
Bruk!
Cheryl melemparkan setumpuk berkas ke hadapan Janu. Ia datang menemui lelaki itu dengan perasaan yang kesal.
"Maksudnya apa? Selain aset dan perusahaan Papaku, kamu juga mengambil alih rumahku?"
Cheryl tidak menyangka lelaki itu bisa begitu serakah pada kekayaan yang seharusnya menjadi haknya.
"Kenapa kamu sangat hobi berbicara dengan kasar padaku? Cobalah tenang, duduk di pangkuanku dan katakan keinginanmu."
Melihat raut emosi Cheryl, Janu justru tertarik untuk menggodanya. Ia menepuk pahanya menawarkan tempat duduk untuk istrinya.
"Berhenti bercanda denganku! Aku kemari bukan untuk itu!"
Kesabaran Cheryl sudah habis melihat tak ada satupun peninggalan orang tuanya yang dialihkan atas namanya. Semua dibuat atas nama Janu, selaku pihak suami dirinya.
"Memang apa bedanya dengan namamu dan namaku? Semua milikku juga milikmu. Kita suami istri, jangan lupakan itu." Janu menanggapi perkataan Cheryl dengan sangat tenang.
"Kembalikan semua milik Papaku!" pinta Cheryl dengan suara setengah berteriak.
Janu sampai memegangi telinganya yang berdengung. "Ah, kira-kira apa yang keluarga kita bicarakan di sana? Ayah mertuaku pasti sedih melihat putrinya menjadi galak seperti ini," selorohnya.
"Hah! Papaku tak akan sudi punya menantu sepertimu. Jangan sembarangan membawa-bawa nama Papaku."
"Kalau kamu sudah pintar, pasti akan aku kembalikan semua padamu. Sementara, biar aku yang mengatur milik Om Hendry," kata Janu.
"Kamu ...."
Plak!
"Ah!"
Cheryl memukul tepat di bagian lengan Janu yang terluka. "Aduh, maaf, aku tidak bermaksud memukul lukamu," katanya.
Janu tampak meringis menahan sakit. Luka yang belum menutup secara sempurna itu kembali mengeluarkan darah yang merembes mengotori kemeja putihnya.
"Kamu melepas perban lukanya?" tanya Cheryl. Ia seakan melupakan kemarahannya dan kembali peduli pada Janu.
Ia bergegas lari mengambil perlengkapan P3K dan kembali menghampiri Janu. "Kenapa aku di sini seperti pengasuh anak balita?" gerutu Cheryl sembari mengambil perlengkapan yang ia perlukan.
"Buka bajumu!" perintahnya.
__ADS_1
Janu masih memegangi lengannya yang terasa sakit. Dengan paksa Cheryl menyingkirkan tangan itu dan melepas paksa kemeja yang lelaki itu kenakan.
"Hah ... Kenapa kamu hobi sekali menelanjangi orang," ucap Janu. Ia membiarkan wanita itu melepaskan kemejanya meskipun dengan sedikit kasar.
"Aku juga tidak mau melakukan hal ini! Sepertinya roh ibuku sedang masuk ke tubuhku!" oceh Cheryl.
Dia memang tidak biasanya peduli dengan orang lain. Entah mengapa setelah bertemu Janu, ia tidak bisa mengabaikannya.
"Hahaha ...." Janu tertawa dengan perkataan Cheryl. Ia jadi mengingat kembali cerita yang pernah ia dengar dari ibunya berulang-ulang. Katanya, dia bisa terlahir dengan selamat ke dunia berkat Tante Citra, ibu kandung Cheryl.
"Loh, ini bekas luka apa?" tanya Cheryl.
Ia melihat di punggung Janu ternyata ada beberapa bekas luka memanjang yang sepertinya telah lama. Ia baru benar-benar melihatnya sekarang.
"Abaikan saja, kamu cukup membalutkan perban saja ke luka di lenganku ini," kata Janu.
Cheryl mencebikkan bibir. "Memangnya tidak boleh kalau aku ingin tahu?" kesalnya. Ia mulai membersihkan kembali luka di lengan Janu.
"Kalau kamu tahu, mungkin kamu tidak akan menganggapku jahat lagi. Mungkin kamu akan kasihan kepadaku," kata Janu.
"Hahaha ... Paling itu luka dari musuhmu. Bagaimanapun juga, aku tetap membencimu!" Cheryl sangat percaya diri tidak akan terpengaruh sengan ucapan Janu.
"Itu bekas cambukan ayah angkatku," kata Janu. Ia mulai berbicara dengan serius.
Janu mengangguk. "Namanya Damian. Dia seorang mafia narkoba dan penyelundupan senjata."
Cheryl agak kaget mendengar ada pekerjaan semacam itu.
"Aku adalah salah satu anak buahnya," kata Janu dengan tenang.
Cheryl menatap Janu. Di saat yang bersamaan, Janu menatapnya balik. "Hahaha ... Apa aku sedang mendengar cerita karangan?" tanyanya. Ia tak percaya dengan apa yang lelaki itu katakan.
"Bekas cambukan itu aku dapatkan setiap kali membantah perintahnya."
Ucapan Janu terdengar serius meskipun sulit dipercaya. Cheryl tidak berani lagi menertawakannya.
"Aku membantu ayah angkatku menyelundupkan barang sejak berusia 13 tahun."
"Tidak mungkin, itu usia yang terlalu kecil untuk terlibat dalam tindakan kejahatan," guman Cheryl.
Janu menyunggingkan senyum. "Justru karena masih kecil jadi jarang dicurigai membawa sesuatu yang terlarang," katanya.
__ADS_1
"Eh! Kamu mau apa?" Cheryl tersentak kaget saat Janu menggerakkan tangan melepaskan kaitan resleting celananya. Reflek ia menangkupkan tangan ke wajah.
Janu hanya tertawa kecil melihat tingkah Cheryl. "Ginjalku juga mereka ambil satu untuk dijual kepada orang kaya yang terkena gagal ginjal."
Cheryl melepaskan tangannya. Ia terperangah melihat bekas luka berbentuk garis lurus di area pinggang kiri Janu. Sulit dipercaya ada orang tua setega itu kepada anaknya meskipun hanya anak angkat.
Tangan Cheryl menyentuh bekas luka itu. Benar apa yang Janu katakan. Ia jadi kasihan kepada lelaki itu.
"Ah, hati-hati dengan tanganmu. Kamu bisa membangunkan sesuatu," ledek Janu.
Cheryl langsung menarik kembali tangannya. "Bagaimana dengan Kak Kenzo? Apa merek juga memperlakukannya dengan buruk sama sepertimu?"
Janu menggeleng. "Dia anak kandung Silvia, tidak mungkin mereka menyakitinya." Janu kembali teringat masa-masa menyakitkannya di sana. Baru kali ini ia mau menceritakannya kepada orang lain.
"Kak Kenzo tinggal terpisah denganku. Dia tinggal di apartemennya sendiri menjalani kehidupannya sendiri."
"Kenapa kamu tidak kabur saja?" tanya Cheryl.
"Hahaha ...." Janu tertawa. "Aku pergi ke luar negeri, tinggal bersama mereka juga untuk kabur dari orang-orang yang ingin membunuhku. Mereka yang telah membantai keluargaku tidak akan puas sebelum menghabisi aku dan Kak Kenzo."
"Apa yang mereka telah lakukan menurutku sudah kelewatan. Bagaimana bisa mereka menjual ginjalmu dan menyuruhmu menjadi pengedar narkoa?" Cheryl sangat miris mendengarnya.
"Aku sudah sering mengatakan, orang yang kuat cenderung memilih orang yang lemah untuk diinjak dan direndahkan. Kalau tidak jadi penindas, maka kita sendiri yang akan tertindas."
"Sekarang kamu juga sudah ada di sini. Kamu tidak perlu kembali lagi ke sana," kata Cheryl.
Janu menyunggingkan senyum. Ia memiringkan kepalanya memandangi Cheryl yang tengah membalut kembali lukanya. "Aku butuh banyak uang untuk bersembunyi dari mereka. Aku juga butuh kekuasaan untuk menghadapi mereka. Makanya aku rampas semua milikmu. Itupun masih belum cukup," selorohnya.
Cheryl menoyor kepalanya.
***
❤️❤️❤️ PROMOSI ❤️❤️❤️
Hai ... Jangan lupa mampir ke karya teman author, ya?
Judul: Istri Rahasia Sang Presdir
Author: Desy Puspita
Pasti kalian nggak asing kan, dengan nama author Kak Desy? Cus kepoin deh 😘
__ADS_1