
Rudy terduduk di sisi ranjang perawatan putrinya. Ia memandangi Thea yang terbaring koma dengan peralatan medis terpasang di badan. Harapan hidupnya terasa sirna mengetahui kondisi putri kesayangannya separah itu.
Thea adalah harapan untuk meneruskan ambisinya pada kekuasaan. Ia anak yang sangat mirip dengannya. Ini kedua kalinya Thea menghadapi kondisi kritis.
Dokter telah pasrah dengan keadaan itu. Mereka bilang Thea tak lagi bisa diselamatkan. Nyawanya tergantung pada peralatan yang terpasang di tubuh.
"Tuan, kami membawa berita yang kurang menyenangkan."
Lima orang berpakaian serba hitam namun formal mendatangi Rudy.
"Apa informasi yang dapatkan?"
"Anak dan istri Yohan telah kabur ke luar negeri pagi ini. Rumah mereka kosong."
Rudy merasakan sesak di dadanya saat mendengar kabar itu. "Apa Yohan juga ikut kabur bersama mereka?"
"Yohan telah mati, Tuan. Ada yang datang menghabisi Kalong Merah di markas utama mereka."
Rudy terkejut dengan berita kematian Rudy. Padahal, ia ingin membunuh sendiri lelaki biadab yang telah menyebabkan putrinya terbaring tak berdaya di sana.
"Anehnya, tak satupun barang di sana yang dibawa. Senjata api dan tumpukan ganja kering masih utuh."
"Kenapa kalian tak mengamankannya?" tanya Rudy.
"Polisi telah lebih dulu datang, Pak. Tidak ada yang bisa kami lakukan, Tuan."
"Ya sudah! Kalian bisa kembali ke tugas selanjutnya!" perintah Rudy. Kelima anak buahnya segera keluar dari sana.
Rudy masih tidak percaya jika bisnis yang telah lama dikelola akan hancur begitu saja. Apalagi Kalong Merah yang selalu memberi dukungan kini sudah tidak ada lagi.
Tok tok tok
Klek!
Pintu ruang perawatan itu kembali terbuka. Muncullah beberapa petinggi PT Atmajaya Group yang berniat melihat kondisi perkembangan Thea di sana. Salah satu dari mereka adalah Janu. Ia tersenyum manis saat dipertemukan kembali dengan Thea.
"Terima kasih atas kehadiran kalian." Rudy tampak memeluk satu per satu rekan bisnisnya.
__ADS_1
"Aku dengar kondisinya tidak bisa kembali normal. Benarkah demikian?" tanya salah satu sahabat Rudy.
"Itu hanya ucapan dokter. Aku yakin putriku akan sembuh seiring berjalannya waktu. Dulu dia juga sempat mengalami hal yang sama dan bisa bertahan."
Beberapa di antaranya saling berbisik merasa kasihan dengan Pak Rudy.
"Seharusnya kamu kembali fokus pada bisnismu, jangan terpaku pada kondisi Thea yang seperti ini. Kamu masih bisa melakukan banyak hal," nasihat Pak Doni.
"Aku hidup untuk putriku. Apalah artinya itu semua jika putriku terbaring sakit di sini," kilah Rudy.
"Kalau Thea kembali sembuh, setidaknya kamu telah menjaga bisnis keluargamu tetap stabil. Bagaimana nasibnya nanti kelangsungan bisnismu ke depan."
Tatapan Rudy mengarah pada Janu. Anak muda itu mengingatkannya pada Bara. Keduanya memiliki kemiripan dilihat dari wajahnya. Ia tahu anak muda itu yang kini telah menjadi pengganti posisi putrinya.
"Kalau begitu kami pamit lebih dulu, Rudy. Aku berharap Thea bisa sembuh seperti sedia kala," pamit Pak Andre.
"Ya, terima kasih atas kedatangan kalian."
Satu per satu dari mereka berpamitan seraya menguatkan Rudy. Tiba giliran Janu yang paling akhir, Rudy menghentikan agar dia tidak pergi.
"Aku tidak menyangka kamu bisa tumbuh dengan baik selama ini. Ternyata rumput liar bisa tumbuh menjadi pohon yang akarnya sulit dicabut," ujar Rudy.
"Aku yakin sekarang kamu ingin menertawakan keadaanku. Bukankah itu tujuanmu datang ke sini?"
"Haruskah kita membahas hal ini di dekat orang yang tengah sekarat?" cibir Janu.
"Berani kamu mengatakan hal semacam itu terhadap putriku!" Rudy terlihat marah.
"Saya hanya mengatakan yang sebenarnya. Anda sudah pincang dan tak bisa berjalan normal. Akan memberatkan jika Anda juga merawat calon putri cacat seperti dirinya. Lebih baik dia mati sekalian," ucap Janu.
Melihat wajah orang-orang yang telah menghancurkan keluarganya, ia tak bisa menahan diri untuk berkata kasar kepada mereka.
"Jaga ucapanmu!" bentak Rudy.
"Saya pergi sekarang. Ada rapat penting untuk memilih pengganti resmi Ibu Thea yang sedang sekarat." Janu mengatakannya dengan senyum seringai. Ia lantas pergi meninggalkan buket bunga yang dibawanya di meja. Umpatan Rudy yang mengiringi langkahnya tak ia hiraukan sama sekali.
"Mungkin itu buket bunga terakhir sebelum putrimu meninggal, Tuan Rudy," lirih Janu.
__ADS_1
"Bedebah kecil itu! Sialan!" umpat Rudy. Ia tak menyangka putra Bara akan seberani itu padanya. Ia menyesal tak menghabisi keparat kecil itu sejak dulu.
"Kehh .... Uhhh ... Hekk ...." terdengar suara dari mulut Thea yang membuat Rudy terkejut.
"Thea ... Thea ... Kamu kenapa?"
Rudy terlihat panik saat melihat tubuh putrinya seperti kejang. Thea yang koma sejak lama tiba-tiba bisa bergerak namun seperti orang yang hendak meregang nyawa.
Rudy menekan tombol emergency yang ada di dekat tempat tidur. Ia berusaha mengajak putrinya bicara salam kondisi yang mengkhawatirkan.
"Thea, Thea ... Kamu kenapa?" tanya Rudy panik.
Tak berselang lama, dokter dan para perawat berdatangan ke ruangan Thea. Mereka memeriksa kondisi Thea yang tidak stabil seperti yang ditunjukkan alat pendeteksi detak jantung. Berbagai prosedur mereka lakukan demi bisa menanganinya.
Tuuut ... Tuuut....
Dokter terlihat lesu saat jantung pasiennya terhenti. Mereka mengakhiri pemberian bantuan alat pacu jantung.
"Thea ... Thea ...."
Rudy menangis histeris sembari memeluk putrinya. Ia tidak rela melihat putri kesayangannya meninggal.
"Dokter ... Lakukan sesuatu, Dokter ... Selamatkan putriku ...."
Rudy sampai memohon dan bersimpuh di hadapan mereka berharap putrinya bisa diselamatkan. Sayangnya, tak ada lagi yang bisa dokter lakukan.
Perawat melepaskan satu per satu alat medis yang terpasang di tubuh Thea. Salah satu di antaranya melihat bagian selang oksigen dalam kondisi ditekuk entah sengaja atau tidak sengaja. Ia menduga hal tersebut yang menjadi penyebab kematian pasien tersebut.
'Apa perlu aku laporkan? Tapi, aku malas kalau nanti dijadikan saksi di pengadilan. Urusannya akan panjang karena dia orang kaya. Toh dia tak akan bisa hidup lagi,' batin perawat tersebut.
Ia kembali membereskan peralatan medis seakan tak terjadi apa-apa dengan dua perawat lainnya. Ia mencoba mengabaikan suara tangisan ayah yang baru saja kehilangan putri kesayangannya.
"Kasihan ya, Bapak itu. Aku dengar putrinya sudah tua tak mau menikah, jadi dia tidak memiliki anak."
"Wanita itu presdir perusahaan ternama, loh. Kok bisa meninggalnya kena pecahan kaca? Itu kan tidak wajar."
"Heh! Kok kamu dari tadi melamun?"
__ADS_1
"Ah, nggak kok. Nggak apa-apa. Sudahlah, kalian berhenti membahas orang yang telah meninggal," ujar pelayan yang menemukan keanehan tadi. Perasaannya tetap tidak tenang mengetahui sesuatu yang menurutnya janggal. Namun, ia akan bertekad menyembunyikan kenyataan itu selamanya.