
"Selamat siang semua. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk menghadiri rapat mendadak ini."
Pak Gunawan selaku komisaris utama memimpin rapat hari itu setelah mendapatkan laporan penyelewengan selama bertahun-tahun. Sebagai orang yang tahu persis perusahaan sejak berdiri, ia merasa kesal ada pihak yang menjadikan kondisi perusahaan tidak stabil karena terlalu fokus memperkaya diri sendiri.
"Seperti yang sama-sama kita tahu, kondisi peruasahaan semakin menurun dari tahun ke tahun. Ada banyak suara yang menginginkan pergantian kepemimpinan setelah kepergian Pak Bara. Namun, yang kita tahu sendiri selama 15 tahun lebih tidak ada perubahan sama sekali."
Thea menyunggingkan senyum. Ia tahu Pak Gunawan tengah mencecar dirinya. Lelaki itu memang salah satu pihak yang sangat sulit untuk diajak kerjasama olehnya.
"Kalau bicara tidak usah berbelit-belit. Kami tahu maksudmu yang ingin menjatuhkan posisi Ibu Presdir. Tanpa bukti yang jelas, ucapanmu hanya berupa kedengkian belaka," sindir Pak Buyung, pendukung utama Thea.
Peserta rapat di sana terbagi menjadi dua kubu. Ada yang menginginkan perombakan kekuasaan dan lebih banyak yang meminta Thea tetap memimpin perusahaan tanpa alasan yang jelas.
"Memangnya posisi kami sebagai dewan komisaris hanya duduk diam melihat kalian bekerja? Kami tidak akan mengadakan rapat ini jika tidak ada yang perlu dibicarakan."
Pak Gunawan tidak serta merta menerima protes dari Pak Buyung. Ia mengeluarkan setumpuk berkas di hadapan semua peserta rapat. Ia juga memberi kode kepada asistennya untuk menampilkan inti dari isi dokumen itu.
Saat satu per satu bukti ditampilkan, mereka tercengang sampai tak bisa mempercayainya.
"Ini tidak mungkin," ujar Pak Buyung yang ikut syok dengan isi dokumen tersebut.
Suasana rapat menjadi lebih ribut. Mereka saling berdebat mengenai isi dokumen sampai ikut membuka-buka bukti yang Pak Gunawan bawa.
Wajah Thea memucat. Ia tak menyangka ada jejak aib yang tertinggal saat mengambil alih perusahaan secara curang. Ia menatap satunper satu orang yang selalu mendukungnya. Mereka sengaja menghindari tatapan mata dengannya.
Thea rasanya ingin tertawa. Saat ia dalam kondisi berjaya, mereka datang untuk menjilat. Ketika tiba masa kesulitannya, semua berpura-pura tak mengenalnya.
"Ibu Presdir, bisa Anda menjelaskan hal ini?" tanya Pak Gunawan.
"Apa penjelasan yang harus aku sampaikan? Bukankah ini memang yang sudah kalian tunggu-tunggu?" Thea tak mengiyakan ataupun menyangkal.
__ADS_1
"Ini masalah sudah sangat lama, Pak Gunawan. Kenapa masih diungkit-ungkit lagi?" Pak Buyung masih berusaha membela Thea. Ia tahu jika posisi wanita itu terancam, maka posisinya juga ikut tidak aman.
"Keterpurukan perusahaan ini bukan hanya disebabkan kondisi akhir-akhir ini saja. Sebagai presdir, Ibu Thea harus bertanggung jawab penuh atas apa yang menimpa perusahaan selama 15 tahun ke belakang."
Terjadi perdebatan sengit di ruang rapat. Dewan komisaris menginginkan perombakan, namun para petinggi bersikeras ingin mempertahankan Thea di sana.
"Aku rasa kalian akan terus bicara jika aku tidak mengeluarkannya!"
Kesabaran Gunawan telah habis. Sebenarnya Janu melarangnya untuk menggunakan data itu di dalam rapat. Ia hanya ingin membungkam dengan cepat mulut mereka yang berbisa.
Semua kembali tercengang saat Pak Gunawan menunjukkan penyelewengan kasus proyek di kota sebelah yang telah terjadi 20 tahun yang lalu. Dalam dokumen itu juga ditunjukkan pemindahan kekuasaan yang tidak wajar antara pihak Bara Atmaja dengan pihak keluarga Budianto.
Brak!
"Apa-apaan ini!" bentak Thea.
Ia terlihat sangat marah sampai menggebrak meja. Pak Gunawan benar-benar mempermalukannya di dalam rapat sampai mereka berbisik-bisik membahas tentangnya.
"Kenapa Mama harus panik? Kita sama sekali tidak terlibat dengan Ibu Presdir," ucap Arsen.
Ira terdiam. Ia lupa jika putranya tak tahu apa-apa tentang persekongkolan mereka.
"Apa masih ada yang ingin membantah hasil temuan kami?" tanya Pak Gunawan.
Para peserta rapat terlihat diam. Mereka tak berani lagi bertanya setelah bukti yang valid terpampang nyata. Mereka sedang pusing memikirkan cara menyelamatkan diri sendiri.
"Seperti yang telah dibahas sebelumnya, pertemuan kali ini kami akan memilih presdir baru menggantikan Ibu Thea yang dianggap tidak layak lagi memimpin perusahaan."
Ucapan Pak Gunawan begitu menyakitkan bagi Thea. Selain rasa malu, ia menjali bulan-bulanan sebagai bahan pembicaraan dalam rapat.
__ADS_1
"Kami sudah menghadirkan calon presdir pengganti yang dianggap layak memimpin perusahaan. Silakan masuk ke ruangan!"
Setelah dipersilakan masuk, Janu melangkah melewati pintu menjumpai mereka. Ia memasang senyuman bangga di setiap langkahnya menjumpai mereka.
Kehadirannya di sana tentu saja membuat berbagai pihak keheranan. Selain tampan, namanya yang asing dalam dunia bisnis tanah air tapi langsung mencuat begitu saja.
"Arsen, bukankah dia lelaki yang dekat dengan wanita sialan itu?" tanya Ira.
Arsen hanya bisa mengepalkan jemarinya dengan erat. Selain harus kehilangan Cheryl, ia juga harus merelakan posisi yang diincarnya diambil.
Janu berdiri dengan gagah di samping Pak Gunawan. "Selamat siang, semuanya. Terima kasih atas kehadiran Anda sekalian di sini. Mungkin sebagian besar belum mengenal siapa saya dan bagaimana saya bisa berada di sini." ia mampu berbicara dengan percaya diri di hadapan mereka.
"Perkenalkan, nama saya Janu," ucap Janu. Ia kembali memandangi satu per satu wajah mereka. "Lebih tepatnya ... Januar Atmaja."
Suasana langsung riuh saat Janu menyebutkan nama lengkapnya dengan lantang. Banyak yang tidak mengira anak dari keluarga Atmaja masih hidup sampai saat ini. Tak terkecuali dengan Thea dan Ira. Mereka sangat syok mendapatkan berita semacam itu. Selama ini mereka mengira Janu dan Kenzo telah mati.
Pak Gunawan merangkul pundak Janu. "Seperti yang kita ketahui bersama, keluarga Atmaja telah dihabisi oleh pihak yang masih misterius. Beruntung, dia masih hidup dengan baik sampai saat ini."
"Terima kasih telah mempertahankan perusahaan sampai saat ini. Saya harus berjuang selama 17 tahun untuk bisa kembali menginjakkan kaki di perusahaan ini, meneruskan cita-cita ayahku yang belum terselesaikan."
Hampir seluruh peserta rapat bertepuk tangan. Mereka mengagumi perjuangan yang Janu lakukan untuk sampai di sana. Sementara, Thea memilih pergi dari ruang rapat temani oleh para pengawalnya. Ia sudah merasa kalah oleh anak ingusan itu.
Janu tersenyum kecil setelah berhas mengusir Thea dari sana. Ia bersumpah akan memberikan kejutan lain yang lebih menyakitkan bagi wanita itu.
"Baik, saya rasa rapat bisa diakhiri dan secara resmi kami mengangkat Januar Atmaja sebagai presdir PT Atmajaya Sentosa yang baru."
Suara tepuk tangan kembali bergemuruh. Satu per satu dari mereka memberikan selamat sesaat sebelum meninggalkan tempat.
"Pak Gunawan, terima kasih," ucap Janu.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu berterima kasih. Itu memang sudah menjadi kewajibanku mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikmu."