Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 61: Mantan Pengecut


__ADS_3

"Cheryl! Ternyata kamu di sini. Aku sudah mencarimu kemana-mana."


Hendra merasa lega setelah berpapasan dengan Cheryl do koridor. Ia sudah berkeliling mencari wanita itu dan akhirnya bertemu.


"Ada apa, Hen?" tanya Cheryl.


"Pak Arsen memanggilmu ke ruangannya. Tadi pak manajer yang memberi tahu."


Cheryl merasa kelakuan Arsen masih menggelikan. Mantan kekasihnya itu menggunakan posisinya untuk bertingkah semaunya sendiri. Padahal ia sangat tidak ingin bertemu dengan lelaki itu.


"Oh, begitu ya. Aku akan langsung ke sana," ucap Cheryl.


"Tunggu!" Hendra menahan tangan Cheryl. "Sebenarnya kamu ada urusan apa sampai sering dipanggil ke ruangan Pak Arsen? Apa kalian punya hubungan?" telisik Hendra.


Cheryl mengembangkan senyum. Ia melihat kekhawatiran yang Hendra rasakan terhadap dirinya. "Aku memang mengenal Pak Arsen sejak jaman kuliah. Mungkin dia ingin membahas sesuatu saja. Kamu jangan khawatir," ucapnya.


"Ya sudah kalau begitu. Cepat kamu ke sana, siapa tahu penting," ujar Hendra.


Dengan malas Cheryl berjalan menuju ruangan Arsen. Di depan pintu sudah ada sekertarisnya yang ramah mempersilakan ia masuk ke dalam.

__ADS_1


Ia melihat Arsen di sana. Seperti yang telah ia dengan dari Ira, pergelangan tangan Arsen tampak berbalut perban.


"Cheryl!" Arsen berjalan menghampiri Cheryl dan memeluknya.


Cheryl hanya mematung. Ia sudah mati rasa terhadap lelaki itu. Bahkan ia tak memiliki rasa kasihan melihat pergelangan tangan yang dibalut perban itu. Ia mendorong Arsen menjauh darinya.


"Saya sudah pernah mengatakan jangan memanggil saya kalau bukan untuk urusan pekerjaan, Pak," katanya.


"Kalau bukan dengan cara seperti ini, apa masih mau kamu menemuiku?" tanya Arsen dengan raut wajah kecewa.


"Tentu saja tidak," tegas Cheryl.


Cheryl kembali teringat ucapan Ira yang sangat merendahkannya. "Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Cukup terima saja kenyataan kalau aku tidak mau lagi melanjutkan hubungan kita!"


"Cheryl!" bentak Arsen. Ia bangkit dan menatap tajam ke arah mantan kekasihnya. "Bagaimana bisa kamu memutuskan hal itu dengan mudahnya setelah 7 tahun kita bersama. Jangan-jangan kamu mulai tergoda dengan lelaki yang jadi suamimu sekarang."


Cheryl tersenyum sinis. "Kamu sama saja dengan ibumu yang berusaha menyalahkan aku. Lakukan saja kalau itu membuatmu senang. Tapi, apapun olokanmu padaku, aku tetap tidak akan merubah keputusan untuk putus denganmu!"


"Hah! Aku semakin yakin kalau kamu memang sudah berniat mengkhianatiku. Mungkin aku hanya apes saja lebih dulu ketahuan keburukanku." Arsen mulai memberikan tuduhan tak berdasar. Ia tak ingin dipersalahkan.

__ADS_1


Cheryl melebarkan matanya me atap nyalang kepada Arsen. "Asal kamu tahu malam itu aku sudah membawakan surat-surat aset yang kamu mau! Untung saja aku tidak jadi mengikuti kebodohanku untuk takhluk pada orang sepertimu!" makinya. Ia tak bisa membiarkan orang lain menginjak-injak harga dirinya lagi.


Arsen terlihat jadi kembali panik. "Cheryl, maafkan aku. Aku memang bodoh." ia meraih tangan Cheryl namun ditepis kasar.


Cheryl sepertinya serius dengan ucapannya. Arsen terancam kehilangan mantan kekasihnya itu untuk selamanya.


"Jangan jadi lelaki pengecut! Terima saja kenyataan kalau hubungan kita sudah berakhir. Tidak perlu kamu juga melapor pada ibumu. Kamu bukan anak kecil lagi!" sindir Cheryl.


"Ah, iya. Aku juga hampir lupa. Dokter kesayanganmu juga memintaku agar tidak terlalu kasar padamu. Dia sungguh perhatian." Cheryl mengatakannya sambil terkekeh. Semua orang menyalahkannya dan menganggap Arsen sebagai korban.


"Sadar dirilah kalau memang kamu sangat lemah, sedikit tekanan batin saja sudah membuat depresi. Kalau begitu, mungkin kamu bisa memintanya untuk bercinta lagi denganmu," ejek Cheryl.


Arsen tak bisa melakukan apa-apa dipermalukan sampai sebegitunya oleh Cheryl. "Hubunganku dengan Diana tidak seperti yang kamu bayangkan, Cheryl! Aku berani bersumpah dia yang memanfaatkan aku," ucap Arsen dengan nada rendah.


"Apapun yang kamu katakan tidak akan mengubah keputusanku. Mari, mulai saat ini kita mengurusi hidup masing-masing dengan tenang."


Cheryl berbalik badan dan meninggalkan ruangan Arsen.


"Hah!"

__ADS_1


Arsen mengusap kasar wajahnya dengan kasar. Ia tak tahu lagi apakah bisa bertahan hidup setelah berpisah dari Cheryl. Ia benar-benar tidak rela. Harapannya kandas begitu saja tanpa bisa diperbaiki.


__ADS_2