Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 42: Hasrat Terlarang


__ADS_3

Ting tong ....


Terdengar suara bel. Arsen yang tengah bersantai di ruang tengah segera bangkit dan berjalan ke arah pintu.


"Siapa, ya?" gumamnya.


Ia baru saja pulang hari ini dari luar kota dan berharap bisa menikmati waktunya untuk beristirahat. Bahkan sekertaris dan asistennya ia beritahu agar tidak mengganggu jadwal istirahatnya sampai besok.


Klek!


Saat pintu terbuka, Dokter Diana tepat ada di hadapannya. Seperti biasa, wanita itu menyunggingkan senyuman ramah kepadanya.


"Oh, kamu datang?" tanya Arsen dengan nada bicara seperti orang malas menerima tamu.


"Ya, aku tahu kamu baru pulang dari luar kota. Pasti butuh bantuan untuk lebih rileks supaya besok bisa bekerja dengan maksimal," kata Diana.


"Tapi, aku merasa kualitas tidurku sudah jauh lebih baik."


"Tapi, kalau kamu putuskan terapi yang kita jalani begitu saja, sewaktu-waktu gangguan tidurmu akan lebih parah dan mengganggu keseharian, Arsen. Aku tidak mau membuatmu harus mengulang terapi dari awal," kilah Diana.


"Ah, ya sudah. Kalau begitu, silakan masuk!"


Arsen terpaksa mempersilakan Diana masuk ke dalam apartemennya. Ia sudah berusaha menolak terapi yang ditawarkan Diana. Setelah Cheryl kembali, kondisinya jauh lebih baik.


Namun, Diana tetap berkilah bahwa Arsen masih membutuhkan terapi darinya. Intensitas pertemuan mereka sudah jauh berkurang dari yang awalnya 3 kali seminggu, kini hanya 2 kali sebulan. Hari ini Diana datang di luar janji mereka.

__ADS_1


"Dokter mau minum apa?" tanya Arsen.


"Tidak perlu, Arsen. Kita langsung saja masuk ke sesi terapi," kata Diana.


Seperti biasa, mereka menuju ke dalam kamar. Arsen melepaskan pakaiannya dan menyisakan boxernya. Sementara, Diana menyalakan dupa yang mampu mengeluarkan aroma menenangkan. Wanita itu menyalakan musik bertempo lambat yang biasa digunakan untuk sesi hipnoterapi bagi pasiennya.


Pertama kali bertemu, kondisi Arsen memang bisa dikatakan cukup parah. Bukan sekedar gangguan tidur semata, tetapi mengarah pada stres dan depresi. Kondisinya membaik setelah Arsen mendapatkan hipnoterapi dari Diana.


Awalnya Diana menjalankan tugasnya dengan baik sebagai seorang dokter. Namun, pertemuan yang intens dengan lelaki muda setampan Arsen tak bisa dielakkan bahwa ia jatuh cinta pada pasiennya sendiri.


Diana mulai membalurkan cairan ke tubuh Arsen sembari memberikan pijatan-pijatan kecil. Tubuh atletis Arsen benar-benar membuatnya terlena dan hilang akal.


Ia memberikan kata-kata sugesti yang membuat Arsen merasa tenang dan nyaman sehingga mau untuk mematuhinya.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Diana.


Diana tersenyum. Ia tak pernah gagal untuk membuat lelaki itu tenang. "Kamu adalah lelaki yang hebat, Arsen. Bagaimana pandanganmu tentang Cheryl sekarang?" tanya Diana.


"Aku senang. Dia masih sangat mencintaiku," jawab Arsen.


Diana hanya tersenyum mendengar jawaban yang sebenarnya kurang ia sukai. "Apa ada yang mengganjal dalam hubungan kalian?" telisiknya.


"Ada. Aku rasa itu ibuku sendiri. Sepertinya ada yang aneh dengannya."


Hipnoterapi yang Diana gunakan membuat Arsen rileks dan sangat terbuka kepadanya.

__ADS_1


"Kenapa itu? Apa hubungan kalian tidak disetujui?" tanya Diana.


"Bukan, tidak seperti itu. Aku tak bisa menjelaskannya."


"Jadi, apa yang kamu harapkan dengan hubungan kalian?" tanya Diana lagi.


"Aku ingin hidup berdua dengannya tanpa campur tangan siapapun."


"Kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan, Arsen. Sekarang, buka matamu dan aku akan membuatmu jauh lebih rileks. Aku jamin besok kamu akan terbangun dengan segar," kata Diana.


Arsen menurut. Perlahan ia membuka matanya dan mendapati bahwa Diana telah melepaskan seluruh pakaiannya sendiri tanpa rasa malu. Wanita itu mengulaskan senyum padanya.


"Aku bantu lepaskan ini, ya ...," kata Diana.


Arsen hanya terdiam seperti patung saat wanita itu meloloskan satu-satunya pakaian yang tersisa di tubuhnya.


Kini, keduanya sama-sama polos. Tanpa rasa canggung dan malu, mereka saling memagutkan bibir secara lembut. Tangan mereka saling menjamah mencari setiap titik yang mampu membangkitkan hasrat pasangannya.


Arsen begitu penurut. Ia melakukan hal itu seakan seperti nalurinya sendiri. Diana sangat menikmati setiap sentuhan yang lelaki itu berikan kepadanya.


Arsen menyatukan tubuh mereka dengan gerakan yang sangat lembut. Diana hanya bisa mengerang menikmati sensasi yang selalu ia rindukan dari Arsen. Ia berharap suatu saat lelaki itu bisa menjamahnya dalam keadaan sadar sepenuhnya.


"Arsen!"


Teriakan Cheryl langsung membuyarkan aktivitas mereka.

__ADS_1


Arsen yang tengah berada di atas Diana tersadar seketika. Ia terkejut melihat keberadaan Cheryl di depan pintu kamarnya. Lebih mengejutkan lagi mengetahui dirinya kini tengah dalam kondisi yang begitu memalukan bersama wanita lain.


__ADS_2