakukannya?" Janu marah merasa diremehkan.
"Anda kan memang belum pernah melakukannya, Tuan. Anda sendiri yang pernah mengatakan kalau wanita memang merepotkan. Bukankah membuat Nyonya hamil akan semakin merepotkan?" kata Finn.
Selama ini ia tidak pernah melihat bosnya tertarik terhadap wanita. Sikapnya dingin dan hanya fokus pada tujuan pribadi. Berbeda dengan dirinya yang sesekali menikmati kehidupan malam, bosnya selalu menolak jika ada wanita yang mendekati.
"Setidaknya itu bisa membuatnya lebih betah di rumah. Tidak mungkin kan, dia akan membawa bayi di perut pergi pacaran?"
Finn kembali menutup mulutnya. Ia tidak berani menertawakan pemikiran bosnya.
"Apa Tuan menyukai Nyonya?" tanya Finn.
"Hah? Apa? Menyukainya? Pertanyaanmu ada-ada saja." Janu mengelak dari pertanyaan anak buahnya.
"Anda terkesan sangat terganggu dengan hubungan Nyonya dan Tuan Arsen. Bukankah tujuan Anda semula hanya untuk mendapatkan kembali Atmajaya Sentosa?"
Perkataan Finn menyadarkan diri Janu. Ia memang tidak tahu dengan apa yang dirasakan dirinya sendiri. Selama di luar negeri, ia selalu memikirkan wanita itu. Bahkan momen-momen ciuman dengannya terkadang terlintas di pikirannya dan benar-benar membuatnya ingin cepat kembali.
Tidak mungkin ia tertarik dengan gadis nakal yang hobinya berpesta-pesta di klab malam seperti wanita murahan.
"Kalau memang Anda tidak menyukai Nyonya, jangan berlanjut pada hubungan yang lebih jauh, Tuan. Apalagi jika Anda berniat membuat Nyonya hamil hanya untuk menahannya bersama Anda," nasihat Finn.
"Oh, iya. Apa semua persiapan sudah siap? Aku ingin rencana kita dipercepat." Janu mengalihkan topik pembahasan.
"Sudah, Tuan. Saya telah menyusun rute teraman untuk menjalankan misi kali ini," jawab Finn.
"Bagus! Bagaimana dengan Bull?"
"Dia bersedia melakukan misi yang lain. Sesuai permintaan Anda, saya juga sudah memberitahukan kepada Clark."
Janu tersenyum. Ia berencana menjebak Bull agar tertangkap dan masuk penjara bergabung bersama ayah angkatnya. Jika Bull tidak ada, Dimitri pasti akan kesulitan untuk melepaskan diri dari penjara.
__ADS_1
"Aku berharap polisi bisa menembak mati dirinya," ucap Janu.