Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 66: Kejahatan Mereka


__ADS_3

Cheryl menikmati waktu istirahat makan siangnya di rooftop kantor. Ia memegang segelas kopi sembari berdiri di dekat pagar besi memandangi hiruk pikuk perkotaan di siang hari yang panas. Sesekali ia meneguk minumannya.


Ia mengetahui tempat itu dari Arsen. Awalnya mereka sering bertemu secara diam-diam jika ingin bertemu, selain bertemu langsung di ruangannya.


Cheryl masih sangat kecewa dan tidak bisa memaafkan kesalahan Arsen terhadapnya. Ia terkadang merasa bodoh karena bisa mencintai lelaki itu selama bertahun-tahun. Ia juga kesal penantian dan pengorbanannya selama ini hanya sia-sia.


Usai dirasa cukup menenangkan diri, ia pergi meninggalkan tempat itu. Ia akan bergabung dengan teman-temannya yang lain yang memilih nongkrong di pantry.


"Mulutmu itu hanya omong kosong! Sudah berapa lama kamu tidak juga menepati janjimu?"


Cheryl memperlambat langkahnya. Samar-samar, ia mendengar suara ibu Arsen yang sedang marah-marah. Suaranya sama persis saat sedang memarahinya di telepon. Ia memang tidak terbiasa dengan citra Ira yang pemarah. Selama kenal, Ira selalu memperlakukannya dengan baik.


"Kamu pikir melakukan sesuatu tidak peelu waktu? Yang kita butuhkan hanya bersabar."


Cheryl kembali mendengarkan suara lain yang mirip dengan ibu presdir. Ia sangat penasaran dan memberanikan diri mengintip lebih dekat agar bisa memastikan siapa yang sedang berbicara di sana.


Ternyata benar, ada Thea dan Ira yang tengah berhadapan di sana. Sekeliling merema ada beberapa bodyguar yang berjaga. Ia akan langsung ditangkap jika nekad lewat. Ia harus tetap bersembunyi jangan sampai mereka tahu ada dirinya di sana.


"Suamiku sudah banyak berkorban untukmu."


"Kamu pikir tidak ada yang aku korbankan untuknya? Aku harus menyewa pengacara dan membayar polisi agar suamimu bebas melenggang melakukan bisnisnya! Jangan berhitung-hitung denganku!"


"Kalau aku membuka mulut, tamat riwayatmu!"


Cheryl melihat sepertinya ibu Arsen tengah berusaha mengancam presdir. Ibu Arsen ternyata lebih mengerikan dari yang ia kira.


"Aku sudah menempatkan Arsen di posisi yang sangat layak. Ia bahkan aku rekomendasikan menjadi penggantiku sebagai presdir di sini. Kamu jangan berlebihan jadi orang. Keserakahan bisa membuat seseorang jatuh!"


"Hahaha ... Siapa di sini yang bicara tentang keserakahan? Bukankah itu lebih cocok untuk dirimu sendiri? Aku curiga sebenarnya kamu ingin memiliki perusahaan itu untuk dirimu sendiri."


"Hah! Di fase sepertiku, uang bukan lagi tujuan utama. Keinginanku untuk balas dendam sudah terbalaskan dan itu merupakan kesuksesan terbesar untukku."


"Kamu sudah berjanji untuk membantu mengambil alih PT Minasa Persada untuk putraku. Lalu sekarang, CEO mereka bahkan menjadi rival kandidat presdir di sini."

__ADS_1


Cheryl terkejut mendengar ucapan ibu Arsen barusan. Perusahaan ayahnya disebut-sebut oleh mereka. Ia semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya mereka bicarakan.


"Itu bukan kemauanku. Itu rekomendasi dari para pemegang saham. Perusahaan memang dalam kondisi yang kurang baik. Aku sudah memberikan dukungan penuh untuk Arsen."


"Sebenarnya siapa itu Januar Dimitri? Selama ini aku tak pernah mendengar namanya tiba-tiba muncul dan menjadi saingan putraku. Apa aku juga perlu membunuhnya?"


Cheryl semakin terkejut. Mereka membicarakan nyawa orang seperti sesuatu yang tidak ada harganya. Apalagi yang tengah mereka bicarakan ternyata adalah Janu, suaminya.


"Jangan gegabah. Kita tidak tahu persis bagaimana asal usulnya. Setahuku dia putra seorang mafia di luar negeri yang bernama Dimitri."


"Kenapa aku harus takut? Suamiku juga punya banyak anak buah. Bahkan sudah dua keluarga yang berhasil dia bantai sesuai keinginanmu."


"Siapa bilang seperti itu? Aku hanya menyuruh suamimu menyingkirkan keluarga Bara Atmaja. Keluarga Hendry, itu kemauanmu sendiri karena ingin menguasai Minasa Persada. Jangan melimpahka. Semuanya padaku."


"Ya, tapi kalau aku tidak melakukannya, kamu juga pasti tidak akan bertahan lama di perusahaan ini."


Cheryl menutup mulutnya selama bersembunyi. Ia menahan emosinya agar tidak meluap. Air matanya terlihat mengalir mendengarkan cerita kejahatan yang telah mereka perbuat.


Sia-sia saja ia mencari pembunuh keluarganya. Ternyata, pelakukanya bukan orang jauh, melainkan keluarga yang sangat dekat dengannya. Ia semakin merasa menyesal pernah memiliki hubungan dengan kelaurga Arsen.


Cheryl menyandarkan dirinya dengan lemas pada anak tangga. Mereka terus membahas cerita yang semakin membuat dadanya panas. Pembunuh keluarganya dan keluarga Janu adalah mereka.


Cheryl baru berani turun setelah mereka pergi. Ia mengusap air matanya dan berusaha terlihat tegar. Tidak boleh ada yang tahu tentang masalah itu.


Seperti kelicikan mereka yang begitu rapi menyembunyikan kejahatan, ia akan memikitkan pembalasan yang lebih menyakitkan.


Bugh!


Tanpa sengaja Cheryl menyenggol Hendra saat berjalan. "Ah, maafkan aku, Hendra," ucap Cheryl.


"Iya, tidak apa-apa," jawab Hendra.


Hendra langsung berlalu pergi tanpa menoleh ke arah Cheryl. Sikapnya terlihat aneh. Hendra menjadi cuek. Padahal, lelaki itu biasanya sangat ramah menyapanya.

__ADS_1


"Hendra kenapa, ya?" gumam Cheryl.


Ia menepis rasa keheranannya. Cheryl kembali ke ruang kerja karena sebentar lagi istirahat siang berakhir. Vina juga sudah kembali ke tempat duduknya.


"Kamu dari mana? Kok tadi tidak ke pantry?" tanya Vina.


Cheryl tertahan cukup lama di dekat tangga menuju rooftop sehingga tidak sempat menjumpai teman-temannya di pantry.


"Perutku tadi sangat mulas, makanya lama di toilet."


"Apa sekarang sudah baikan? Kalau masih sakit, mending ke klinik perusahaan. Dokter Diana itu baik hati ternyata."


Cheryl hanya tersenyum. Ia lebih baik minta pulang cepat dari pada harus bertemu dengan wanita manipulatif seperti Diana.


"Perutku sudah sembuh, kamu tidak perlu khawatir," ucap Cheryl.


"Syukurlah kalau begitu. Ah, iya, kamu merasa Hendra sikapnya aneh, tidak? Tadi juga tumben dia tidak ikut duduk bareng kita di pantry."


"Benarkah? Mungkin dia hanya kelelahan bekerja," kilah Cheryl. Ia tak menceritakan keanehan lelaki itu saat berpapasan dengannya tadi.


"Kalau dia kelelahan malah biasanya banyak bicara. Dia kan paling hobi merepotkan aku. Tapi, tumben sekali beberapa hari ini ia seperti sengaja menjau dari aku atau beberapa teman kita."


"Sudahlah, jangan dipikirkan, siapa tahu dia memang sedang ingin sendiri."


"Sampai kapan kalian mau ngobrol? Ini sudah mssuk kerja, loh!" sahut Dinda yang tiba-tiba datang.


Seperti biasa, dengan kedua tangan yang dilipat di dada dan raut wajah sinis, ia memandang kesal pada anak buahnya. Cheryl dan Vina langsung berhenti bicara dan kembali bekerja.


"Kerja jaman sekarang rasanya kayak kerja rodi jaman Belanda," gumam Vina lirih.


Cheryl menahan tawa mendengar ucapan rekan kerjanya.


"Apa yang kamu katakan barusan?" taya Dinda. Telinganya seperti telinga super yang bisa mendengarkan suara orang.

__ADS_1


"Nggak, nggak, aku nggak bilang apa-apa. Aku hanya mau menyanyi," kilah Vina.


__ADS_2