Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 65: Kepulangan Kenzo


__ADS_3

"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Tapi, aku janji tidak akan lama lagi kamu akan tahu," jawab Janu. "Ayo, kita pulang sekarang!" ajaknya seraya menggandeng tangan sang istri.


"Bagaimana dengan tunanganmu? Aku lihat tadi kalian datang bersama?" tanya Cheryl. Mukanya terlihat masam setiap kali membahas Ariana.


"Dia sudah pulang dengan sopirnya. Katanya ibunya sakit dan masuk rumah sakit mendadak."


"Lalu, kamu tidak menemaninya ke rumah sakit malah menemui wanita lain di belakangnya? Luar biasa!" Cheryl merasa dirinya sebagai wanita simpanan.


Janu menyunggingkan senyum. "Di rumah sakit ada dokter yang akan merawatnya. Aku lebih khawatir kalau kamu menangis karena cemburu, nanti tidak ada yang memelukmu," godanya.


Ucapan gombal Janu entah mengapa membuatnya senang meskipun tetap saja tidak adil untuk Ariana yang dimanfaatkan oleh suaminya.


"Aku kasihan dengan Ariana," gumam Cheryl.


"Kamu jangan gampang kasihan dengan orang. Dengan begitu, hidupmu tak akan terlalu berat."


***


Cheryl masih menguap dengan mata setengah terbuka saat keluar dari kamarnya. Ia merasa haus dan hendak mengambil minum di dapur.


Rumah terlihat lengang pagi itu. Ia rasa para pelayan sudah kembali ke paviliun belakang setelah menyelesaikan pekerjaan pagi hari.


Di atas meja sudah tersedia sarapan yang memiliki aroma menggugah selera.


Cheryl mengambil botol minuman dari dalam kulkas dan meneguknya. Rasa dingin yang dihasilkan minuman itu terasa memberikan kesegaran di tenggorokkan. Ia membawa sisa minumannya ke meja makan dan mulai menikmati sarapannya.


Ketika tengah menikmati makanannya, pandangan mata Cheryl menangkap kehadiran seseorang. Sejenak ia terpaku melihat orang asing yang tengah berdiri memandangi dirinya.


"Kamu siapa?" tanya Cheryl.


Lelaki itu juga memandang heran pada Cheryl. Ia tampak menganati dengan seksama. "Kamu ... Cheryl, ya?"


Cheryl merasa terkejut lelaki itu bisa mengenalinya. Sementara, ia tak tahu siapa lelaki itu.


"Apa kamu tidak mengenalku?" tanyanya lagi.


Cheryl menggeleng. Ia benar-benar tidak bisa mengenali lelaki tampan yang ada di hadapannya saat ini.


"Aku Kenzo. Kakaknya Janu," ucapnya.


Seketika ingatan Cheryl kembali. "Oh, Kak Kenzo!" serunya. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Kenzo.


"Wah, kamu ternyata sudah sebesar ini, ya?" gumam Kenzo. Ia menarik tangan Cheryl dan memeluknya serta mencium pipi kanan kiri wanita itu.


Cheryl tersenyum kaku dengan perlakuan Kenzo padanya. Greeting yang dilakukan orang luwr memang umumnya seperti itu, tapi baginya terasa canggung.

__ADS_1


"Kak Kenzo, ayo ikut sarapan!" ajak Cheryl untuk menepis kecanggungannya.


Kenzo menuruti saja ajakan Cheryl. Ia terlihat antusias melihat masakan rumahan khas yang sudah lama tidak ia temui selama di luar negeri. Keduanya menikmati sarapan bersama.


"Ngomong-ngomong, kenapa kamu ada di sini?"


Sejak Kenzo menahan diri untuk menanyakan hal itu. Ia heran kenapa putri dari sahabat ayahnya ada di rumah itu.


Cheryl tertegun. Ia tak tahu harus menjelaskan apa kepada Kenzo. Janu memang tidak mengundang kakaknya saat menikah. Ketidaktahuan Kenzo juga meyakinkan Cheryl bahwa Janu benar-benar merahasiakan pernikahan mereka.


"Dia istriku, Kak." sahut Janu.


Lelaki itu menuruni anak tangga masih mengenakan pakaian tidurnya. Pernyataan Janu sontak membuat Kenzo terkejut.


"Cheryl putri Om Hendry adalah istriku, Kak. Kami sudah menikah hampir satu tahun," ucap Janu sembari memegangi pundak istrinya dan memberikan ciuman hangat di pipi Cheryl.


Cheryl hanya bisa tersenyum kaku. Ia sudah pasrah saja Janu mau menceritakan apa. Ia akan setba salah jika sembarangan mengatakan kalau dia sudah menikah kepada orang lain.


"Sayang, suapi aku!" pinta Janu yang duduk dengan manja di samping istrinya.


Cheryl melakukan apa yang Janu minta. Sementara, Kenzo tak bisa berkata apa-apa dengan pengakuan sang adik yang begitu mengejutkan. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala. Entah apa yang adiknya lakukan selama di sana.


"Sayang, kamu sudah selesai makan, kan? Segeralah mandi!" perintah Janu.


"Tapi ...."


Cheryl merasa kalah. Seperti biasa, lelaki itu suka bicara tanpa dipilah saat berada di hadapan orang lain dan membuatnya malu. Tanpa pikir panjang, ia meletakkan piringnya di tempat cuci piring dan langsung naik ke atas.


Janu mengambil nasi ke piringnya selepas sang istri pergi. "Kapan datang?" tanyanya.


"Tadi malam," jawab Kenzo seraya melanjutkan acara makannya.


"Mommy mana?"


"Akan menyusul setelah urusannya di sana selesai."


Kenzo memandangi adiknya yang sangat santai menyantap sarapannya. Sikap adiknya jauh berbeda ketika di luar negeri. Ia sampai tidak percaya yang barusan bicara adalah adiknya.


"Aku mau bertanya padamu, kenapa Cheryl bisa ada di sini?" tanya Kenzo.


"Sudah aku bilang, kan? Dia sekarang istriku," jawab Janu santai.


"Serius, Janu? Bagaimana kamu menikahinya tanpa memberitahu aku atau Mommy? Kamu jangan bercanda!" Kenzo terlihat tak percaya dengan ucapan adiknya.


"Memangnya kalau aku memberitahu, kalian akan memberikan ijin?"

__ADS_1


Kenzo berusaha bersabar dengan jawaban adiknya. "Lalu, bagaimana dengan Ariana?" tanyanya.


Kenzo terdiam. Ia lebih memilih menikmati makanannya dari pada menjawab pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.


"Kamu jangan gila, Janu. Kamu sendiri yang menyetujui perjodohan dengan keluarga Handoko."


Kenzo tidak menyangka Janu bisa membuat masalah semacam itu. Selain menunggu kemarahan dari ibunya, keluarga Pak Handoko pasti akan kecewa dan tidak terima putrinya dilakukan seperti itu.


"Aku sudah menjual perusahaan seperti yang kamu mau. Aku juga akan mendukung rencanamu mengambil alih perusahaan. Tapi, kalau kamu seperti ini ... Pak Handoko akan mencabut dukungannya. Lalu, sia-sia saja aku datang ke sini!" gerutu Kenzo.


"Keluarga kita tidak dalam kondisi yang baik. Damian masih di penjara dan Mommy sendirian. Kamu kenapa jadi seperti ini?"


"Keluarga Cheryl juga dibantai oleh Kalong Merah, Kak!" ucap Janu.


Kenzo berhenti bicara. "Apa?" ia baru mengetahui berita tersebut.


"Sama dengan keluarga kita, Cheryl sudah tidak punya siapa-siapa lagi."


Kenzo mengenal baik keluarga Cheryl. Dulu, hubungan mereka sangat dekat. Apalagi Kenzo sudah cukup besar untuk mengingat seriap momen keluarga mereka. Ia bahkan sering menghabiskan waktu bermain dengan Janu dan Cheryl.


"Jadi, itu alasanmu menikahinya?" tanya Kenzo.


"Salah satunya itu," jawab Janu.


Kenzo tak tahu lagi harus berkomentar apa. Satu sisi ia kasihan dengan Cheryl, di sisi lain ia juga kasihan dengan Ariana.


"Kamu tahu kan, Ariana itu wanita baik-baik," kata Kenzo.


"Aku tahu, Kak." Janu juga menyadari dirinya tak pernah memiliki masalah dengan keluarga Handoko.


"Kamu tega melukai perasaannya?"


"Tapi, aku lebih tidak bisa melukai perasaan Cheryl! Aku menyukainya!" tegas Janu.


Kenzo menghela napas panjang. Masalah yang dibuat adiknya bukan sesuatu yang sederhana. Ia sampai menyandarkan punggung ke kursi saking bingung memberi solusi akan hal itu.


"Kamu akan mengatakan apa pada Mommy nanti? Dia akan tahu kalau datang ke sini."


Kenzo paham jika ibunya mungkin akan gila kalau sampai hal itu diketahuinya. Wanita itu sangat semangat kembali ke tanah air karena ingin segera menikahkan adiknya dengan putri keluarga Handoko. Silvia sangat berharap bisa mendapatkan kembali perusahaan milik ayahnya.


"Aku akan berusaha menyelesaikan masalah ini secepatnya. Aku harus mendapatkan perusahaan Daddy kembali."


"Kalau akhirnya membuat rumit seperti ini, bukankah lebih baik kamu fokus saja membangun bisnis sendiri, Kenzo? Melawan mereka itu sangat sulit."


"Aku tahu. Makanya aku bekerja keras selama dua tahun terakhir untuk ini. Kakak hanya perlu mendukungku saja."

__ADS_1


"Aku selalu mendukungmu, Janu. Lakukan apa yang kamu mau. Hanya saja, kenapa kamu harus melibatkan dua wanita yang tidak bersalah apa-apa dalam kehidupanmu? Aku kasihan baik kepada Cheryl maupun Ariana."


"Aku bisa mengatasinya. Kakak tenang saja."


__ADS_2