
"Selamat ya, Pak, Ibu Cheryl ternyata sedang hamil."
Kenzo dan Cheryl saling bertatapan dalam diam. Mereka terkejut mendengar keterangan dokter kandungan yang baru saja memeriksa kondisi Cheryl.
Dari IGD, mereka diarahkan ke dokter kandungan untuk melakukan USG. Ternyata, dalam perut Cheryl ada janin yang sedang tumbuh.
"Jadi, gejala mual dan muntah yang baru saja dialami tidak berbahaya, itu adalah gejala yang wajar dialami oleh wanita hamil. Cukup hindari saja pencetus yang bisa menyebabkan munculnya rasa mual."
"Em, apa dokter tidak salah? Bisa jadi hanya keracunan makanan. Dia langsung muntah-muntah setelah makan sale pisang," sahut Kenzo.
Sang dokter tersenyum. "Tidak, Pak, Ibu Cheryl memang sedang hamil. Bahkan usia kandungannya sudah memasuki 10 minggu."
"Sebelumnya dia tidak pernah muntah-muntah, Dok. Baru hari ini saja aku lihat dia muntah setelah makan pisang sale." Kenzo seakan ingin menepis kabar kehamilan Cheryl yang masih belum bisa dipercayanya.
Lagi-lagi dokter tersenyum karena merasa lelaki di hadapannya itu lucu. "Mungkin Ibu Cheryl mencium bau yang membuat mual. Kebanyakan orang hamil tidak suka bau amis atau bau hewan peliharaan. Ada juga yang tak suka aroma parfum tertentu."
"Ah! Mungkin gara-gara Kitty, ya?" tebak Kenzo. "Tadi kamu mual karena aku menggendong Kitty, kan?" ujarnya.
Cheryl masih terdiam. Kabar kehamilannya sama sekali tak pernah disangka-sangka. Saat awal Janu memaksanya untuk melakukan hubungan suami istri, ia sempat mengkonsumsi obat penunda hamil karena tidak menginginkan anak dari orang yang dibencinya. Akhir-akhir ini ia memang telah lupa untuk meminum obat tersebut.
"Baiklah, kalau tidak ada pertanyaan lagi, kalian boleh pulang. Saya hanya meresepkan vitamin dan penambah darah supaya kondisi ibu dan janinnya tetap sehat. Jangan lupa makan makanan yang bergizi."
Dokter menyerahkan selembar resep obat yang perlu ditebus di apotek dan mempersilakan mereka keluar.
__ADS_1
Kenzo mengajak Cheryl kembali ke dalam mobil setelah menebus obat di apotek.
"Tolong jangan katakan hal ini kepada Janu ya, Kak!" pinta Cheryl.
Kenzo melebarkan mata. "Kamu sudah gila? Janu harus tahu kalau kamu sedang hamil!" kesalnya. Ia tetap berusaha fokus mengemudi meskipun suasana hatinya tidak baik mendengar permintaan Cheryl.
"Please, Kak. Biarkan aku yang menentukan sendiri kapan harus memberitahunya. Sementara waktu, jangan sampai ada yang tahu tentang kabar kehamilanku. Aku akan marah kepada Kakak kalau sampai ada yang tahu!"
"Tapi ...." Kenzo sampai memukul setir mobilnya.
"Kakak jangan khawatir, aku bisa menangani semuanya," kata Cheryl.
"Kamu kenapa, sih? Kalau jujur pada Janu, pasti dia akan lebih berpikir untuk membatalkan pernikahannya. Dia akan segera menikahi wanita lain dan kamu masih diam?"
Perlahan Cheryl mengelus perutnya yang masih kempes. Tak bisa dipercaya, di dalam perutnya sudah tumbuh hasil cintanya dengan Janu. Rasanya baru kemarin ia dewasa dan sebentar lagi ia akan menjadi orang tua.
***
Cheryl mengembangkan senyum saat melihat Janu ada di kamarnya. "Kamu sudah pulang?" tanyanya.
Raut wajah Janu yang awalnya terlihat cemas berubah lega setelah melihat kedatangan Cheryl. Ia langsung berjalan menghampiri sang istri dan memeluknya.
"Kamu dari mana saja? Aku kira kamu pergi meninggalkanku," ucap Janu khawatir. Ia takut Cheryl kabur darinya.
__ADS_1
Cheryl menepuk lembut punggung Janu. "Kak Kenzo mengajakku jalan-jalan sebentar ke luar karena aku bosan. Apa urusanmu di kantor sudah selesai?" tanyanya.
Janu melepaskan pelukannya dan menatap wanita itu dengan penuh cinta. "Tadi aku menyuruh Thor untuk menjemputmu karena ingin mengajakmu makan siang di luar. Tapi, ia bilang kamu tak ada di rumah. Aku panik dan langsung pulang."
Cheryl mengembangkan senyum. "Kamu jangan khawatir, aku tak akan pergi selama bukan kamu yang menyuruhku untuk pergi," katanya.
Janu memagut bibir mungil wanita kesayangannya dengan lembut. Ia mengangkat tubuh Cheryl dan menggendongnya. Ia membawa wanitanya berjalan tanpa melepaskan ciuman mereka.
Perlahan ia turunkan tubuh wanitanya diatas ranjang dan memperdalam ciuman di antara mereka. Ia sudahi ciumannya saat melihat wajah sang istri memerah dan hampir kehabisan napas. Ia menyibakkan helaian rambut yang menghalanginya memandangi wajah cantik itu.
"Terima kasih untuk mempercayaiku dan tidak membenciku," katanya.
Cheryl tersenyum. Ia mengusap pipi lelaki yang dicintainya itu. "Bagaimana bisa aku membencimu? Kamu yang ada di saat-saat tersulitku selama ini," katanya.
Janu kembali memeluknya. Ketulusan Cheryl membuatnya semakin tak bisa untuk melepaskan wanita itu. "Akhir-akhir ini aku merasa sangat lelah. Aku selalu khawatir kamu akan membenciku," ujarnya.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Bekerja boleh, tapi perhatikan juga kesehatanmu."
"Kalau aku disemangati olehmu terus seperti ini, aku merasa bisa bekerja dengan baik," kata Janu.
"Sebenarnya, aku sangat ingin melakukannya. Kita sudah lama tidak melakukannya. Apa kamu mau kalau aku mengajakmu sekarang?" tanya Janu dengan nada lirih.
Cheryl tersenyum. Ia memeluk tubuh lelaki itu. "Sejak kapan Janu meminta ijin saat menginginkannya? Lakukanlah jika memang kamu mau," bisiknya.
__ADS_1
Reflek Janu langsung bersemangat. Ia memandangi wajah sumringah Cheryl yang membuatnya bergairah. "Sepertinya aku tak akan kembali ke kantor lagi setelah ini," ucapnya seraya mencium bibir Cheryl.