Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 72: Jangan Pergi


__ADS_3

Janu membawa Cheryl ke dalam kamarnya. Ia lantas mengunci pintu dan mengajak istrinya duduk di atas ranjang.


"Apa kamu baik-baik saja?" Janu mengusap pipi Cheryl yang sedikit lecet terkena luka cakar.


"Aku tidak apa-apa," ujar Cheryl seraya menyingkirkan tangan Janu darinya.


"Kenapa kamu harus ribut dengan wanita itu? Seharusnya kamu pergi saja, jangan sampai terlihat olehnya!"


Cheryl berdecih. "Kenapa? Kamu tidak mau dia tahu kalau aku istrimu? Ya sudah! Aku pergi saja dari sini!"


Cheryl terlihat kesal dengan respon Janu. Ia hendak pergi namun lelaki itu menahan tangannya.


"Kamu ini kenapa?" tanya Janu bingung. Cheryl terlihat sangat kesal padanya.


"Kamu bertanya aku kenapa?" Cheryl mencoba menatap wajah lelaki itu dengan serius. "Kamu mau aku bagaimana? Bersikap baik, ramah, dan sopan pada orang yang sudah menamparku?"


Cheryl bahkan belum merasa puas melampiaskan kekesalannya pada wanita bernama Silvia itu. Dalam pikirannya, ia ingin menjambak rambut Silvia sampai botak dan mencakar wajah wanita itu sampai rusak.


"Dia menamparmu?" Janu kembali memegangi pipi istrinya, mencari bekas kekerasan yang ibu angkatnya lakukan.

__ADS_1


"Apa itu penting? Bukannya kamu hanya mengkhawatirkan wanita itu?"


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Tentu saja aku sangat khawatir terjadi apa-apa padamu. Aku tak mau dia melukaimu." Janu memperlihatkan wajah khawatirnya.


"Bukan aku yang akan terluka, tapi dia yang akan aku cakar!" kata Cheryl dengan nada kesal.


Janu tertawa kecil. Ia menepuk kepala istrinya karena merasa lucu. "Lebih baik kamu tidak membuat masalah dengannya, biar aku yang menyelesaikan sendiri. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu."


Tatapan yang Janu berikan begitu meneduhkan. Lelaki itu jelas berniat untuk melindungi dirinya. Namun, Cheryl tak merasa puas membiarkan Janu menghadapi semuanya sendiri.


Cheryl meraih tangan suaminya. Ia menggenggamnya dengan erat seraya menyalurkan keyakinan bahwa ia akan selalu mendukung lelaki itu.


Janu menggeleng. "Kamu tidak tahu seberapa jauh dia bisa melakukan sesuatu. Aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikitpun olehnya."


"Dia pasti akan memaksamu untuk menikahi Ariana. Kalau tidak, dia pasti akan menyakitimu lagi," kata Cheryl khawatir.


Janu tersenyum. "Aku bisa mengurusnya sendiri. Percayalah, kamu hanya butuh sedikit bersabar sampai aku menyelesaikan semuanya. Aku juga akan memutuskan pertunanganku dengan Adila."


"Kita kabur saja!" celetuk Cheryl.

__ADS_1


Janu sampai tertegun mendengarnya. "Sudahlah, kamu istirahat saja di kamar. Aku mau menemui dia dulu," kata Janu. Ia berjalan ke arah lemari, mengambil selembar kaos yang hendak dikenakannya.


Bekas luka yang ada di punggung Janu terlihat jelas oleh penglihatan Cheryl. Air matanya serasa ingin menetes. Ia ikut sakit hati dengan perlakuan yang pernah wanita itu lakukan kepada Janu.


Klak!


Cheryl sudah berdiri di depan pintu dan menguncinya. Ia membuat Janu terlihat bingung.


"Tidak usah keluar, tidak usah bicara dengannya. Aku tidak mau kamu bertemu wanita itu," ucap Cheryl. Ia menggunakan badannya untuk menghalangi Janu melewati pintu.


"Kamu itu kenapa? Aku hanya sekedar ingin berbicara dengannya." Janu yang baru selesai mengganti pakaian berjalan mendekat ke arah Cheryl.


"Kamu tidak perlu mekakukannya," ucap Cheryl.


Janu mengelus pipi wanita itu. "Seperti yang aku janjikan, semua akan baik-baik saja," katanya meyakinkan.


Cheryl memeluk pinggang lelaki itu. Ia rasanya tak mau membiarkan suaminya melangkah keluar dari pintu kamar. "Dia sudah menyakitimu selama ini. Jangan lagi menurut pada kemauannya," ucapnya.


Janu merasa terharu mendapatkan perhatian dari istrinya. Pelukan itu terasa hangat sampai ke hatinya. Ia membalas pelukan itu dan menikmatinya sebagai momen yang membuatnya bahagia.

__ADS_1


"Aku akan segera menyelesaikannya supaya kamu tak perlu khawatir lagi padaku," kata Janu.


__ADS_2