Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 26: Penyelidikan


__ADS_3

"Wah, Ibu Presdir itu semangatnya luar biasa."


"Benar. Dia masih kelihatan cantik dan bersemangat meskipun usianya sudah 50 tahunan."


"Sayangnya dia belum menikah sampai sekarang."


"Aku dengar di tidak memiliki hasrat menikah karena mengalami kecelakaan."


"Kecelakaan apa?"


"Kamu tidak tahu? Katanya Ibu Presdir pernah kena luka tembak salah sasaran di kepalanya."


"Benarkah? Kok sepertinya tidak ada bekas lukanya."


Cheryl mendengarkan obrolan beberapa karyawan tentang pimpinan tertinggi di perusahaan mereka. Setiap bulan katanya memang rutin diadakan acara pertemuan karyawan dengan para petinggi perusahaan untuk memberikan motivasi.


Ia melihat Ibu Thea merupakan sosok tegas dan berwibawa. Ia heran kenapa perusahaan milik keluarga Janu bisa jatuh ke tangan orang yang sama sekali tidak ada hubungan keluarga.


"Vin, kamu sudah berapa lama kerja di sini?" tanya Cheryl.


"Aku? Baru sekitar 5 tahunanlah! Memangnya kenapa?" tanya Vina sembari berjalan beriringan dengan Cheryl menuju ruang kerja mereka.


"Jadi, kamu tidak tahu ya, asal mula kepemimpinan Ibu Thea di perusahaan ini?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak tahu. Aku masuk perusahaan sudah dipimpin oleh Beliau. Kalau kamu ingin tahu cerita lebih lengkapnya, mungkin bisa bertanya pada pak manajer. Dia kan dedengkot di perusahaan ini."


Cheryl hanya tersenyum kaku. Dia bukan orang yang cukup dekat dengan Pak Windu.


Sesampainya di meja kerja, Cheryl melanjurkan pekerjaan yang belum terselesaikan. Ia membuat bahan presentasi yang akan digunakan untuk rapat minggu depan. Ia hanya meminimalisir kesempatan Dinda untuk mencari perkara dengannya.


Usai pekerjaannya selesai, ia masih memiliki waktu sebelum istirahat tiba. Dengan iseng ia mencari berita tentang perusahaan tempatnya bekerja. Tanpa perlu waktu lama, ada banyak artikel yang membahas tentang PT Atmajaya Sentosa.


Cheryl tertegun membaca setiap artikel yang ditulis diinternet. Di sana dijelaskan jika 17 tahun yang lalu terjadi pembantaian seluruh keluarga Atmajaya. Orang tua Janu, kakek nenek, paman bibi, sepupu dan pelayan dirumah dibunuh tanpa diketahui siapa pelakukanya. Persis sama dengan yang menimpa keluarga Cheryl.


Di sana juga dijelaskan bahwa dua orang putra Bara Atmaja dilaporkan hilang dan tidak ada kabar sampai sekarang. Artinya, orang-orang memang mengira jika Janu dan Kenzo masih hilang atau sudah meninggal.


Cheryl tak terlalu ingat tentang hari itu. Ia hanya melihat ayah dan ibunya yang menangis tersedu-sedu di pemakaman mereka. Bahkan kesedihan itu masih terlihat di wajah mereka sampai berbulan-bulan lamanya.


Ia tertarik membuka sejarah perusahaan. Perusahaan ayahnya pernah bekerjasama dengan perusahaan itu. Lalu, tahun berikutnya PT Jayakarsa turut bergabung, perusahaan ayahnya melepaskan diri. Dua tahun kemudian, kedua perusahaan melebur di bawah pimpinan keluarga Rudianto Hartanto.


"Rudy Hartanto pernah dihukum penjara karena tuduhan penggelapan dana proyek dan usaha provokasi terhadap warga sekitar. Namun, hukuman yang seharusnya dijalani 15 tahun hanya berjalan selama satu tahun."


Cheryl melebarkan mata membaca berita itu. Ternyata ayah Ibu Presdir pernah bermasalah hukum yang ada kaitannya dengan orang tua Janu.


"Apa semua ini saling berkaitan?" ia seperti seorang detektif yang berusaha mencari sebab akibat serta bukti terkait dengan peristiwa sebelumnya.


Janu saat ini masih berada di luar negeri. Cheryl sungguh sangat mengkhawatirkan keadaannya, takut orang tua Janu di sana memperlakukan lelaki itu dengan kejam.

__ADS_1


Ia sangat ingin tahu apa yang membuat lelaki itu berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Mungkin ada kaitannya dengan hal itu.


Tring ... Tring ...


Suara bel istirahat berbunyi. Cheryl segera menutup laman pencariannya supaya tidak ketahuan yang lain. Sebelum pergi, ia lebih dulu menyimpan hasil pekerjaannya dalam flashdisk.


"Makan di kantin, yuk!" ajak Vina yang lebih dulu selesai membereskan pekerjaannya.


"Oke!" jawab Cheryl.


"Cheryl! Dipanggil ke ruangan Pak Arsen!" seru Hendra dari ambang pintu. Suara kerasnya sampai didengar orang-orang.


"Ada apa lagi kamu dipanggil ke ruangannya?" tanya Vina heran.


Cheryl tersenyum kaku. "Entahlah! Aku juga tidak tahu," kilahnya. "Maaf, ya. Aku ke sana dulu," ia merasa tak enak hati meninggalkan Vina.


"Ya, tidak apa-apa. Aku akan makan dengan teman yang lain."


***


❤️❤️❤️ PROMOSI ❤️❤️❤️


__ADS_1


__ADS_2