Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 31: Kakak Adik


__ADS_3

"Apa kamu ada masalah?"


Kenzo menghampiri Janu yang tengah duduk di dekat kolam ikan. Ia duduk di samping Janu seraya merangkul pundak sang adik yang tubuhnya kini lebih besar darinya.


"Tidak, aku tidak ada masalah apa-apa." Janu mengelak. Ia memperlihatkan senyumannya agar sang kakak tidak khawatir.


"Ayolah, kalau ada apa-apa, ceritakan saja. Sejak dulu kamu tidak mengeluhkan apapun padaku. Terkadang sebagai kakak, aku mengkhawatirkan kebahagiaanmu. Semenjak kita hidup di sini kamu menjadi sangat tertutup."


Janu sudah terbiasa dengan ancaman Damian dan Silvia selama belasan tahun. Alam bawah sadarnya selalu menahannya ketika ingin bicara. Cheryl orang pertama yang membuatnya bisa terbuka. Bahkan kepada Kenzo, ia tak bisa mengatakannya.


"Aku dengar perusahaan Kakak sedang bermasalah?" tanya Janu mengalihkan pembicaraan.


Kenzo menghela napas. "Yah, begitulah. Aku juga tidak tahu kenapa."


"Bagaimana dengan Selena? Kapan kalian akan menikah?"


Kenzo terkekeh. "Dia meminta putus. Kita tak jadi menikah. Sepertinya dia sudah bisa membaca kalau perusahaanku tidak ada harapan. Sekarang dia menjalin hubungan dengan Mark."


Sepertinya ada banyak hal yang terjadi selama Janu pergi. Mungkin salah satu alasan sang kakak menanyakan kepulangannya karena ada banyak masalah yang terjadi.


"Bagaimana kalau Kakak menjual aset perusahaan yang tersisa? Kita kembali ke negara kita dan membangun usaha di sana. Bukankah Mommy juga ingin tinggal di sana lagi?" bujuk Janu.


Kenzo terdiam. Ia menoleh ke arah Janu dan menatapnya. "Apa sudah lupa?" tanyanya.


"Mana mungkin aku bisa lupa," jawab Janu.


Ceceran darah, gelimangan mayat-mayat yang terkapar tak berdaya masih tampak jelas dalam ingatan Janu. Bahkan ia tak bisa melihat pemakaman keluarga besarnya.

__ADS_1


Kedatangannya yang pertama waktu itu sempat mengunjungi makam keluarga. Air matanya sama sekali tak bisa keluar. Ia tak bisa merasakan kesedihan lagi. Terkadang, ia berpikir seharusnya mati bersama mereka saat itu juga. Ia tak tahu selama ini bertahan hidup untuk apa dan untuk siapa.


Kenzo mengulum senyum. "Seharusnya kamu tidak perlu kembali lagi ke sini. Tetaplah di sana, aku rasa kamu merasa lebih senang di sana. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun di sini."


Janu tak bisa melakukan apa yang kakaknya mau. Bagaimanapun juga, Kenzo tetap keluarganya. Dia satu-satunya orang yang dikenalnya dengan baik di dunia ini. Meskipun tinggal dengan orang tua yang jahat, ia tahu kakaknya tak pernah jahat kepadanya.


"Aku ingin merebut kembali perusahaan keluarga kita," lirih Janu.


"Kita masih bisa hidup sejauh ini tanpa perusahaan itu. Kenapa kamu menginginkannya? Kamu akan lelah, Janu."


"Aku tahu. Tapi, aku belum bisa memaafkan mereka semua."


"Dendam hanya membuat hidup kita lebih menderita."


"Mereka juga menghabisi keluarga kita karena dendam," kilah Janu.


Janu sangat bingung. Apa yang Silvia inginkan dengan perkataan Kenzo selalu bertentangan. Sementara, ia tak bisa membiarkan kakaknya tahu semuanya.


"Aku harap Kakak mau mendukungku di sana," pinta Janu.


Kenzo menghela napas. "Baiklah, akan aku pikirkan hal ini baik-baik."


***


Plak!


Dimitri menampar kasar pipi Janu saat dijenguk di penjara. "Aku kira kamu akan kabur dan tidak kembali lagi, hah! Anak kurang ajar!" umpatnya.

__ADS_1


"Maaf." Janu hanya bisa mengucapkan itu.


"Akibat ulahmu, aku mengalami kerugian sangat besar. Kalau sampai bisnisku bangkrut, aku bersumpah akan membunuhmu! Anak sialan!"


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Janu.


"Pasti Silvia sudah memberi tahumu. Selesaikan urusan kelompok kita dengan beberapa client yang sudah disepakati. Jangan membuat sedikitpun kesalahan!" pinta Dimitri secara tegas.


"Aku mengerti," kata Janu. "Lalu, apa yang harus aku lakukan agar Daddy bisa keluar dari sini?" tanyanya.


Dimitri menyeringai. "Itu bukan urusanmu. Kamu tidak akan paham. Aku yang akan menyelesaikan urusan ini sendiri dengan orang-orangku. Kamu lakukan saja tugasmu!" ia terlihat meremehkan Janu.


"Oh, baiklah kalau begitu. Setelah ini, aku akan langsung melakukan misi itu."


"Baguslah! Pergilah cepat!" perintah Dimitri. Ia tidak ingin berlama-lama melihat Janu.


Janu berjalan pergi meninggalkan ruangan itu. Sebelum pergi, ia sempat menoleh ke belakang, memandangi Dimitri yang kembali digiring masuk ke dalam penjara. Ia menyeringai.


Janu berjalan menuju ke suatu tempat yang ada di lapas. Di sana sudah ada orang yang menunggunya. Seorang berpakaian seperti petugas keamanan di lapas.


"Apa dia akan lama di sini?" tanya Janu.


"Kalau dari tuntutan hukuman yang diterimanya, seharusnya 20 tahun penjara," jawab orang tersebut. "Tapi, aku rasa Dimitri sangat lihai. Mungkin hanya butuh setahun dua tahun ia akan bisa bebas."


***


❤❤❤ PROMOSI ❤❤❤

__ADS_1



__ADS_2