
"Orang itu pasti masih berambisi untuk menguasai perusahaan ini."
"Itu sudah pasti. Pak Yohan sudah mengambil resiko besar untuk menghabisi keluarga Pak Hendry. Tentu saja dia ingin mengambil alih tempat ini."
"Aku tidak menyangka Pak Yohan sesadis itu. Padahal putranya kelihatan seperti anak baik-baik."
"Usahanya dari dulu memang kepala preman dan rentenir. Makanya dia bisa kaya dari bisnis itu, termasuk membunuh orang."
"Ah!" Cheryl menutup mulutnya dan menjatuhkan ponsel itu. Ia syok mendengarkan nama ayahnya disebut oleh dua orang itu.
Hatinya terasa sangat sakit mengetahui pembunuh keluarganya. Ia terduduk lesu dan menangis tersedu-sedu di sana.
Janu memeluknya. "Sayang, jangan menangis," katanya menguatkan.
Cheryl tak bisa menahan kesedihannya. Melihat dua wajah penjahat yang telah menghabisi keluarganya rasanya ia ingin membunuh mereka saat itu juga.
"Janu ... Mereka yang membunuh orang tuaku, huhuhu ...." Cheryl merengek.
"Iya, aku tahu. Kita masih perlu banyak bukti untuk membuat mereka membayar semuanya. Jangan menangis sekarang."
Meskipun dilarang, Cheryl tak bisa menahan untul tidak menangis. Ia memeluk erat Janu sampai mencengkeram pakaian suaminya. Tidak ada pilihan lain bagi Janu untuk membiarkan dia menangis beberapa saat sampai lebih tenang.
Janu mengamati dengan seksama kedua wajah penjahat itu. "Kalong Merah," gumamnya.
Ia telah lama mencurigai kelompok preman bayaran yang cukup terkenal di kota itu. Sejak awal Janu merasa kematian keluarga mereka berkaitan dengan geng Kalong Merah.
Waktu yang diberikan hampir habis. Terpaksa Janu membawa Cheryl keluar dari apartemen Michan. Mereka tak mendapatkan barang bukti selain ponsel itu.
***
Janu memandangi Cheryl yang tengah tertidur. Wanita itu tampak kelelahan seharian menangis karena berduka. Rekaman video yang mereka temukan setidaknya mampu membuktikan jika bukan dia pembunuh keluarga Cheryl yang selama ini istrinya tuduhkan. Ia bersumpah akan mengembalikan senyuman si wajah itu kembali.
Ia mengecup kening istrinya sebelum pergi keluar kamar. Ia menugaskan beberapa pelayan berjaga di depan kamar. Thor telah siap mengantarkannya ke suatu tempat.
__ADS_1
"Jaga istriku baik-baik. Katakan padanya, aku melarangnya untuk pergi keluar sendirian sebelum aku kembali."
"Baik, Tuan."
Janu melangkah meninggalkan kediamannya bersama Thor. Ia akan mengunjungi rumah persembunyiannya yang ada di tempat yang rahasia.
Setelah satu jam perjalanan, Thor menghentikan mobilnya di depan sebuah pagar rumah yang tinggi dan ditumbuhi tanaman liar. Ia memandu Janu agar turun dan memasuki halaman rumah yang tampak menyeramkan itu.
Dua orang penjaga yang melihat kedatangan mereka berlari mendekat dan memberi salam. Mereka mengantarkan keduanya ke dalam rumah tuua tak terawat itu.
Di dalam masih terdapat lima orang anak buah Janu yang berjaga. Tampaknya mereka tengah asyik main catur dan biliard sebelum Janu datang. Mereka langsung menghentikan aktivitas dan menemani Janu menuju akses ke ruang bawah tanah.
Ada pintu rahasia yang hanya diketahui oleh mereka. Suasana di ruang bawah tanah cukup pengap karena sirkulasi udara kurang lancar. Di sana terdapat beberapa kerangkeng besi untuk mengurung tahanan Janu.
Salah satu kerangkeng itu berisi seorang wanita paruh baya.
"Selamat malam, Bi Trini," sapa Janu kepada wanita yang tengah menggendong boneka itu. meskipun 17 tahun tak bertemu, ia tak akan melupakan wajah wanita yang memberikan kebaikan serta keburukan di dalam hidupnya.
Trini mengangkat kepalanya memandangi sosok lelaki yang baru saja datang untuk menjenguknya di sana. Ia terkejut sampai melebarkan mata melihat wajah yang tak asing baginya.
Janu tersenyum mengetahui mantan pengasuhnya masih mengingat dirinya. "Iya, Bi. Aku Janu. Bibi tidak perlu lagi berpura-pura gila," ucapnya.
Anak buah Thor telah berhasil menemukan wanita itu di sebuah desa terpencil. Trini pura-pura gila dan tidak mengingat apapun. Setiap kali ditanya seputar kejadian di masa silam, ia akan mengalihkan pada hal lain.
Janu tak akan melupakan sosok wanita yang hampir menjualnya pada orang lain. Tapi, ia juga tak bisa melupakan jasa Trini yang telah mengasuhnya selama 10 tahun.
"Tolong bukakan pintunya, aku ingin berbicara berdua dengan Bi Trini di tempat yang layak," pinta Janu.
Dua orang di antara mereka langsung mengerjakan apa yang Janu inginkan. Mereka mengajak Trini naik ke atas menuju ruang baca untuk berbicara dengan Janu.
Mereka keluar ruangan membiarkan Janu bersama wanita itu.
"Susah lama sekali ya, Bi. Bi Trini sekarang kelihatan semakin tua," seloroh Janu.
__ADS_1
"Den Janu juga sekarang sudah sedewasa ini." Trini terharu sekaligus merasa bersalah melihat keberadaan anak yang dulu pernah diasuhnya.
"Jadi, bagaimana? Apa Bibi mau berbicara denganku? Anak buahku mengeluh katanya Bibi tak mau bicara sedikitpun," ucap. Janu.
Trini merasa bimbang. Ia memiliki keluarga yang harus dijaga. Jika ia membongkar semua, keluarganya bisa mati.
"Den Janu, maafkan kesalahan Bibi yang telah berlalu," pinta Trini.
Janu terlihat kecewa. "Bukan kalimat maaf yang aku harapkan, Bibi. Aku ingin penjelasan. Katakan, siapa yang telah menghabisi keluargaku? Bibi pasti tahu, Kan?"
Trini langsung menangis. Ia teringat kembali tragedi masa lalu yang sangat mengerikan. Ia membawa Kenzo dan Janu bersembunyi bersamanya. Namun, ia juga pernah berniat jahat kepada mereka demi kepentingan pribadi. Sayangnya, Kenzo dan Janu berhasil melarikan diri.
"Den, itu sudah lama sekali berlalu. Apa tidak bisa Den Janu melupakannya dan fokus akan masa sekarang?" bujuk Trini.
Lagi-lagi Janu merasa tidak percaya dengan respon yang wanita itu berikan padanya.
"Bibi, aku bertahan hidup sampai sekarang memang untuk hari ini," kata Janu. "Aku hidup untuk membalas dendam. Aku tidak akan hidup tenang sebelum orang-orang jahat itu mati."
Perkataan Janu terdengar sangat intimidatif.
"Tolong katakan, Bi Trini. Siapa yang telah membunuh keluargaku? Katakan sebelum aku bertindak kasar. Aku bukan lagi Janu kecil yang menggemaskan seperti dulu."
Bi trini menangis. "Ampun, Den. Bibi juga memiliki keluarga di desa. Mereka akan membunuh keluarga Bibi jika berani bicara! Hiks hiks huhuhu ...."
Janu tak bisa termakan dengan tangisan buaya itu. "Aku juga bisa menyiksamu, Bibi. Aku bisa menghukum anak dan keluargamu sampai menderita dan tidak ingin hidup lagi. Aku bisa melakukanya," ucapnya.
"Den, tolong maafkan Bibi! Bibi yang salah, Den! Ampuni Bibi!" Trini merasa panik dan berusaha mendapatkan pengampunannya.
Janu mengeluarkan pistol dari dalam kantong celananya. Trini semakin ciut nyali hanya dengan membayangkannya saja.
"Den .... Huhuhu ...." suara Trini terdengar gemetar. Ia tak menyangka anak yang patuh dan penurut itu bisa berubah menjadi anak yang tegas dan pemaksa.
"Katakan, Trini. Siapa yang telah membunuh keluargaku?" tanya Janu menegaskan.
__ADS_1
Trini menghela napas. Ia perlu mengingat kembali kejadian di masa silam.
"Mereka kelompok preman, Den. Namanya Kalong merah," ucap Bi Trini.