
Flash back on
“Papa ….”
Cheryl berlari seraya memeluk ayahnya saat berkunjung ke perusahaan. Sebagai anak tunggal kesayangan, ia terbilang sangat manja kepada sang ayah. Meskipun usianya kini sudah 21 tahun, kelakuannya seperti anak-anak setiap kali berhadapan dengan ayahnya.
“Kamu dari mana?” tanya Hendry.
“Biasa, Pa. Habis nonton di mall bareng teman!” jawab Cheryl. Wanita muda itu menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang. Ia memang sudah kaya sejak lahir. Uang bukanlah masalah meskipun hobinya foya-foya. Apalagi ayahnya seorang yang royal kepada dirinya.
“Bareng teman atau bareng pacar?” telisik Hendry dengan lirikan tajamnya. Ia seakan belum rela mendengar putrinya mulai merasakan jatuh cinta.
Cheryl mengembangkan senyum. “Memangnya kenapa sih, nggak boleh kalau sama pacar? Lagian kita kan juga tahu Batasan, Pa. tadi Cuma nonton, kok!” Cheryl tidak bisa berbohong kepada ayahnya. Meskipun tahu akan dimarahi, ia memilih untuk berkata jujur.
Hendry menghela napas menghadapi putrinya yang susah diatur. “Bukannya tidak boleh pacaran, tapi kamu masih terlalu muda untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis.”
“Aku sudah 21 tahun, Pa! Sudah termasuk usia yang legal kalau aku mau menikah.”
“Kamu pikir pernikahan segampang itu? Ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan sebelum memutuskan hal sepenting itu. Papa tidak mau kamu salah langkah.”
“Arsen baik kok, Pa!” kilah Cheryl.
“Baik?” Hendry terlihat mengerutkan dahi meragukan ucapan putrinya. “Kalau dia lelaki yang baik, kenapa tidak meminta izin waktu ingin memacarimu?”
Cheryl tersenyum getir disindir ayahnya. Selama ini mereka memang menjalin hubungan tanpa sepengetahuan orang tua sejak kuliah. Cheryl tahu ayahnya belum tentu setuju jika ia berpacaran. “Makanya Papa jangan galak-galak biar orang yang mau dekat dengan Cheryl tidak takut!”
“Kalau dia lelaki sejati seharusnya tidak takut bertemu dengan papa secara langsung. Masa bertemu saja belum tapi sudah ciut nyali duluan.”
“Eh, itu di layer foto siapa, Pa?” tanya Cheryl mengalihkan pembicaraan. Ia melihat ayahnya sedang melihat profil seseorang di layar monitornya.
“Oh, ini … ganteng, nggak?” tanya Hendry meminta pendapat putrinya.
“Ganteng, Pa! Memangnya siapa dia?” tanya Cheryl penasaran.
__ADS_1
“Apa kamu sudah lupa? Waktu kecil kalian cukup sering bertemu. Namanya Janu, anaknya Om Bara dan Tante Retha.”
Cheryl memandangi lebih jeli foto tersebut. Ia benar-benar sudah lupa dengan teman kecil yang sering main bersamanya di apartemen.
“Om Bara dan Tante Retha kan sudah lama meninggal, Pa. Dia tinggal di mana, ya?”
“Dia tinggal Bersama kakaknya di luar negeri. Tapi, Papa dengar dia mau kembali ke negara ini. Papa ingin menghubunginya untuk meminta bergabung dengan perusahaan. Kamu kapan mau membantu Papa di perusahaan?”
Cheryl kembali tersenyum kaku. “Aku kan baru lulus, Pa. Masa sudah disuruh kerja. Biarkan aku senang-senang dulu sebentar.”
Flash back off
Cheryl berdiri di balkon kamar sembari menikmati secangkir teh hangat. Sepenggal memori masa lalu baru saja terbayang di pikirannya.
Seperti yang ia ingat, Janu bukan orang asing baginya. Mereka sudah saling kenal sejak kecil. Orang tua keduanya juga memiliki hubungan yang baik. Ia tak habis pikir mengapa Janu memiliki perangai yang sangat buruk dan kejam sampai tega membantai keluarganya.
Cheryl tampak teringat sesuatu. Ia meletakkan cangkirnya di atas meja kemudian masuk ke dalam kamar. Disambarnya sebuah blazer untuk menutupi pakaiannya. Dengan langkah terburu-buru, ia setengah berlari menuruni anak tangga.
Pak Imron segera membukakan pintu mobil dan mempersilakan Cheryl masuk. Ia melajukan mobil tersebut meninggalkan kediaman Janu.
"Pak Imron langsung pulang saja, aku bisa pulang sendiri," ucap Cheryl.
"Tapi, Nyonya, Tuan akan marah." Pak Imron tampaknya tak berani membantah perintah Tuannya.
"Kalau dia marah, itu urusanku. Pak Imron tidak perlu khawatir," kata Cheryl.
Ia bergegas memasuki sebuah restoran yang terletak tak jauh dari kawasan taman kota. Ada seseorang yang hendak ditemuinya.
"Michan!" serunya.
Seorang wanita berwajah oriental menoleh ketika mendengar namanya dipanggil. "Cheryl!" ia berteriak kegirangan seraya berlari menghampiri teman baiknya. Ia mengira Cheryl telah mati. Rasanya sangat lega mengetahui teman baiknya masih hidup.
"Aku kira kamu hanya mengaku-aku sebagai Cheryl waktu meneleponku, huhuhu ...." wanita itu sampai menangis saking senangnya bisa bertemu kembali dengan Cheryl.
__ADS_1
"Kita bicarakan di tempat yang lebih privasi," ajak Cheryl.
Keduanya segera masuk ke dalam ruangan yang telah mereka sengaja pesan untuk bertemu. Sebelumnya Cheryl sudah lebih dulu menghubungi Michan untuk mengabarkan bahwa dirinya baik-baik saja. Ia meminta Michan melakukan sesuatu untuknya.
"Jadi, apa kamu benar-benar telah menikah dengan Pak Janu?" tanya Michan ingin memastikan.
Cheryl menghela napas. Ia menunjukkan sebuah foto pernikahannya. Michan tampak tercengang mengetahui atasan di kantornya menikah dengan temannya.
"Lalu, bagaimana dengan Arsen?" tanya Michan. Sebagai teman yang sudah sangat lama mengenal Cheryl, ia tahu persis bagaimana hubungan antara Arsen dan Cheryl. Mereka sudah saling mencintai sejak masih kuliah. Hanya saja, hubungan mereka memang terkendala oleh restu keluarga Cheryl.
"Tidak ada yang bisa aku lakukan. Pernikahan itu terjadi saat aku hilang ingatan. Dia menipuku berpura-pura menjadi calon suamiku." Cheryl merasa stres saat mengingatnya. Menikah dengan orang yang tidak dicintai merupakan sebuah bencana.
Michan tak bisa membayangkan apa yang telah Cheryl lalui selama ini. Kehilangan keluarganya, kecelakaan, sampai harus menikah dengan musuhnya sendiri.
"Aku tidak menyangka kalau Pak Janu bisa setega itu padamu, Cheryl. Dia tidak melakukan KDRT, kan?" tanya Michan khawatir.
"Kalau kekerasan secara fisik tidak. Tapi, pernikahan yang dia paksakan padaku sudah menjadi bentuk siksaan batin yang luar biasa membuatku tersiksa. Sepertinya ia punya dendam yang besar padaku," keluh Cheryl.
"Orang punya dendam biasanya akan menyiksa dan membiarkan musuhnya mati secara perlahan-lahan. Kalau dia sampai menikahimu, mungkin saja karena dia memang mencintaimu," tebak Michan.
"Hahaha ... Yang benar saja? Aku tidak bisa menjelaskannya lebih jauh, tapi dia sangat membenciku," kata Cheryl.
Tidak mungkin seorang suami yang perhatian akan mengabaikan istrinya. Sampai sekarang Cheryl masih tidak dianggap keberadaannya di rumah. Ia hanya menjadi istri pajangan.
"Cheryl, ada yang ingin aku sampaikan padamu mengenai informasi yang kamu tanyakan waktu itu." kali ini nada bicara Michan berubah serius. Ia mengeluarkan sebuah map berwarna coklat dan menyerahkannya kepada Cheryl.
Cheryl menerima map itu dan meneliti berkas-berkas di dalamnya. Rasanya ia ingin segera bertemu dengan Janu dan menghajarnya.
"Ternyata memang Pak Janu telah mengambil alih perusahaan milik ayahmu. Awalnya aku kira ia hanya mengisi kekosongan posisi CEO di sana," kata Michan.
"Sepertinya dia juga berniat mengambil alih seluruh kekayaan peninggalan keluargamu dengan mencatut namamu," lanjutnya.
Cheryl semakin berpikir bahwa Janu benar-benar lelaki yang pandai menipu. Ia tidak bisa membiarkan Janu berbuat sesuka hatinya.
__ADS_1