
"Bos, bagaimana ini?" tanya salah satu anak buah Yohan.
Yohan sendiri terlihat panik. Ia tak bermaksud membunuh Thea. Apa yang ia lakukan sekedar ingin menakut-nakuti saja.
"Nyonya! Nyonya!"
Anak buah Thea yang khawatir berlari mendekat. Ia berusaha menyadarkan wanita itu, namun Thea tak lagi bergerak. Mereka bergegas membawa Thea pergi untuk mendapatkan pertolongan.
"Ayo kita pergi!"
Yohan mengajak anak buahnya untuk kabur di saat anak buah Thea sibuk dengan nasib wanita itu.
***
"Apa yang terjadi? Kenapa tanganmu berlumuran darah?"
Ira terkejut saat melihat kepulangan suaminya dalam kondisi yang kacau. Tidak biasanya lelaki itu pulang membawa bekas-bekas pembunuhan.
"Aku baru saja dari rumah Thea. Aku tidak sengaja membuatnya terjatuh dan terkena pecahan kaca. Sepertinya kondisinya kritis," ucap Yohan dengan wajah yang pucat. Ia menyesal telah berbuat melampaui batas terhadap wanita itu.
"Apa? Kamu sudah gila!" Ira menaikkan nada bicaranya seakan tak percaya dengan apa yang suaminya katakan.
"Aku bilang kan tidak sengaja! Aku terlalu emosi tadi!" kilah Yohan. "Kamu tahu sendiri kan, bisnisku kacau, anak buahku tertangkap polisi! Aku meminta wanita itu untuk tanggung jawab mengganti kerugian kita!"
"Tapi, tidak perlu sampai sejauh itu. Bagaimana kalau dia mati? Selama ini dia yang sudah melindungi kita. Kamu membuat semua menjadi rumit!" Ira menjadi ikut panik.
"Karena itu aku pulang untuk memberi tahumu."
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Ira bingung.
"Kita kabur saja ke luar negeri. Ke negara manapun asalkan tidak ada yang tahu tentang keberadaan kita. Ajak juga Arsen pergi! Bawa semua barang yang tersisa!"
"Mana bisa tergesa-gesa seperti ini. Bagaimana aku menjelaskan pada Arsen? Dia pasti akan bertanya!"
"Bertanya apa, Ma?" sahut Arsen.
Ia hendak mengambil minum tetapi mendengar suara gaduh di lantai bawah. Ternyata ayah dan ibunya tengah meributkan sesuatu.
__ADS_1
"Kenapa Papa berlumuran darah seperti itu? Apa yang sudah Papa lakukan?" Arsen begitu terkejut melihat kondisi ayahnya.
Ira dan Yohan terdiam. Mereka bertambah panik karena putra mereka yang tidak tahu apa-apa akhirnya memergoki mereka.
"Jangan katakan kalau kalian sudah melakukan tindakan kriminal," tebak Arsen.
"Aduh, kamu jangan salah sangka, Sayang. Mana mungkin kami melakukan hal semacam itu." Ira memasang senyum palsu. Ia meraih tangan anaknya dan menggenggamnya.
"Apa yang hendak kalian sembunyikan dariku?" Arsen tak begitu saja percaya. Ia yakin ada hal serius yang telah terjadi tanpa sepengetahuannya.
"Papa berkelahi dengan sekelompok preman. Salah satu anak buahnya tertusuk pisau dan ia membantu membawanya ke rumah sakit. Makanya Papamu terkena noda darah juga," kilah Ira.
"Oh, begitu. Aku kira ada hal serius yang terjadi." Arsen mempercayai ucapan ibunya.
Ira merasa lega. "Oh, iya, Sayang. Kamu berkemas-kemaslah sekarang. Besok pagi kita akan berangkat ke luar negeri," kata Ira.
"Kemana, Ma? Kok mendadak?" tanya Arsen heran.
Ira tersenyum kaku. "Kemana ya, Pa?" tanya Ira. Ia juga tidak tahu kemana tujuan mereka sebenarnya.
"Ke Swiss. Ada pertemuan bisnis dengan salah satu temanku. Aku butuh bantuanmu, Arsen. Tolong jangan banyak bertanya, nanti akan kami jelaskan di sana," kata Yohan.
"Itu bukan masalah besar! Memangnya kamu lupa kalau Mama berteman baik dengan Ibu Thea? Aku akan mengurus ijinmu. Pokoknya, kamu menurut saja dulu karena ini sangat penting," bujuk Ira. "Kamu mau, kan?" tanyanya memastikan.
"Ya, baiklah kalau begitu. Kita berangkat besok pagi, kan?"
"Kalian berangkat sekarang saja dan menginap di area bandara. Aku akan mengurus tiket dan lainnya. Cepatlah kalian bersiap!" perintah Yohan.
"Kenapa kita jadi diburu-buru seperti ini?" gumam Arsen.
"Sudahlah, naik ke atas dan berkemaslah! Kalau sudah selesai, turun ke bawah!" perintah Ira.
Meskipun masih merasa heran, Arsen tetap menurut. Ia kembali naik ke atas untuk mengemasi barangnya.
"Bagaimana sekarang?" tanya Ira bingung.
"Bawa saja apa yang bisa dibawa. Sisanya, akan aku amankan bersama anak buahku. Yang penting, kalian berdua selamat dulu di sana. Ada banyak hal yang harus aku urus di sini."
__ADS_1
"Kamu tidak ikut pergi dengan kami?" Ira tidak mau meninggalkan suaminya.
"Aku akan menyusul. Tentu saja setelah mengumpulkan banyak uang untuk hidup kita di sana sampai tua nanti. Thea, anak buahnya, dan keluarga Rudianto tidak akan melepaskan kita. Aku yakin mereka akan mencari kita. Sebelum hal buruk itu terjadi, pergilah bersama Arsen lebih dulu! Aku akan menyusul kalian!"
Ira memeluk Yohan. Ia menitihkan air mata karena merasa cemas. Sekian tahun menikmati hidup yang damai, akhirnya mereka merasakan masa-masa yang sangat menegangkan.
Yohan mengusap air mata yang mengalir di pipi Ira. "Jangan menangis. Aku pastikan hidup kita akan bahagia tanpa kekurangan harta. Kita berpisah dulu sementara," ucap Yohan.
Ira mengangguk. Ia membiarkan Yohan pergi ke area ruang kerja, sementara ia masuk ke dalam kamar mengemasi barang-barangnya.
Ira menuju lemari miliknya. Bukan pakaian yang ingin dibawanya, melainkan koleksi perhiasan dan jam tangan mewah yang dimilikinya. Ia memasukkan semua itu ke dalam koper tanpa sempat menatanya. Ia asal memasukkannya seperti seorang maling.
Ada banyak tas mewah yang ingin dibawa, namun dua koper besar telah penuh dengan barang berharganya. Ia hanya membawa beberapa lembar pakaian sekedar menutupi barang-barang itu.
Rasanya ia ingin menangis memandangi kamarnya sendiri. Ia tidak siap meninggalkan segala kemewahan yang selama ini dinikmatinya.
"Ma, aku sudah siap," kata Arsen yang telah turun ke lantai bawah membawa satu koper kecil.
Buru-buru Ira menutup koper miliknya agar putranya tak tahu apa yang ia masukkan di dalamnya.
"Oh, kamu sudah selesai? Mama juga. Ayo kita berangkat sekarang!" ucap Ira dengan senyuman lebar. Ia menarik kedua koper besar yang ingin dibawanya.
"Mama kenapa barang bawaannya sangat banyak? Memangnya kita mau pindahan?" guman Arsen.
"Kamu kan tahu sendiri kalau mama suka bergaya. Di sana butuh ganti-ganti pakaian kalau foto untuk di pajang di sosial media," kilah Ira.
"Mama kan biasanya belanja di sana. Untuk apa bawa banyak barang dari sini?"
"Sudahlah! Mama sedang belajar berhemat, Sayang!"
Arsen menyerah. Ia tak banyak bertanya lagi kepada ibunya. Ia membantu ibunya membawakan satu kopernya ke depan.
Di halaman depan, sopir yang akan mengantar mereka telah bersiap. Koper-koper itu dimasukkan ke dalam bagasi mobil.
"Ayo, kita masuk!" pinta Ira ketika Arsen masih berada di luar mobil.
"Papa mana?" tanyanya.
__ADS_1
"Nanti dia akan menyusul, kita berangkat duluan," jawab Ira.
"Oh, begitu." tanpa rasa curiga sedikitpun, Arsen percaya pada ibunya.