
Cheryl menghela napas panjang sebelum memasuki gedung bertingkat tinggi yang mulai hari ini akan menjadi tempat kerjanya. Atmajaya Sentosa, salah satu perusahaan yang menjadi impian banyak orang untuk bisa bekerja di sana.
Pak Imron mengantarnya bekerja di hari pertama. Untuk seterusnya, ia disuruh naik taksi saja kalau mau pergi kerja. Padahal ia bisa mengendarai mobil sendiri. Namun, seperti biasa, Janu memang ingin sedikit menyiksanya.
Ia melangkahkan kaki memasuki area lobi. Ada banyak karyawan yang baru datang. Semuanya tampak terburu-buru sampai tak sempat saling menyapa.
"Apa ini Nona Cheryl?" tanya seorang lelaki paruh baya menghampirinya.
"Ah, iya. Benar, Pak, saya Cheryl," jawabnya.
Lelaki itu mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri sebagai manajer pemasaran. Cheryl diminta ikut dengannya menuju ke divisi marketing.
"Selamat pagi, semuanya. Hari ini saya membawa seorang yang akan menjadi anggota baru di divisi kita."
Pak Windu selaku manajer bagian pemasaran mengumpulkan seluruh bawahannya untuk memperkenalkan Cheryl yang baru akan bergabung dengan mereka.
"Halo, nama saya Cheryl Putri Alexander. Senang bergabung bersama kalian," kata Cheryl.
"Baiklah, kalian bisa saling mengenal ke depannya. Tolong bekerja sama dengan baik," nasihat Pak Windu. "Dinda," panggilnya.
"Iya, Pak?" wanita yang bernama Windu maju ke depan.
"Tolong kamu bimbing Cheryl menggantikan tugas Friska sampai dia bisa."
"Baik, Pak," jawab Dinda.
"Kalian semua boleh lanjut bekerja."
Para staff divisi pemasaran segera membubarkan diri. Cheryl mengikuti Dinda menuju ke meja kerjanya.
"Ini sekarang jadi tempat kerjamu."
Dinda melipat tangannya di dada. Muka ramah yang tadi ia perlihatkan kini berubah menjadi sinis. Seolah wanita itu merasa lebih superior dari pada karyawan baru.
"Itu tumpukan berkas pekerjaan Friska yang belum terselesaikan. Kamu bisa menyelesaikannya, kan?" tanya Dinda dengan nada angkuh.
"Iya, akan aku coba menyelesaikannya sendiri." Cheryl berusaha tersenyum. Baru kali ini dalam hidupnya ia diperintah dan direndahkan orang.
__ADS_1
Cheryl mulai membuka laporan yang sebelumnya telah dibuat oleh mantan karyawan di sana. Ia sedikit risih karena Dinda masih berada di sana untuk mengawasinya.
"Laporan bulan ini belum dibuat oleh Friska. Jadi kamu yang bertanggung jawab untuk membuatnya!" perintah Dinda.
"Iya, nanti aku buat."
Dinda lebih menyeramkan dari Janu. Wanita itu seperti harimau yang siap menerkam mangsanya dengan ganas.
"Hah! Bisa-bisanya perusahaan ini menerima karyawan baru jelang akhir tahun begini," gerutu Dinda.
Cheryl merasa wanita itu sedang berusaha menyindirnya. Namun, ia mencoba untuk tidak terpengaruh. Ia berusaha mempelajari sebaik mungkin apa yang telah karyawan sebelumnya buat.
"Aku dengar usiamu sudah 27 tahun tapi masuk ke sini tanpa pengalaman kerja? Jangan-jangan kamu masuk lewat orang dalam?"
Cheryl menoleh ke belakang menatap tajam ke arah Dinda. Ingin rasanya ia mengatakan jika keberadaan wanita itu sangat mengganggunya.
"Kenapa? Kamu merasa tersinggung? Jangan-jangan memang benar kalau kamu masuk ke sini lewat orang dalam," sindir Dinda dengan wajah sinisnya.
"Memangnya kenapa kalau iya? Apa kamu merasa dirugikan?"
Selama ini ia terbiasa dimanja ayahnya. Tidak ada seorangpun yang berani menentang keinginannya. Walaupun ia telah kehilangan keluarganya, jika penentangnya masih ada.
"Apa katamu? Kamu sedang berusaha melawanku?" Dinda tidak menyangka karyawan baru itu berani membantahnya.
"Kamu tadi tanya kan, apa aku masuk perusahaan lewat orang dalam? Memang iya, aku masuk dengan bantuan seseorang. Lalu kamu mau apa?" Cheryl mengatakannya dengan nada yang santai.
Dinda tersenyum sinis. "Kamu bangga bisa masuk ke sini lewat orang dalam?"
"Aku tidak sedang membanggakan diri. Itu jawaban untuk pertanyaanmu supaya tidak penasaran lagi. Kenapa kamu sepertinya membenciku padahal baru bertemu? Apa aku pernah berbuat salah padamu?"
Dinda mengeratkan giginya menahan kekesalan. Baru kali ini ada anak baru yang begitu berani membantahnya. "Apa kamu tidak takut dipecat?" ancamnya.
"Tidak! Kenapa harus takut? Memangnya ini perusahaanmu?"
Jawaban Cheryl semakin membuat Dinda kesal. Wanita itu menyeringai. "Kamu tidak akan bertahan lama bekerja di sini dengan atitude seperti itu. Apalagi kamu karyawan baru, hati-hati kalau sampai manajer memecatmu." Ia memberikan peringatannya sekali lagi.
"Aku tidak mau mengajarimu. Kamu sangat sombong. Kerjakan saja semuanya sendiri!" lanjut Dinda. Ia akhirnya pergi meninggalkan meja kerja Cheryl.
__ADS_1
"Heh, anak baru? Kamu sudah gila, ya?"
Seorang karyawan yang duduk di dekat Cheryl menjulurkan kepalanya melewati sekat yang dibuat sebagai pembatas antar staff.
Cheryl mendongakkan kepala melihat rekan kerja bangku depannya.
"Kamu berani banget berkata seperti itu pada Dinda. Sumpah, kata-katamu sangat spektakuler bisa membuat nenek sihir di divisi ini mati kutu!" wanita itu mengacungkan jari jempolnya.
Cheryl hanya tersenyum. Ia melakukan apa yang ada di dalam hatinya.
"Kenalkan, namaku Vina." wanita itu menjulurkan tangamnya.
Cheryl menjabat tangan itu. "Aku Cheryl," katanya.
"Karyawan yang duduk di tempatmu dulu namanya Friska. Dia resign gara-gara tidak tahan dengan sikap Dinda kepadanya. Aku harap kamu bisa bersabar menghadapi dia, sifatnya memang begitu. Apalagi dia karyawan kesayangan pak manajer."
"Terima kasih nasihatnya," kata Cheryl. Ia lega bahwa tidak semua karyawan sama seperti Dinda.
"Oh, iya. Kalau ada yang tidak kamu tahu, jangan sungkan tanyakan saja padaku. Aku tidak akan segan untuk membantumu."
Cheryl menangkupkan kedua telapak tangannya mengisyaratkan rasa terima kasih.
"Kalau begitu, aku lanjut kerja lagi. Kita bisa ngobrol lebih banyak saat istirahat." wanita itu kembali menarik kepalanya.
Kini, Cheryl kembali fokus pada layar monitor dan tumpukan data-data yang ada di meja. Ia akan membuktikan kepada orang yang meremehkannya bahwa ia punya kompetensi yang baik.
***
❤❤❤ PROMOSI ❤❤❤
Hai semua, terima kasih sudah mampir di karyaku. Jangan lupa mampit ke karya teman author juga, ya! Dijamin nggak kalah seru 😘
Judul: Love Me Please, Daddy!
Author: Tyatul
__ADS_1