Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 62: Olahraga Malam


__ADS_3

"Selamat datang, Tuan."


Bi Trini menyambut kepulangan Janu malam itu. Ia menerima tas dan jas yang Janu berikan untuk diletakkan di ruang kerja. Lelaki itu tampak melonggarkan dasinya sendiri.


"Dimana Cheryl?" tanyanya.


"Nyonya sedang di ruang gym, Tuan."


Janu mengerutkan dahi. Rasanya aneh malam-malam begini istrinya sedang berolahraga di sana.


Ia segera naik ke atas menuju kamar dan masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaian. Setelah itu, ia merebahkan tubuh sebentar di atas ranjang sembari membuka pesan di ponselnya. Berada di kamar itu sendirian membuatnya bosan.


Ia kembali bangkit dan melangkahkan kaki menuju ruang gym yang ada di rumahnya. Ia sangat penasaran dengan apa yang sedang istrinya lakukan di sana.


Benar saja, Cheryl sedang berlari kecil di atas treadmill. Lekukan tubuh yang tercetak dari pakaian gym yang istrinya kenakan sangat menggodanya. Apalagi Cheryl mengenakan pakaian olahraga model tanktop dan celana pendek.


Lelaki itu tergerak untuk masuk ke dalam dan duduk sembari memperhatikan gerakan tubuh istrinya. Baru kali ini ia melihat langsung istrinya olahraga.


Cheryl merasa olahraganya sudah cukup dilakukan ia mematikan alat dan turun dari atas treadmill. Ia memegangi dadanya saat menyadari keberadaan Janu di sana.


"Sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Cheryl sembari mengelap keringat yang menrtes dari tubuhnya.


Janu menyunggingkan senyum. "Baru saja. Kenapa kamu malah berhenti? Aku masih mau melihatmu dari sini," godanya.


"Ah, sudahlah! Memangnya apa yang menarik dari melihat orang olahraga!"


"Aku tidak bisa tidur!" ucap Janu.


"Kenapa tidak bisa tidur? Kamu tinggal berbaring di ranjang dan memejamkan mata, kan?" Cheryl merasa alasan Janu ada-ada saja.


"Sepertinya aku sudah tidak bisa lagi tidur tanpa sesuatu di mulutku untuk diisap." Janu mengerdip-ngerdipkan mata menggoda istrinya memberi kode.


Kembali Cheryl merasa suaminya sangat luar biasa mesvmnya. "Isap jempolmu sendiri!" ketus Cheryl.


"Itu tidak enak. Lebih enak put ingmu, Sayang." lelaki itu mengerlingkan sebelah mata.

__ADS_1


Hilang sudah kesabarannya sebagai istri. Cheryl hendak memilih keluar dari ruangan itu namun Janu menarik tangannya hingga jatuh di atas tubuh suaminya.


"Kenapa buru-buru?" tanya Janu.


"Aku mau mandi dan setelah itu mau tidur!"


Cheryl bangkit dari atas tubuh Janu. Ia berjalan meninggalkan ruang gym ke kamarnya sendiri. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan menanggalkan pakaiannya yang telah basah oleh keringat.


Ia terlihat cukup hati-hati takut Janu tiba-tiba masuk ke dalam seperti biasa. Namun, kali ini berbeda. Lelaki itu tampaknya tak mengikutinya. Ia bisa mandi dengan tenang menyegarkan badan.


Bahkan sampai ia mengeringkan rambut dan mengenakan pakaian tidur, Janu belum menyusulnya. Di dalam kamar juga Janu tidak ada. Cheryl cuek, ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan menaikkan selimutnya.


***


"Bagaimana perkembangan di PT Atmajaya Sentosa?" tanya Janu. Ia tengah berada di ruang kerjanya bersama Finn.


"Beberapa pemegang saham sepertinya mulai goyah, Tuan. Hanya saja, mayoritas masih memberikan dukungannya pada Ibu Thea."


Janu berpikir keras. Ia sudah tidak sabar melihat perusahaan itu kembali padanya. Menghadapi orang-orang licik itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi mereka sangat licik dalam melakukan aksinya.


"Menurutmu, apa yang harus kita lakukan untuk mempercepat rencana kita?" tanya Janu.


Tidak semudah itu mengorek informasi tentang presdir saat ini. Ada banyak orang yang membantu di belakangnya, terutama Kalong Merah.


"Apa kamu yakin kalau Kalong Merah didanai oleh keluarga Rudianto?" tanya Janu memastikan.


"Benar, Tuan. Anak buah kita pernah menangkap dua orang anggota mereka dan mengatakan hal itu. Kelompok mereka sudah semakin kuat, lebih dari preman biasa. Bahkan ada kalangan dari kepolisian yang melindungi aksi mereka."


"Apa kita serang saja markas mereka dan menghabisi semuanya?" Janu sangat ingin membalaskan dendam atas kematian keluarganya. Kejahatan yang Kalong Merah lakukan pada keluarganya sangat kejam. Mereka telah membunuh banyak nyawa dan mengambil alih perusahaan serta aset-aset yang tersisa dengan dalih pailit. Semudah itu mereka menguasai peninggalan orang tuanya.


"Anda jangan bertindak gegabah, Tuan. Kita sudah merencanakan ini selama dua tahun lebih. Jangan sampai emosi merusak semuanya. Menghancurkan Kalong Merah hanya menyingkirkan kulitnya saja. Yang Anda harus hancurkan adalah otak di balik kejahatan mereka."


Finn memang tangan kanan yang bisa Janu andalkan. Pemikirannya juga lebih bijaksana dari pada diri dia.


"Ada banyak sekali PR yang harus kita selesaikan. Pokoknya kamu juga harus menemukan bukti pelaku pembunuhan Michan secepatnya. Jangan sampai polisi lebih dulu bertindak. Hubungi pengacara kita dan tanyakan apakah bukti rekaman di hp Michan itu cukup untuk menjerat pelaku dengan hukuman? Kalau tidak bisa, kita eksekusi saja sendiri!"

__ADS_1


"Baik, Tuan. Akan saya selidiki hal itu."


"Aku mau tidur dulu. Kita lanjutkan pekerjaan lainnya besok," ucap Janu seraya bangkit dari duduknya.


Sesampainya di kamar, ia lihat Cheryl sudah lebih dulu tertidur di atas ranjang dengan tenang. Melihat pahanya yang tersingkap membuatnya menelan ludah. Bahkan dalam posisi tidur, wanita itu seakan tengah menggodanya.


"Sepertinya bukan hanya dia saja yang butuh olah raga. Aku juga ingin olahraga malam sambil memeluknya. Dia tidak akan marah, kan?" gumamnya.


Janu melepaskan pakaiannya sendiri. Perlahan ia menaiki ranjang mendekati istrinya. Saking lelapnya, Cheryl sampai tidak menyadari keberadaannya. Istrinya selalu cantik di matanya bahkan saat tertidur.


"Maaf ya, Sayang. Aku ingin olahraga," lirihnya.


Janu menyingkapkan pakaian tidur istrinya secara perlahan sampai dadanya terlihat menyembul. Benda bulat yang hangat itu selalu menjadi incaran pertamanya untuk melakukan pemanasan sebelum olah raga.


Saat ia menyesapnya perlahan, Cheryl hanya mengeluarkan suara kecil dan ekspresi yang lucu. Entah apa yang tengah istrinya mimpikan. Sentuhan tangannya juga mendapatkan respon namun wanita itu belum tak terganggu tidurnya.


"Tidurlah yang nyenyak, Sayang. Biarkan aku melakukan olahraga malam ini," bisik Janu.


Kecupan bibirnya semakin menurun menyisir area perut hingga tiba di antara kedua kaki mulus istrinya. Ia membenamkan kepalanya di sana mereguk madu milik istrinya. Cheryl terdengar mend esah kecil. Janu sangat berhati-hati melakukannya.


Bahkan, saat memasukkan miliknya, ia lakukan secara perlahan agar istrinya yang tengah tertidur tidak kaget.


"Sayang, bagaimana aku tidak tergila-gila kalau rasannya seenak ini." Janu sampai memejamkan matanya saking ia merasakan kenikmatan atas penyatuan mereka.


"Hngg ...." Cheryl membuka matanya saat merasakan ada sesuatu yang aneh dalam dirinya.


Ia sangat terkejut melihat Janu ada di atasnya. "Janu, kamu ngapain?" ia sama sekali tidak menyangka suaminya melakukan serangan tengah malam saat ia tertidur.


"Aku sedang olah raga, Sayang. Apa kamu merasa terganggu?" tanya Janu tanpa merasa bersalah.


Bagaimana mungkin ia tidak merasa terganggu merasakan sesuatu yang bergerak di dalam tubuhnya.


"Tidurlah lagi, Sayang. Biar aku yang menyelesaikan olahragaku," ucap Janu.


"Uhhh ... Janu sialan!" umpatnya kesal. Ia tidak mungkin bisa tidur dalam posisi semacam itu.

__ADS_1


"Kamu memang sangat hobi mengumpat, Sayang. Menjeritlah sepuasmu karena kita ada di kamar. Aku akan mendengarkannya." kekesalah Cheryl justru semakin membuatnya bersemangat untuk menyelesaikan olahraganya.


Cheryl sangat membenci sikap Janu yang seenaknya. Namun, di sisi lain ia juga tak memungkiri jika aktivitas mereka lama kelamaan terasa menyenangkan. Janu sangat handal dalam berciuman dan membuatnya menggila.


__ADS_2