Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 13: Menemui Pacar


__ADS_3

Cheryl berjalan mengunjungi sebuah unit apartemen yang dulu sering di sambanginya. Sudah sekitar 6 bulan ia tidak datang ke sana. Sepertinya tak ada yang berubah. Saat sampai di depan pintu kamar nomor 2456, ia menekan kode untuk membukannya.


Klik!


Ternyata sang pemilik apartemen belum mengganti kodenya. Apartemen mewah itu adalah milik Arsen, lelaki yang selama 7 tahun menjadi kekasihnya.


Klek!


Saat ia membuka pintu, terlihat Arsen sedang duduk bersama seorang wanita. Ia sedikit terkejut.


"Cheryl!"


Arsen terlihat gugup saat melihat Cheryl berdiri di ambang pintu. Segera ia bangkit dan berjalan menghampiri. Ia memeluk Cheryl dengan erat.


"Bagaimana kamu bisa sampai di sini? Kenapa tidak memberitahuku kalau mau datang?" tanya Arsen.


Cheryl mendorong tubuh Arsen agar menjauh darinya. "Ingatanku sudah kembali," katanya.


Cheryl melirik ke arah wanita itu. "Siapa dia?" tanyanya.


"Ah, kamu jangan salah paham. Masuklah dulu biar aku perkenalkan."


Arsen meraih tangan Cheryl dan membawa wanita itu masuk ke dalam apartemennya.


"Ini Dokter Diana, dokter pribadi keluarga yang sekarang menangani keluhan gangguan tidurku," kata Arsen memperkenalkan.


"Kamu pasti Cheryl, ya?" tanya sang dokter dengan senyuman ramah. "Arsen sering bercerita tentang kamu. Sepertinya gangguan tidur yang dialami selama ini juga ada kaitannya denganmu. Dia selalu mencemaskan keberadaanmu," terangnya.


Cheryl hanya diam. Meskipun wanita itu seorang dokter, tetap saja memergoki ada wanita lain di apartemen pacarnya sangat membuat ia kesal.


"Sejak kamu menghilang, aku sulit berkonsentrasi pada pekerjaan. Makanya aku dirawat oleh Dokter Diana," kata Arsen.


"Baiklah, sesi pertemuan kita hari ini juga sudah selesai. Aku takut kalau berlama-lama di sini akan mengganggu kalian. Arsen, jangan lupa minum obatnya, ya!" ucap Diana.


"Terima kasih atas kedatangannya, Dok," kata Arsen.


Dokter Diana mengambil tas miliknya lalu keluar dari apartemen Arsen.


Arsen menarik tangan Cheryl agar duduk di sofa bersamanya. Ia menyandarkan kepala di pundak wanita itu. "Kenapa sikapmu dingin begini? Apa kamu tidak merindukanku?" tanyanya.


"Bagaimana bisa aku bersikap baik setelah memergokimu bersama wanita lain di sini," kata Cheryl kesal.

__ADS_1


"Cheryl, sungguh ... Dia hanya datang ke sini mengecek kondisiku." Arsen berusaha meyakinkan.


"Apa perlu dia sampai harus datang ke sini? Kamu bisa menemuinya di tempat dia praktik." Cheryl terkekeh.


Arsen tampak menghela napas. "Kamu tidak paham seperti apa kondisiku saat waktu itu. Aku hampir gila karena kamu menghilang. Ini obat-obatan yang harus aku konsumsi selama ini." ia menunjuk ke arah meja dimana terdapat beberapa botol obat. "Kalau masih tidak percaya, tanyakanlah langsung pada ibuku."


Cheryl memijit kepalanya. Sejak kejadian waktu itu ia jadi sulit mempercayai orang lain. Ia memasang sikap waspada pada siapapun yang dekat dengannya.


"Maaf kalau pikiranku macam-macam," ucap Cheryl.


Arsen kembali memeluk wanita itu. "It's okay. Bisa melihatmu kembali di sini sudah membuatku senang," katanya.


"Jadi, bagaimana? Kamu sudah bisa meninggalkan lelaki itu?"


Cheryl menggeleng.


"Kenapa begitu? Kamu sudah ingat semuanya. Pernikahan kalian tidak sah!" Arsen merasa kesal.


"Dia menggunakan namaku untuk mengambil alih aset dan perusahaan Papa," kata Cheryl dengan raut sendu.


"Sudah aku duga ia punya maksud terselubung untuk menikahimu. Dia sangat licik memanfaatkan kondisi saat kamu hilang ingatan untuk menjalankan rencananya. Pasti dia kan yang sudah membunuh keluargamu?"


"Kalau begitu, kita laporkan saja dia ke polisi!" tegas Arsen.


"Tidak bisa. Aku tidak memiliki bukti. Kalaupun ada buktinya, polisi pasti sudah menangkapnya. Dia sangat licik."


Cheryl masih mengingat momen saat Janu bersama anak buahnya muncul ketika seluruh keluarganya mati. Mereka menggeledah seisi rumah dan membawanya pergi. Seharusnya ada jejak, namun polisi seperti tak pernah bergerak.


"Jadi bagaimana sekarang? Kamu akan tetap menjadi istrinya?" Arsen merasa berat menanyakannya.


"Dia tidak pernah menyentuhku meskipun kami sudah menikah. Dia membenciku, kamu tidak perlu khawatir. Tujuannya memang hanya menggunakan namaku untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Aku akan kabur setelah mengambil alih milik Papaku."


Arsen menepuk lembut puncak kepala Cheryl. "Kamu harus hati-hati. Sebenarnya aku tidak tega membiarkanmu bersama orang seperti itu."


Cheryl memeluk pinggang Arsen. "Kamu tenang saja. Setelah semuanya kembali, aku akan bersamamu," katanya.


"Apa dia tidak akan marah kalau kamu menemuiku?" tanya Arsen.


"Tentu dia akan marah. Mungkin akan mengurungku kalau ketahuan. Aku tidak boleh ketahuan olehnya."


Arsen menyibakkan helaian rambut yang menutupi wajah Cheryl. Ia melabuhkan ciuman pada bibir lembut itu. Sudah sangat lama rasanya mereka tak bermesraan.

__ADS_1


Mereka saling bertatapan. Wajah keduanya bersemu merah. Mereka kembali saling memagut bibir dengan intens.


Cheryl merasakan gerakan aneh yang Arsen lakukan di sela-sela kegiatan ciuman mereka. Tangan Arsen dengan nakalnya menyusup ke dalam pakaian dan menyentuh area dadanya. Ia merasakan tangan itu mengelus dan mer emas miliknya.


Mata Cheryl melebar. Ia mendorong Arsen. "Aku rasa ini sudah berlebihan," katanya. Ia berusaha menepis tangan Arsen yang masih tak mau melepaskan dadanya. Ia merasa malu dan tidak pantas dengan apa yang Arsen lakukan.


"Kenapa? Kita sudah lama pacaran. Biarkan aku memegangnya. Selama ini kamu selalu menolak. Aku tidak akan meminta lebih dari ini," katanya.


"Kamu bisa melakukan semuanya setelah kita menikah. Ini masih sangat memalukan bagiku," kata Cheryl sembari menundukkan kepalanya.


"Ah, baiklah." Arsen terpaksa mengalah dan melepaskan tangannya.


Arsen mencium sekilas bibir Cheryl seraya memeluknya. Tak bisa dipungkiri jika hasratnya memang meninggi ketika bersama Cheryl.


"Terkadang aku masih takut tidak bisa menikah denganmu. Sejak dulu ayahmu selalu menentang hubungan kita," protes Arsen.


"Ayahku melarang hubungan kita bukan karena tidak menyukaimu. Dia hanya belum yakin karena kami tidak pernah mau menemuinya."


"Hah! Bagaimana aku bisa percaya diri menemui ayahmu? Dia kelihatan galak."


"Ayahku orang yang penyayang."


Cheryl menghabiskan waktu beberapa jam di apartemen Arsen. Mereka bercakap-cakap tentang hal-hal ringan sampai keinginan mereka di masa depan.


Hingga akhirnya waktu untuk pulang akhirnya tiba. Cheryl harus sampai rumah tepat waktu sebelum Janu memarahinya. Ia memeluk pacarnya sebelum berpisah.


Ketika di jalan pulang menjelang malam, ia merasa ada yang mengikuti. Apalagi ia harus melewati jalanan yang cukup sepi sebelum sampai di jalan utama.


Ia memberanikan diri menoleh ke belakang. Tiga orang lelaki berjalan tepat di belakangnya. Cheryl merasakan firasat buruk. Ia mempercepat langkah, namun orang-orang itu juga terdengar semakin cepat mengejarnya.


"Tolong ...." jerit Cheryl seraya berlari menghindar.


Tiga lelaki asing itu mengejarnya. Sayangnya, ia sampai di sebuah gang buntu dan tidak bisa menghindar lagi.


***


❤❤❤Promosi❤❤❤


Mampir ke novelku, ya 😘


__ADS_1


__ADS_2