
Dinda tersenyum lebar. "Kamu tidak ingi tahu siapa yang memasukkannya?" tanyanya.
Meskipun ia tak terlalu peduli, namun ia juga ingin tahu bagaimana bisa wanita tidak tahu diri itu bisa satu tempat kerja dengannya.
"Aku dengar Dokter Diana punya hubungan khusus dengan Pak Arsen. Bahkan ibu dari Pak Arsen sendiri yang merekomendasikannya kepada ibu presdir."
Napas Cheryl terasa sesak. Setelah pengkhianatan itu secara terang-terangan sepertinya Arsen ingin mengajak perang dengannya. Apalagi sampai melibatkan orang tua dalam hal seperti itu. Dokter Diana benar-benar pemain ulung.
"Aku rasa hubunganmu dengan Pak Arsen tidak berjalan dengan baik." Dinda terlihat senang. Dia memang tipe wanita yang akan bahagia di atas penderitaan orang lain.
"Ya, memang seperti itu. Kamu senang kan, sekarang?" ucap Cheryl dengan nada datar. Ia sama sekali tidak menyesal telah kehilangan Arsen dari hidupnya. Ia tak akan berusaha untuk merebutnya kembali dari Dokter Diana. Menurutnya, perselingkuhan bukanlah kesalahan satu pihak saja melainkan dua pihak yang sama-sama salah.
Pandangan Dinda begitu merendahkannya. Ia sangat ingin membuat wanita itu terdiam dan tidak bisa berkata-kata lagi terhadapnya.
__ADS_1
"Kamu pasti sangat terluka kehilangan orang setampan Pak Arsen. Kasian sekali nasibmu," sindir Dinda.
Cheryl rasanya ingin tertawa. "Sebelum kamu kasihan dengan orang lain, lebih baik lihat dirimu sendiri. Aku tidak perlu capek-capek kamu kasihani. Permisi, ya!" ia menyerobot begitu saja dan menyingkirkan Dinda dari depan pintu. Ia heran sendiri setiap ia emosi dan terdesak tiba-tiba sifat bar-barnya muncul dan mampu menyingkirkan wanita menyebalkan itu.
"Hah ... Kenapa perusahaan ini penuh dengan orang-orang yang tidak waras!" gerutunya.
Saat ia melewati ruang klinik kesehatan, tanpa sengaja ia bertemu dengan Dokter Diana yang terlihat baru keluar dari ruangannya. Keduanya sama-sama saling pandang dalam diam.
Memandangi wajah wanita itu mengingatkannya kembali dengan adegan panas yang dokter itu lakukan bersama Arsen, pacarnya selama 7 tahun. Waktu yang panjang untuk pacaran ternyata bisa dikalahkan dengan satu malam percintaan dengan dokter itu. Tapi, ia juga tidak percaya kalau mereka melakukannya baru sekali itu. Apalagi dokter Diana sering terlihat di apartemen Arsen.
Tanpa menjawab apa-apa, Cheryl ikut begitu saja ke dalam klinik tersebut. Dokter Diana mempersilahkannya duduk.
"Aku ingin minta maaf atas kejadian waktu itu," ucap Dokter Diana.
__ADS_1
Cheryl membuang muka. Rssanya ia ingin tertawa keras mendengar pernyataan maafnya. Tak ada sedikitpun raut penyesalan yang ia tunjukan. Hanya sebatas kata maaf yang menurutnya tak berarti apa-apa. "Kenapa kamu harus meminta maaf segala? Itu menggelikan!" sindirnya.
"Aku tetap ingin minta maaf. Aku mengaku salah karena tidak bisa menahan diri. Terus terang, aku memang menyukai Arsen meskipun dia tidak menyukaiku." Dokter Diana terlihat begitu tenang mengatakannya.
"Memangnya rasa suka itu penting? Bukankah intinya kalian tetap melakukannya?"
"Ya, aku mengakuinya. Semua memang salahku yang merayunya. Arsen tidak bersalah apa-apa padamu. Jadi, janganlah kamu menghukumnya."
"Hahaha ...." Cheryl tak sanggup lagi menahan untuk tidak tertawa. "Dokter, apa kamu sadar kalau semua perkataanmu itu sangat menggelikan? Kenapa kamu mengaturku bagaimana aku harus bersikap? Itu terserah padaku. Dan dokter tidak perlu khawatir karena aku dan Arsen sudah putus. Silakan kalau kalian mau melanjutkan hubungan kalian!"
"Sikapmu yang seperti ini membuat Arsen jadi semakin depresi. Padahal dia sudah berjuang keras untuk menyembuhkan stres dan gangguan tidur karena menghilangnya dirimu saat itu."
"Jadi, apa kalian mau menyalahkanku sekarang?" tanya Cheryl dengan nada emosi. "Luar biasa! Kalian yang melakukan hal itu dan aku yang disalahkan." apa yang Dokter Diana katakan benar-benar di luar nalar.
__ADS_1
"Sebenarnya kamu boleh marah dan kecewa. Tapi, seharusnya tidak perlu meluapkan kekecewaan itu secara terang-terangan. Kondisi Arsen belum sepenuhnya stabil. Seharusnya jika kamu merasa sudah lama mengenalnya, kamu akan sedikit mengalah."
Cheryl bangkit dari duduknya. "Aku sama sekali tidak paham dengan apa yang kamu katakan. Aku pergi dulu!" ucap Cheryl seraya keluar dari ruangan itu. Ia benar-benar kesal dengan perkataan yang Dokter Diana sampaikan.