
"Bagaimana hari pertama kerja di kantor?"
Baru saja Cheryl sampai di rumah, ia telah ditodong dengan pertanyaan dari Janu. Tidak biasanya lelaki itu sudah ada di rumah dan bersantai di ruang tengah sembari menghisap rokok.
"Yah, lumayan!" Jawabnya.
Cheryl menghampiri Janu dan duduk di hadapan lelaki itu. "Kamu pulang awal?" tanyanya.
Janu tersenyum seperti mengejek pertanyaan Cheryl. Lelaki itu mengangkat lengannya yang terluka. "Kamu masih ingat ini? Aku belum bisa masuk kantor."
Cheryl merasa seolah Janu sedang menumbuhkan kembali rasa bersalahnya. Karena dia, Janu belum bisa bekerja.
"Apa kamu sudah mulai sibuk pacaran di kantor?" ejek Janu.
Cheryl menatap kesal lelaki itu. "Kamu pikir aku kerja untuk hal itu?"
"Oh, tidak? Aku kira kamu senang mengumumkan pada karyawan lainnya kalau kamu pacarnya direktur keuangan di sana." Janu mulai menggoda istrinya.
"Apa tujuanmu menulis statusku single agar aku bebas pacaran di kantor?" tanya Cheryl dengan nada kesal.
"Bukankah kamu senang aku beri kebebasan?" balas Janu.
"Aku lebih senang kalau kamu ceraikan."
"Hahaha ... Kalau itu, aku tidak mau."
Sepertinya memang tidak segampang itu meminta cerai dari Janu. Cheryl akan fokus mencari dokumen itu sembari bekerja mengumpulkan uang.
"Ngomong-ngomong ... Ternyata presdir Atmajaya Sentosa seorang wanita, ya? Aku salut padanya bisa membawa perusahaan menjadi sebesar sekarang. Itu memotivasiku bahwa seorang wanita juga bisa sukses berkarir."
Ucapan Cheryl barusan tanpa sadar membuat luka lama Janu terkuak kembali. Ia mengepalkan tangannya menahan amarah terhadap pihak yang ia duga sebagai pembantai keluarganya.
"Cepat pergi dari sini! Badanmu sangat bau!" usir Janu. Tiba-tiba lelaki itu berubah galak pada Cheryl.
"Apaan sih? Kamu yang bau! Pekerjaan merokok terus!" bantah Cheryl.
"Pergi atau aku cium?" ancam Janu.
__ADS_1
Cheryl merasa jijik dengan sikap Janu padanya. Ia memilih menyingkir dari sana.
"Dasar aneh!" gerutunya.
***
"Tuan, saya sudah re-schedule aktivitas Anda selama sakit. Pertemuan dengan beberapa calon investor bisa dimundurkan pada awal bulan depan."
Finn membawa tumpukan pekerjaan dari kantor yang perlu ditandatangani oleh Janu. Sementara atasannya sakit, ia yang meng-handle tugas CEO di perusahaan.
"Apa dua bajiangan yang hampir membunuh Cheryl itu sudah sehat kembali? Aku tidak sabar ingin menghajar mereka," kata Janu.
Bukannya membahas pekerjaan, ia malah menanyakan hal lain.
"Saya kurang tahu, Tuan. Nanti akan saya tanyakan kepada Thor, dia yang bertugas untuk berjaga di sana."
"Kalau sudah sehat, langsung kabari aku!"
"Anda juga harus memperhatikan kesehatan sendiri, Tuan. Bagaimana Anda mau menghajar mereka dengan tangan yang terluka?"
"Aku masih punya dua kaki yang cukup untuk meremukkan tubuh mereka," ucap Janu dengan nada menggebu-gebu.
Seketika Janu terlihat pura-pura lemas. "Aku mau istirahat satu minggu saja," katanya.
Kondisi luka pada tangannya semata-mata hanya untuk alasan agar tidak pergi kerja sementara. Ia juga mennggunakan alasan yang sama agar Cheryl menjadi sungkan padanya.
Drrtt ... Drrtt ....
Finn mengangkat ponselnya. Telepon dari Silvia masuk ke nomornya. "Tuan, Nyonya Silvia menelepon," katanya.
Janu sebenarnya sangat malas mengurusi wanita itu. "Berikan padaku!" perintah Janu.
Ia menerima ponsel yang Finn berikan. "Halo?" sapanya.
"Oh, putra keduaku akhirnya bisa dihubungi juga. Kenapa kepergianmu sangat lama, Sayang?"
Suara Silvia dari ujung telepon terdengar merdu dan lemah lembut. Namun, suara itu bagaikan siksaan ketika didengarkan oleh Janu.
__ADS_1
"Aku sedang mempersiapkan kepulangan Mommy. Aku sudah berhasil masuk ke perusahaan Atmajaya Sentosa lewat tangan orang lain," kata Janu. Setiap kali mendengarkan wanita itu berbicara, ia seperti terhipnotis.
"Pintar sekali, Janu. Mommy bangga padamu. Sayangnya, Daddy Damian di sini sepertinya sedikit kesusahan karena ditinggal olehmu. Bagaimana kalau dalam waktu dekat ini kamu pulang ke sini?"
Janu terdiam. Permintaan seperti itu pasti akan berujung merepotkannya. Namun, setiap kali ia berniat membantah, rasa sakit cambukan di punggungnya seakan kembali panas.
"Baiklah, minggu depan aku akan pulang," kata Janu.
"Terima kasih, Sayang. Kamu memang anak yang bisa kami andalkan."
Janu mematikan sambungan telepon dan mengembalikannya pada Finn. Ia mengusap kasar wajahnya merasakan kembali beban berat yang harus dipikulnya.
"Apa Anda yakin akan pulang?" tanya Finn khawatir.
"Apa aku punya pilihan?" nada bicara Janu seperti orang yang tengah putus asa.
Finn merasa kasihan dengan bosnya. Meskipun tidak tahu persis seperti apa kehidupan keras yang dijalaninya, namun dari bekas luka yang ada di sekujur tubuh Janu sudah menjelaskan semuanya. Silvia dan Damian merupakan orang tua yang kejam.
"Saya selalu membayangkan Anda bisa hidup damai di sebuah tempat terpencil yang damai dan tidak tersentuh oleh orang-orang jahat. Anda harus hidup bahagia di sana dengan orang yang Anda cintai," kata Finn.
Janu terkekeh mendengar Finn tiba-tiba menjadi puitis. "Mungkin aku harus membunuh banyak orang untuk bisa mewujudkannya," katanya.
"Anda bisa menolak jika tidak menyukai sesuatu, Tuan."
"Aku tahu. Aku sangat ingin melakukannya. Tapi, rasanya aku belum bisa kalau berkaitan dengan Silvia."
Janu merasakan baik tubuh dan pikirannya masih dikendalikan oleh wanita itu.
***
❤❤❤ PROMOSI ❤❤❤
Hai, terima kasih sudah membaca cetita ini. Jangan lupa mampir ke karya teman author juga, ya! Dijamin ceritanya nggak kalah seru 😘
Judul: Cinta dan Pengkhianatan
Author: Eni Pua
__ADS_1