Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 67: Rahasia di Bawah Meja


__ADS_3

"Kak Kenzo ...."


Ariana meninggalkan salah satu customer di kantornya dan menyerahkannya untuk ditangani staf saat melihat Kenzo datang ke tempat kerjanya. Ariana memberikan pelukan hangat kepada kakak dari tunangannya. Mereka sudah saling kenal saat mereka sama-sama berada di Amerika.


"Aku tidak menyangka kamu akhirnya mau menggunakan ilmumu," ucap Kenzo.


Ariana seorang lulusan teknik sipil. Sebelumnya wanita itu membantu kelaurganya menangani bisnis. Akhirnya Ariana mendirikan perusahaannya sendiri sebagai seorang konsultan pembangunan.


"Ini memang cita-citaku sejak kecil. Kalau tidak aku wujudkan, rasanya hidupku tidak akan berarti," ucap Ariana.


Ia mengajak Kenzo duduk di ruangannya dan menyajikan minuman yang tersedia di dalam kulkas.


"Aku tidak tahu kalau Kak Kenzo akan datang. Kenapa tak memberi kabar?" protes Ariana.


"Kalau aku memberi tahumu, namanya bukan kejutan."


Kenzo memperhatikan Ariana. Ia kembali teringat tentang Janu dan Cheryl. Rasanya kasihan melihat wanita itu jika nantinya akan merasa tersakiti.


"Tante Silvia mana?" tanyanya.


"Dia masih di Amerika Serikat. Mungkin dalam waktu dekat juga akan datang."


"Pokoknya kabari aku kalau Tante Silvia mau datang. Aku mau menjemputnya sendiri di Bandara," ucap Ariana dengan semangat.


Kenzo hanya bisa tersenyum.


"Lalu, kabar Om Dimitri bagaimana?"


Kenzo mengangkat pundaknya. "Dia masih ada di penjara." ia terlihat malas untuk membahas suami ibunya itu. Sejak dulu, ia rasa ibunya memang tidak pernah becus memilih pendamping hidup. Ayahnya yang sudah benar-benar lelaki bertanggung jawab malah sengaja ditinggalkan.


"Aku agak kecewa mendengar kabar tentang Om Dimitri. Rasanya tidak percaya saja dia menjadi ...." Ariana tak mampu melanjutkan perkataannya.


"Bukan hanya kamu saja yang terkejut, aku dan Mommy juga sama. Sudahlah, kita tidak perlu membahasnya lagi."


"Maaf, ya. Kak Kenzo pasti tidak nyaman." Ariana merasa bersalah sudah membahas Dimitri.

__ADS_1


"Bagaimana dengan hubunganmu dan Janu?" tanya Kenzo ingin tahu.


"Kami? Tentu saja masih baik-baik saja." Ariana menjawabnya dengan sedikit tertawa. Ia merasa aneh Kenzo menanyakan hal itu.


"Perasaanmu masih belum berubah padanya?"


"Kak Kenzo kenapa? Tentu saja kami masih saling mencintai. Apa itu salah?" Ariana semakin penasaran.


"Bukan begitu, wanita secantik dirimu kenapa bisa menyukai adikku? Dia itu sangat membosankan dan menyebalkan. Kamu seharusnya mencari lelaki yang lebih ceria dan bisa membuatmu tertawa."


Ariana tersenyum. "Entahlah. Aku sudah menyukainya sejak pertama kali bertemu."


Ariana membayangkan kembali momen pertemuan pertama mereka saat dikenalkan keluarga. Janu terlihat seperti lelaki yang dingin. Bahkan untuk tersenyum saja terasa mahal. Namun, sisi dingin itu yang membuat Ariana tertarik karena penasaran.


***


"Tambahan dana dari Tuan Kenzo sudah digunakan untuk membeli tambahan saham perusahaan, Tuan," ucap Finn.


"Apa mereka sudah mengetahui siapa aku?" Janu duduk bersandar dengan santai di kursi kerjanya.


"Sebelum itu terjadi, kita sudah harus menyingkirkan mereka. Aku sudah sangat jengah melihat mereka masih hidup tenang setelah menghancurkan keluargaku."


Meskipun belum menemukan bukti yang kuat, Janu yakin Thea Rudianto merupakan dalang dari kematian keluarganya.


"Tunggu sebentar lagi, Tuan. Kalau tidak perlu mengotori tangan, sebaiknya Anda tetap duduk dengan tenang. Saya pastikan membawa berita baik untuk Anda."


Janu tersenyum. Finn selalu bisa ia andalkan.


Tok tok tok ....


Terdengar suara pintu diketuk. Seorang petugas kebersihan datang ke ruangan untuk membersihkan sampah yang ada di ruangan tersebut.


"Permisi, Pak. Saya ingin mengambil sampah," ucap Bono.


Janu hanya mengangguk mempersilakan. Mereka berhenti bicara sejenak saat Bono mengambil kantong sampah lama dan menggantinya dengan yang baru.

__ADS_1


"Saya sudah selesai, Pak," ucapnya.


"Pergilah ke luar!" pinta Finn


"Ah, iya. Apa kardus di bawah meja juga perlu saya buang? Sudah lama saya ingin bertanya tapi lupa," tanya Bono.


Finn dan Janu saling berpandangan. Keduanya sama-sama tidak paham dengan apa yang petugas kebersihan kantornya katakan.


Janu langsung menyingkirkan kursinya dan berjongkok di bawah mejanya. Benar saja, di sana terdapat sebuah kardus. Ia tak pernah merasa meletakkan benda itu di sana.


"Apa itu, Tuan?" tanya Finn dengan nada lirih dan menghampiri atasannya.


"Aku juga tidak tahu, Finn."


Janu menarik kardus itu dari bawah mejanya. Ia buka tutup kardus itu. Terdapat tumpukan berkas dan sebuah ponsel di dalamnya. Mereka sama-sama terkejut saat melihat tulisan PT Atmajaya Sentosa tercetak tebal pada lembaran terdepan.


"Finn, suruh OB itu pergi dari ruangan kita!" pinta Janu lirih.


Finn langsung bangkit dan menghampiri OB yang masih berdiri di depan pintu. "Sepertinya ada beberapa dokumen yang penting. Nanti setelah selesai dipilah, kamu boleh membuangnya," kata Finn dengan tenang.


"Oh, baik, Pak. Kalau begitu, saya permisi mau keluar," pamitnya.


Setelah sang OB keluar, Finn menguci rapat-rapat ruangan mereka. Ada hal serius yang terdapat di dalam kardus yang tersembunyi di bawah kolong meja.


Brak!


"Tuan!"


Finn berlari menghampiri atasannya saat mendengar benda terjatuh. Wajah Janu terlihat pucat sementara ponsel yang ada di dalam kardus itu terjatuh.


Finn mengambilnya karena penasaran dengan hal yang membuat atasannya terlihat panik. Ternyata ada foto mayat keluarga Janu yang diabadikan di ponsel tersebut. Sepertinya pemilik ponsel sengaja mengabadikan wajah-wajah yang berhasil dibunuh.


Finn mengambilkan segelas air dan memberikannya kepada Janu. Atasannya masih terlihat syok dengan apa yang baru saja dilihatnya.


"Tuan, Anda harus bisa menenangkan diri."

__ADS_1


__ADS_2