
Selepas kepergian Arsen, Cheryl masih menunggu di sana. Ia kembali mengambil segelas anggur yang dirasakan enak sembari memperhatikan beberapa orang yang berdansa di tengah ballroom. Ia sudah cukup lama tidak menghadiri pesta semacam itu.
"Sepertinya nona ini menikmati sekali pesta di sini," sindir Janu.
Cheryl memutar malas bola matanya. Ia pura-pura tidak mengenal lelaki yang baru saja menghampirinya. "Kenapa kamu kesini? Memangnya tidak ada urusan lain selain menggangguku?" ketusnya.
"Pakaianmu membuat aku ingin melepaskannya."
"Hah! Tidak usah kamu urusi bagaimana caraku berpakaian." Cheryl meneguk wine digelasnya sampai habis saking kesalnya.
"Apa kamu sengaja memakai pakaian seperti ini untuk menggoda lelaki lain? Kamu tidak sabar menantikan orang untuk melepaskan pakaianmu?"
Cheryl membulatkan mata. Perkataan lelaki itu memang selalu membuatnya kesal. "Sepertinya hanya kamu yang punya pikiran kotor semacam itu. Kamu memang bukan lelaki normal melainkan binatang buas."
"Memang. Semua lelaki itu buaya tanpa terkecuali. Mereka hanya sedang menyembunyikan kebuasan mereka saja sampai mendapatkan mangsanya."
"Sebaiknya Anda segera pergi. Aku khawatir Nona tunanganmu itu marah dan menjambak rambut indahku," ujar Cheryl.
"Apa kamu cemburu?" tanya Janu.
"Oh, yang benar saja. Kenapa aku harus cemburu pada wanita lain? Aku sangat percaya diri dengan diriku sendiri."
Cheryl tak mau diremehkan. Ia ingin menegaskan bahwa dirinya tidak akan bersedih hanya karena wanita itu. Apalagi dia juga memiliki kharisma sebagai seorang wanita yang mampu mempersona para lelaki. Dia tak merasa minder untuk bersaing dengan orang lain karena rasa percaya dirinya tinggi.
Janu melirik ke arah depannya. Ada Arsen yang tengah menatap ke arah mereka. Ia balik menatap Arsen seraya menegaskan bahwa lelaki itu tak dapat mengalahkannya.
"Bagus sekali kamu punya rasa percaya diri yang tinggi. Pasti karena setiap malam ditiduri oleh lelaki tampan yang gagah. Bukankah begitu?" ujar Janu.
Beberapa orang yang ada di dekat mereka sampai tercengang dan mengarahkan pandangan kepada mereka.
Cheryl kaget. Janu begitu tidak tahu tempat bicara seperti itu.
"Sepertinya aku tidak bisa bicara denganmu di tempat seperti ini," ucap Cheryl. Ia melangkah pergi menuju me toilet. Rasanya ia sudah tidak punya muka di sana. Mulut Janu benar-benar seperti kaset rusak.
Ia membasuh wajahnya di washtafel. Menyendiri di toilet sedikit menenangkannya. Sepertinya suasana pesta kini tak lagi cocok dengannya.
"Oh, kamu juga dari toilet?" tanya Hendra yang kebetulan baru keluar dari dalam toilet pria.
"Iya," jawab Cheryl.
__ADS_1
"Bukankah di dalam terasa membosankan? Sebenarnya aku lebih suka menghabiskan waktuku di rumah untuk tidur."
"Benar sekali. Ini terasa buang-buang waktu. Acaranya terlalu monoton. Bahkan tidak ada kabar kenaikan gaji atau jabatan yang pastinya dinanti-nanti seluruh karyawan."
"Presdir kita sedang memperbaiki citranya. Ia sibuk menemui para pemegang saham untuk mengamankan posisi."
"Kamu benar. Sepertinya kita hanya sebagai alasan saja untuk mengumpulkan para petinggi perusahaan."
"Tunggu sebentar." Hendra terlihat memandang aneh ke arah Cheryl. Ia mengambil sesuatu dari rambut Cheryl. "Sepertinya ada coklat yang menempel di rambutmu," ujarnya sembari memperlihatkan tangannya yang kotor oleh coklat dari rambut Cheryl.
Cheryl terkejut. Ia tak bisa melihat rambutnya sendiri. Sepertinya karena tadi tidak sengaja berpapasan dengan anak kecil yang masuk ke toilet bersama ibunya.
"Tolong bantu aku membersihkannya, Hen!" pinta Cheryl.
Hendra mengambil sapu tangannya. Ia mengelap rambut Cheryl dengan sapu tangan secara perlahan.
Mata Cheryl menangkap sosok Janu kembali ada di hadapannya dalam jarak 10 meter. Dengan mata elangnya, lelaki itu menatap dingin ke arahnya.
Sepertinya ia telah membuat kesalahpahaman. Tatapan mata itu seolah ingin menghabisinya dengan kejam.
"Sudah selesai, Cheryl. Tidak ada lagi es krim di rambutmu. Bagaimana kalau kita kembali ke dalam sekarang?" ajak Hendra.
"Kamu duluan saja. Aku akan menyusulmu," ucap Cheryl sembari masih tertegun di sana.
Selepas Hendra menjauh dari sana, Janu berjalan mendekat ke arahnya. Dengan kasar lelaki itu memegang pergelangan tangan Cheryl dan memnawanya ke sudut ruangan yang sangat sepi. Lelaki itu terlihat sangat marah.
"Ah! Kenapa kamu seperti ini?" Cheryl berusaha melepaskan cengkraman tangan Janu.
Janu menatapnya dengan tajam. "Apa masih perlu kamu pertanyakan?" tanyanya dengan nada serius.
"Aku benar-benar tidak tahu! Memang apa yang salah denganku?" Cheryl masih tidak paham dengan sikap Janu padanya yang kadang bisa lembut juga kadang bisa kasar.
"Kamu tidak tahu? Sepertinya memang wajar bagimu untuk dekat dengan lelaki lain dibelakangku. Bukankah sudah aku peringatkan, aku tidak suka istriku dekat dengan lelaki lain." Janu mengungkapkan alasan kemarahannya.
"Oh. Ya Tuhan. Itu sungguh tidak masuk akal. Kamu membuatku terkekeh. Aku tidak boleh dengan orang lain, sementara kamu sendiri memperkenalkan wanita lain sebagai tunanganmu. Luar biasa!" Cheryl membalikkan ucapan Janu.
"Kamu cemburu karena itu? Apa kamu melakukan ini untuk membalasnya? Apa kamu ingin aku mengakuimu sebagai istriku di depan umum?" tanya Janu.
Cheryl membuang muka. "Bukan itu yang ingin aku pertegas. Aku hanya ingin kita tidak saling mencampuri urusan pribadi masing-masing."
__ADS_1
Janu mengangkat dagu istrinya sehingga membuat mata mereka saling bertatapan.
"Aku tidak bisa seperti itu. Bagiku, kamu adalah istriku dan setiap inchi tubuhmu itu milikku. Tidak boleh ada yang boleh mengagumi kecantikanmu, Cheryl!"
"Lelaki tadi rekan kerjaku. Dia hanya membantu membersihkan es krim yang menempel di rambutku. Kami ... Hmmmph!"
Belum sempat Cheryl menyelesaikan perkataannya, Janu telah lebih dulu membungkam mulutnya dengan ciuman.
"Aku lebih suka menutup mulutmu dengan mulutku dari pada mendengarkan alasanmu. Dalam situasi apapun, aku tidak ingin ada lelaki lain yang mendekatimu."
Janu melirik ke arah belakang Cheryl. Di sana ternyata ada lelaki yang tadi tampak bersama istrinya sedang tertegun melihat ke arahnya.
Janu menyeringai. Ia menarik tengkuk istrinya dan kembali memagut bibir mungil itu dengan bibirnya. Ia sengaja melakukannya agar lelaki itu tahu bahwa Cheryl adalah miliknya. Bahkan ia dengan berani meraba dada Cheryl dengan leluasa dan membuat lelaki itu akhirnya mengalah dan pergi dari sana.
Ia tersenyum puas telah membuat orang yang jelas sekali menaruh hati pada istrinya menjadi syok dengan kemesraan yang mereka lakukan di sana.
"Janu, Cukup!" pinta Cheryl dengan napas yang terengah-engah.
Ia rasa Janu akan nekad melakukannya dimanapun mereka berada. Entah kemana rasa malu yang seharusnya dimiliki oleh lelaki itu. Pergi. Ia takut ada orang lain yang memergoki mereka.
"Kenapa, Sayang? Bukankah ini menyenangkan? Bercinta dalam kondisi khawatir itu sangat menantang," seloroh Janu.
"Kamu jangan memulai kegilaanmu lagi. Ini tempat umum!"
"Memangnya kenapa? Aku suamimu, ini hal legal yang bisa dilakukan."
"Iya, legal tapi melanggar norma kesusilaan! Tunjukkan sedikit sopan santunmu!" kesal Cheryl.
"Aku sudah terlanjur menikmatinya." Janu menunjuk ke bawah.
Cheryl sudah bosan dengan alasan Janu. "Aku akan pulang sekarang! Itu kan yang kamu harapkan!" jawabnya kesal.
Janu tersenyum. "Ayo, kita pulang," ajaknya.
Cheryl tak bisa menolak kemauan lelaki itu. "Sebenarnya untuk apa kamu datang ke sini?" tanya Cheryl sembari berjalan mengikuti Janu.
"Tentu saja untuk mengawasimu. Siapa yang tidak khawatir melepaskan istri berpakaian se ksi di tengah-tengah kumpulan buaya."
"Ya, kamu juga salah satu buayanya!"
__ADS_1
"Sudah aku katakan kalau semua lelaki memang buaya."
"Sudahlah, berhenti bercanda! Jawab aku dengan serius!" pinta Cheryl.