
"Cher, makan bareng di kantin, yuk!" ajak Vina.
"Ayo!" jawab Cheryl. Ia segera menyimpan hasil pekerjaannya dan mematikan monitornya.
"Kalian mau ke mana?"
Hendra menghampiri Vina dan Cheryl yang hendak pergi dari ruangan.
"Kita mau ke kantin. Mau ikut?" tanya Vina.
"Ikut, dong ... Soalnya mau kenalan sama anak baru di divisi kita juga." Hendra melemparkan lirikan ke arah Cheryl.
"Cewek cantik kayak Cheryl pasti sudah punya pacar, Hen, nggak usah genit-genit sama anak baru," tegur Vina.
"Namanya juga usaha, Vin ... Memangnya Cheryl sudah punya pacar?" tanya Hendra penasaran.
"Iya, aku sudah punya pacar," jawab Cheryl. Mereka akan lebih terkejut kalau ia bilang sudah punya suami. Dalam biodata yang diserahkan kepada pihak perusahaan, ia masih ditulis berstatus single.
"Tuh kan, apa aku bilang ...." Vina menertawakan Hendra yang langsung tertolak sebelum berusaha.
"Aduh, baru mau login malah dipaksa langsung logout. Kejam nian kamu, Cheryl," ucap Hendra sembari memasang raut sedih.
Cheryl tersenyum. "Maaf, ya. Kalau aku bilang masih single, itu namanya bohong."
Saat melewati depan ruang manajer, mereka berpapasan dengan Dinda yang baru keluar dari sana. Ia memberikan tatapan sinis kepada mereka.
"Kamu harus terbiasa dengan makhluk yang satu itu. Angkuh dan sombong sudah menjadi topeng sehari-harinya." Vina mengungkapkan penilaiannya tentang Dinda.
"Hati-hati bicara begitu, dia dengar, kamu pasti langsung dipecat seperti Friska," sahut Hendra.
"Ah, aku jadi ingat Cheryl tadi. Dia berani banget galak sama Dinda," kata Vina.
"Benar begitu? Kamu masih baru loh di sini, aku jadi khawatir padamu."
Beberapa kali staff divisi pemasaran mengalami pergantian. Biasanya mereka yang dikeluarkan setelah belum lama punya masalah dengan Dinda.
Cheryl tersenyum. "Memangnya ini perusahaan milik dia, ya?"
Vina dan Hendra saling berpandangan. "Hahaha ...." keduanya tertawa bersamaan.
"Benar kan, apa yang aku bilang? Teman baru kita ini punya mental yang kuat," Vina menepuk pundak Cheryl menunjukkan kekagumannya.
"Aku curiga kamu punya orang dalam di sini," tebak Hendra.
"Dia memang masuk karena orang dalam, Hen. Pokoknya jangan jahat sama Cheryl, nanti dilaporkan ke atasan," kata Vina.
"Hahaha ... Aku tidak mungkin begitu. Kita kerja untuk perusahaan, bukan untuk menjatuhkan orang," ucap Cheryl.
__ADS_1
Kedua orang itu terkagum-kagum mendengar jawaban Cheryl. Sepertinya kehidupan kantor mereka akan semakin menarik karena sudah ada lawan yang sepadan dengan Dinda.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Vina. Ia heran sejak tadi Cheryl hanya memandangi gambar makanan yang ada di sana.
"Menurutmu ... Mana yang paling enak?" tanya Cheryl.
Ia belum pernah memakan jenis makanan seperti itu. Ia kaget saat sampai di kantin. Ternyata, kantin perusahaan besar menunya aneh-aneh, seperti makanan yang banyak di pinggir jalan.
Ia hanya mengenal makanan-makanan restoran. Selama tinggal di rumah Janu, pelayan juga membuatkan makanan yang sesuai dengan seleranya.
"Semua enak, kok," kata Vina.
"Jangan bilang kamu tidak pernah memakan makanan seperti ini," sahut Hendra.
Cheryl hanya tersenyum meringis.
Vina merangkul pundak Cheryl. "Teman kita sepertinya anak orang kaya yang kurang kerjaan masuk ke perusahaan kita. Masa makanan kantin nggak pernah mencicipi," gumamnya.
"Coba kamu pesan saja kwetiau, mungkin rasanya bakal mirip dengan spagetti," usul Hendra.
"Hahaha ... Spagetti versi rakyat jelata ya, Hen!" tambah Vina.
Cheryl mengikuti saran mereka untuk memesan seporsi kwetiauw dan segelas es jeruk.
Awalnya ia agak ragu mencicipi makanan yang belum pernah dicobanya. Apalagi saat memesan, ia sempat melihat kondisi dapur yang cukup berantakan. Ia rasa makanan di sana tidak terjamin kebersihannya.
"Lihat ini, anak orang kaya sedang belajar menikmati kemiskinan seperti kita," seloroh Vina menggoda Cheryl.
"Ternyata ini enak juga," ucap Cheryl.
Baru kali ini ia keluar dari zona nyamannya. Ia tidak tahu seperti apa kehidupan yang sesungguhnya. Kematian keluarganya memiliki aisi positif agar ia mau mencoba bertahan hidup dengan kemampuannya sendiri.
"Ngomong-ngomong, dulu kamu sekolah dimana?" tanya Hendra sembari menyantap nasi gorengnya.
"Universitas XXX, angkatan XXX, jurusan adminiatrasi bisnis," jawab Cheryl.
"Wah, itu kampus swasta termahal di kota ini. Ya wajar saja kalau diterima perusahaan kita," kata Vina.
"Nggak, kok, aku diterima karena orang dalam," ujar Cheryl sembari tersenyum.
"Hais, jangan mengatakan hal itu lagi. Kalau orang lain mendengar mereka bisa salah paham," kata Hendra mengingatkan.
"Soalnya aku sangat gregetan kalau ada yang mengorek masalah seperti itu. Kenapa harus mengurusi urusan pribadi orang, kan?"
Mereka melanjutkan perbincangan sembari makan. Sesekali terdengar tawa ketika ada pembahasan yang dianggap lucu.
"Berapa?" tanya Cheryl setelah menyelesaikan makan dan hendak membayar di kasir. Ini juga pertama kali baginya membayar makanan belakangan setelah makan di tempat.
__ADS_1
"Dua puluh lima ribu," kata kasir.
Cheryl tercengang mendengar nominal yang harus dibayar. "Benar segitu jumlahnya?" tanyanya heran.
"Iya, maklum semua harga sedang naik jadi harga menu makanan juga kita naikkan," kilah sang kasir.
"Bukan, Mba. Itu benar dua puluh lima ribu? Mungkin kurang nol satu? Apa mungkin seharusnya dua ratus lima puluh ribu?"
Sang kasir mengerutkan dahi. "Memangnya tadi pesan apa saja? Katanya hanya kwetiauw dan es jeruk? Itu sudah benar dua puluh lima ribu!"
"Itu tidak mungkin!" elak Cheryl.
"Aduh, aku sudah benar menghitung. Kok bikin aku pusing," keluh sang kasir. Baru kali ini ia lama mengurusi satu pelanggan hanya untuk membayar.
"Ya masa makanan harganya dua puluh lima ribu? Itu kan tidak masuk akal!"
"Lah, terus mintanya berapa?"
"Mahalkan sedikit lah! Tadi makanannya enak!"
"Ini maksudnya apa sih?" sang kasir bingung sendiri.
"Aduh, kamu lama banget. Tinggal bayar aja kan beres!"
Vina mengambil selembar uang ratusan ribu dari tangan Cheryl dan memyerahkan kepada kasir. Kasir tersebut memberikan kembaliannya. Vina menyerahkan kembali kembalian tujuh puluh lima ribu kepasa Chryl.
"Kok kembaliannya banyak?" tanya Cheryl heran.
"Harganya memang segitu. Jangan samakan dengan makanan di restoran yang sering kamu datangi," kata Vina.
Cheryl terkesima dengan harga makanan yang murah tapi rasanya enak. "Pasti karyawan di sini bisa cepat kaya. Harga makanannya murah-murah ternyata," gumamnya.
Vina terkekeh. "Itu kalau gaji direktur kalau makan di kanti setiap hari bisa cepat kaya. Kalau gaji karyawan biasa, bisa makan sampai tanggal tua itu sudah luar biasa."
Hati Vina terasa ingin menangis. Ia memiliki circle pertemanan baru yang terlalu awam dengan kemiakinan.
***
❤❤❤ PROMOSI ❤❤❤
Hai semua, terima kasih sudah membaca sampai episode ini. Jangan lupa mampir dan support juga karya teman author. Ceritanya juga seru 😘
Judul: Tolong Jangan Salahkan Aku
Author: RedWhite
__ADS_1