
Cheryl memberanikan diri melihat pasangan yang suaranya ia dengar dari tempat hiasan rambut. Benar saja, Janu ada di sana bersama Ariana. Perasaannya menjadi campur aduk antara kesal dan kecewa. Apalagi wanita itu terlihat begitu menempel pada suaminya.
"Sayang, bagaimana dengan gaun ini?" tanya Ariana.
"Bagus," jawab Janu.
"Kalau yang ini?" tanya Ariana lagi.
"Itu juga bagus."
Ariana memanyunkan bibirnya. "Kenapa semua dibilang bagus? Aku harus coba yang mana?" tanyanya bingung.
"Kamu boleh mencoba semuanya dan memilih yang paling bagus untukmu," ucap Janu pasrah.
"Baiklah, aku akan mencoba tiga gaun ini dulu!" ucap Ariana dengan semangat.
Tiga orang pelayan membantu membawakan gaun yang dipilih Ariana. Mereka mengajak wanita itu masuk ke dalam ruang ganti.
Janu menghela napas. Hal paling menyebalkan baginya adalah menemani wanita memilih sesuatu yang disukai. Padahal, menurutnya jajaran gaun putih itu sama saja.
Ia membalikkan badan hendak beralih ke ruang tunggu. Namun, langkahnya terhenti saat matanya bertemu tatap dengan istrinya.
"Cheryl?" lirihnya. Ia tak menyangka jika wanita itu ada di tempat yang sama dengannya.
Cheryl menatap lelaki itu dengan kecewa. Ia ingin berbalik pergi menemui Vina lagi. Namun, Janu mencegahnya.
"Cheryl, dengarkan aku dulu," pintanya.
"Tolong jangan terlalu dekat denganku. Kita tidak saling kenal jika di luar rumah," kata Cheryl mengingatkan.
"Aku ...." Janu terasa sulit untuk berbicara. Ia tak bisa menjelaskan posisinya saat ini dengan sederhana.
"Sudahlah, aku tidak mau menanyakan apapun. Terserah padamu mau melakukan apa di luar, itu bukan urusanku," ucap Cheryl.
__ADS_1
Ia berbalik meninggalkan lelaki itu begitu saja. Ja kembali menunggu Vina di luar ruang ganti.
Bayangan kemesraan Janu dengan Ariana tiba-tiba terlintas dalam pikirannya. Ia tidak ingin memikirkan hal itu, namun hatinya terasa sakit. Bahkan air mata yang tak diinginkan turut keluar.
"Aku kenapa, sih? Aku kan tidak menyukainya," ucap Cheryl pada dirinya sendiri.
Semakin lama ia berdiam di sana, rasanya ia semakin tersiksa. Apalagi Vina begitu lama berada di ruang ganti dan belum keluar juga.
"Vin, kamu masih lama?" tanya Cheryl dari balik pintu.
"Sebentar, Cher! Aku masih mencoba-coba di dalam. Apa kamu mau ikut masuk?" terdengar seruan dari dalam ruang ganti.
"Tidak ... Aku merasa kurang enak badan, aku pulang duluan, ya!" kata Cheryl dengan. Ada lemas.
"Yah, aduh, aku masih nanggung di dalam, Cher ...."
"Tidak apa-apa, aku bisa pulang sendiri. Kamu lanjutkan saja."
"Maaf ya," kata Vina menyesal.
"Ya, hati-hati!"
Cheryl berjalan lemas meninggalkan tempat Vina. Ia sempat melihat ke arah ruang fitting pakaian pengantin. Terlihat Ariana dengan wajah sumringah memamerkan gaun pengantin putih di hadapan Janu. Entah mengapa ia merasa iri.
Janu juga melihat ke arahnya. Lelaki itu seakan tak bisa berbuat apa-apa terhadapnya.
Cheryl menghela napas. Sejak awal, ia memang sudah tahu jika Janu telah memiliki tunangan. Ia adalah orang ketiga yang hadir di antara keduanya. Awalnya Janu menikahinya karena dendam. Setelah semua terkuak pihak yang bersalah diketahui, ia juga bingung dengan kelanjutan pernikahannya.
"Nyonya!"
Thor terlihat baru saja datang dengan napas terengah-engah menghampirinya. Lelaki itu seperti baru dikejar anjing.
"Kamu kenapa, Thor?" tanya Cheryl heran.
__ADS_1
"Nyonya, mari saya antar pulang," ucapnya.
Cheryl mengikuti Thor menuju tempat parkir mobil. Ia duduk di bangku penumpang, sementara Thor yang mengemudikan.
"Saya dimarahi Tuan Janu karena meninggalkan Anda," tuturnya sembari mengemudi.
Cheryl menyandarkan tangannya pada kaca sembari menatap ke luar jendela. "Apa dia yang menyuruhmu untuk menjemputku?" tanyanya.
"Benar, Nyonya."
Tanpa Thor katakan, Cheryl sudah tahu bahwa Janu menempatkan beberapa anak buah untuk menjaganya. Ia merasa dilindungi dan di sisi lain seperti dibohongi. Gerak geriknya dibatasi sementara lelaki itu sibuk bersama wanita lain memilih gaun pengantin.
"Dia mau menikahi putri Pak Handoyo, ya?" tanya Cheryl.
Thor terdiam. Ia tak berani menjawabnya.
"Jawab saja, Thor. Tadi aku juga sudah bertemu dengan mereka. Apa kalian memang merencanakan semua tanpa sepengetahuanku?" tanya Cheryl memastikan.
Thor melihat ke belakang lewat spion. Ia merasa kasihan dengan Cheryl yang tampak sedih.
"Maaf, Nyonya. Sebenarnya Tuan berniat baik agar Anda tidak sedih. Tuan berharap Anda tidak mengetahuinya sampai akhir karena takut akan membuat Anda sedih. Tuan sungguh-sungguh mencintai Anda, Nyonya. Hanya saja ... Waktunya tidak tepat. Tuan harus tetap menikahi Nona Ariana untuk menyelamatkan semuanya. Saya harap Anda bisa memahami keputusan Tuan sekalipun memang tidak adil sama sekali untuk Anda."
Entah mengapa Cheryl terus merasa sedih. Padahal, seharusnya ia merasa senang. Dulu, ia sangat ingin terlepas dari lelaki itu. Dengan adanya pernikahan, ia punya alasan untuk meninggalkannya.
Sesampainya di rumah, Cheryl berpapasan dengan Silvia saat hendak menaiki tangga ke lantai atas. Wanita itu menatap lekat ke arahnya. Keduanya sama-sama berhenti dan saling menatap.
"Aku tahu Janu melarangku berbicara apapun kepadamu. Aku hanya ingin memperingatkanmu bahwa sebentar lagi Janu akan menikah. Jangan lakukan apapun yang bisa menggagalkan pernikahan itu. Apa kamu paham?" tanya Silvia.
Cheryl tak menjawab. Ia melewati Silvia begitu saja tanpa menyapa. Cheryl langsung masuk ke dalam kamarnya dan menangis di atas ranjang.
***
"Apa yang tadi Mommy katakan pada Cheryl?" tanya Kenzo curiga.
__ADS_1
"Apa? Aku hanya bilang agar dia tidak melakukan sesuatu yang bisa menggagalkan pernikahan Janu dan Ariana. Itu saja," kata Silvia dengan enteng.
"Mom, kita kan sudah membahas untuk tidak mengatakan apa-apa pad Cheryl. Janu akan marah kalau tahu perbuatan Mommy barusan!" tegur Kenzo.