Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 28: Tabir yang Terbuka


__ADS_3

"Siapa?" tanya Arsen.


Ia terlihat sangat tidak senang kenersamaan mereka terganggu dengan telepon itu.


"Teman satu meja kerja," jawab Cheryl.


"Cewek apa cowok?" tanya Arsen curiga.


Cheryl terkekeh. "Apa kamu sedang cemburu?" tanyanya.


"Memangnya tidak boleh cemburu? Kamu kelihatan senang berbicara dengannya."


"Dia teman satu meja kerja. Namanya Vina. Kamu tidak perlu bersikap seperti itu padanya."


Entah itu wanita atau pria, rasanya sama saja membuat Arsen kesal. Ia ingin bisa bersama dengan Cheryl terus seperti saat ini.


"Sayang, duduk lagi di pangkuanku," pinta Arsen.


"Sebentar lagi waktu istirahat habis. Aku harus kembali ke tempatku," kata Cheryl. Ia perlu melihat dandanannya sendiri terutama lipstik yang pasti akan belepotan karena makan dan berciuman.


Arsen menahan tangan Cheryl. "Sebentar saja," rengeknya seperti seorang anak kecil.


"Baiklah."


Cheryl menurut. Ia kembali duduk di pangkuan Arsen, melingkarkan lengannya di leher lelaki itu dan kembali menerima ciuman yang lelaki itu berikan.


Setiap kemesraan yang mereka lakukan saat ini mengingatkan momen-momen indah ketika mereka berpacaran.


Keduanya saling bertatapan dan bertukar senyuman seolah mereka menjadi pasangan yang paling bahagia di dunia.


"Apa kamu sudah tahu dimana kira-kira orang itu menyimpan surat-surat berharhanya?" tanya Arsen.


Cheryl menggeleng. "Aku akan lebih berusaha mencarinya," katanya.


Ia akan menggunakan kesempatan selama Janu tidak ada di rumah untuk mencarinya di seisi rumah.

__ADS_1


"Kalau kamu butuh bantuan, jangan sungkan untuk menghubungiku," katanya.


Cheryl mengangguk.


"Ah, iya. Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanyanya.


Ia kembali teringat pada informasi yang tak sengaja ia dapatkan dari internet mengenai asal-usul perusahaan.


"Mau tanya apa? Katakan saja!" kata Arsen.


"Apa ... kamu tahu tentang sejarah perusahaan ini?"


Arsen mengerutkan dahi. "Kenapa kamu ingin tahu?" tanyanya heran.


"Pagi tadi setelah mendengarkan motivasi langsung dari Ibu Presdir aku merasa semakin tertarik mengenal tempat kerjaku ini," kata Cheryl.


"Perusahaan ini sudah ada sebelum kita lahir. Aku juga tidak terlalu paham asal-usulnya. Tapi, yang membuatku sedikit heran, perusahaan milik ayahmu pernah bekerja sama dengan perusahaan ini."


"Ya, aku juga baru tahu," gumam Cheryl.


"Kalau saja ayahmu masih hidup, dia pasti lebih tahu tentang sejarah perusahaan ini."


"Apa kamu juga pernah mendengar cerita kalau Ibu Presdir dulunya pernah tertembak di kepalanya?"


Arsen mengangguk. Ia memeluk tubuh Cheryl dan menyandarkan kepalanya di bahu wanita itu. "Ibuku pernah bercerita kalau dia hampir mati di sebuah insiden. Ini ada kaitannya dengan keluarga Atmaja. Sempat ada tuduhan penculikan yang ditujukan pada Ibu Thea. Katanya dia pernah menculik istri Pak Bara Atmaja karena cemburu. Pokoknya, kamu jangan sampai berurusan dengan orang-orang seperti mereka. Itu sangat berbahaya. Aku juga tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan mereka."


Cheryl mulai berpikir jika memang berkaitan dengan penculikan istri Bara Atmaja, berarti ada kaitannya dengan ibu Janu.


"Em, Arsen, sepertinya aku harus kembali sekarang. Waktu istirahat sebentar lagi habis."


Cheryl mencium sekilas bibir Arsen lalu bergegas meninggalkan ruangan itu sebelum Arsen kembali mencegahnya. Ia menjadi semakin penasaran dengan kisah lama yang berkaitan dengan keluarga Janu dan juga keluarganya.


Saat keluar ruangan Arsen, tatapan mata Dinda mengarah tajam padanya. Wanita itu seolah tengah mengintainya. Ia berusaha mengabaikan intimidasi itu.


"Tunggu!" cegah Dinda.

__ADS_1


Cheryl menghentikan langkahnya.


"Ikut aku sebentar!" ajaknya.


Terpaksa Cheryl mengikuti wanita itu ke tempat yang sepi lalu lalang orang.


"Kenapa?" tanyanya.


"Aku lihat kamu sering mondar-mandir ke ruangan Pak Arsen. Apa kalian berdua ada hubungan?" tanya Dinda dengan nada tegas.


"Kenapa tidak kamu tanyakan langsung saja kepada Pak Arsen? Jawaban apapun yang akan aku berikan tidak akan memuaskanmu!" jawab Cheryl ketus.


"Sudah, kalau aku bertanya, jangan dibantah! Jawab saja dengan jujur!" Dinda balik membentak Cheryl.


"Aku dipanggil ke ruangannya, makanya aku datang."


"Hah! Apa benar karena itu? Aku yakin bukan urusan bisnis yang kalian bicarakan di dalam."


Cheryl gregetan wanita itu terlalu ingin tahu urusannya. "Sudah jelas, kan? Mana ada orang membahas bisnis saat jam istirahat. Apalagi Pak Arsen sengaja mengunci pintu. Bisa kamu tebak sendiri lah, kira-kira apa yang kami lakukan di dalam sana." ia justru ingin semakin membuat Dinda kepanasan. Wanita itu tipe orang yang tidak mau dikalahkan karena merasa harga dirinya akan terluka karena hal itu.


"Kamu merangkap pelacvr?" sindir Dinda.


Cheryl menyeringai. "Apa setiap orang yang seting keluar masuk ruangan atasannya kamu anggap pelacvr? Bagaimana denganmu sendiri? Bukannya kamu sering keluar masuk ruangan pak manajer?" ia membalikkan ucapan Dinda.


Dinda terlihat geram. "Aku ke ruangan Pak Manajer karena ada perlu! Termasuk melaporkan pegawai yang tidak kompeten sepertimu!"


"Sama. Aku juga masuk ke ruangan Pak Arsen karena ada perlu. Dia yang memanggilku untuk datang, bukan aku yang kecentilan cari perhatian atasan dengan menjelekkan orang."


Sindiran Cheryl sangat mengena. Dinda hampir melayangkan tangannya menampar Cheryl, namun bisa ditepis. Cheryl menatap tajam ke arah Dinda seakan tengah memberikan peringatan terakhir.


"Kamu pernah bertanya bagaimana orang sepertiku bisa masuk ke perusahaan ini. Aku beri tahu, kamu salah memilih aku sebagai musuh. Ucapanmu saat itu benar, aku bisa masuk ke sini karena orang dalam. Sekalipun pekerjaanku tidak benar, aku tidak mungkin dikeluarkan. Hati-hati mencari masalah denganku. Ada banyak orang yang memihak padaku, nanti kamu bisa kesulitan sendiri."


Cheryl menyeringai. Ia puas menjadi orang jahat yang tega mengucapkan hal itu. Ia menepis tangan Dinda dengan kasar lalu meninggalkan wanita itu sendiri.


***

__ADS_1


❤❤❤ PROMOSI ❤❤❤



__ADS_2