Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 63: Pesta Perusahaan


__ADS_3

"Pakaian itu jelek sekali untukmu!"


Cheryl menghela napas. Kata-kata terakhir yang Janu ucapkan padanya masih terngiang-ngiang di kepala dan membuatnya kesal. Ia mengenakan dress berwarna merah dengan tali spagetti di bahunya. Panjang dress yang ia kenakan di atas lutut dan masih ada belahan kecil di kanan kirinya.


Ia menyesuaikan dandanannya dan rambutnya dibiarkan tergerai agar menambah kesan elegan dan dewasa. Namun, saat Janu melihat penampilannya, lelaki itu malah meledeknya. Ia dibilang jelek.


Cheryl mengabaikan ucapan Janu. Ia merasa tak ada yang salah dengan penampilannya. Thor mengantarnya ke tempat pesta sampai area parkiran hotel. Malam ini perusahaannya mengadakan pesta untuk seluruh karyawan.


Pesta diselenggarakan di sebuah ballroom hotel yang luas dan megah. Ada banyak tamu yang telah hadir, dari mulai petinggi perusahaan hingga karyawan biasa seperti dirinya.


Hal pertama yang Cheryl lakukan adalah melihat sekeliling untuk menemukan keberadaan temannya. Tidak semua tamu yang hadir ia kenal. Sekalipun ia pernah berpapasan dengan karyawan satu kantor, tapi kalau beda divisi ia akan canggung jika sok akrab terhadap mereka.


"Cheryl! Di sini!"


"Cheryl!"


Terdengar suara yang memanggil namanya. Ia menoleh ke arah asal suara sembari mengulaskan senyum. Ada Vina dan Hendry yang melambaikan tangan ke arahnya. Cheryl berjalan mendekat menghampiri mereka.


Padahal tujuan perusahaan setiap membuat acara berharap karyawannya bisa saling mengakrabkan diri satu sama lain. Kenyataannya, mereka lebih memilih untuk berkelompok dengan orang yang biasa akrab di kantor.


"Kamu cantik banget hari ini," puji Vina. Ia cukup terkejut melihat penampilan Cheryl yang sedikit berbeda malam ini.


"Kamu juga cantik, Vin."


"Kalau aku bagaimana? Keren, nggak?" tanya Hendra sembari memamerkan setelah jas yang baru ia beli dengan sengaja untuk pesta malam ini.


Cheryl mengangguk-angguk. "Ya, kamu sangat keren. Pakaianmu sangat cocok."


"Dia mau menyaingi penampilan para direktur," ujar Vina.


"Tidak masalah, siapa tahu Hendra bisa menjadi salah satu direktur seperti mereka. Sekarang, memantaskan penampilan saja dulu," seloroh Cheryl.


"Hahaha ... Kalau aku dalam berkarir tidak terlalu muluk-muluk. Bisa baik jadi ketua tim saja sudah bersyukur," kata Hendra.


"Itu malah akan lebih sulit, Hen. Soalnya kamu harus mengalahkan Mak Lampir." kata Vina.


Cheryl menutupi mulutnya karena tidak bisa menahan tawa mendengarkan ucapan Vina.


"Iya juga sih. Dinda bakalan dendam kesumat kalau aku ambil jabatannya. Ngomong-ngomong dia dimana?" Hendra jadi mencari-cari keberadaan Dinda.


"Tuh disana!" Vina menunjuk ke arah sekumpulan pengusaha muda yang tengah berbincang-bincang dengan Dinda.

__ADS_1


"Pokoknya kalau cari dia di kalangan yang tepat, tidak mungkin dia berbaur dengan karyawan biasa seperti kita."


Mereka memandangi Dinda yang terlihat begitu mudah berbaur dengan orang-orang penting perusahaan.


"Eh, itu siapa, ya? Tampan sekali," gumam Vina.


Cheryl mengarahkan pandangannya ke arah yang dituju Vina. Ia sangat kaget melihat Janu ada di sana. Penampilannya sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Lelaki itu terlihat tampan. Sekilas tatapan mata mereka bertemu.


Cheryl sengaja membuang pandangannya. Ia malas karena sebelum berangkat lelaki itu sempat meledek penampilannya. Lucunya, lelaki itu menyuruh Thor yang mengantar. Padahal, ia sendiri ternyata datang ke pesta yang sama dengannya tanpa memberi tahu.


"Kalau tidak salah dia CEO PT Minasa Persada," kata Hendra.


"Tapi, kok dia ada di sini? Bukannya ini acara untuk perusahaan kita saja?" tanya Vina heran.


"Mungkin dia punya saham bagian juga di perusahaan ini. Setahuku para pemegang saham juga mendapatkan undangan," ujar Hendra.


Cheryl melihat seorang wanita menghampiri Janu dengan luwes menggandeng tangan suaminya. Ia merasa familiar dengan wanita itu.


Janu tampak menatap Cheryl seolah memberi isyarat agar istrinya tidak marah padanya.


Cheryl baru sadar bahwa wanita itu adalah tunangan Janu yang pernah sekali ia temui. Bahkan dulu Janu mengatakan dia gila di hadapan wanita itu.


"Cheryl!"


Belum selesai satu pihak yang membuatnya kesal, kini datang lagi pihak lain yang tak kalah membuatnya kesal juga. Arsen datang menghampirinya. Padahal sudah jelas saat itu ia sudah meminta lelaki itu untuk tidak mengejarnya lagi.


Cheryl tetap berusaha tersenyum. Ia tak ingin membuat kedua rekan kerjanya tahu bahwa ia punya masalah dengan direktur keuangan perusahaan itu. Ia juga melihat ekspresi Janu di seberang sana sangat masam ketika Arsen mendekatinya.


"Selamat malam, Pak," sapa Cheryl sopan.


"Aku kira kamu tidak akan datang," ujar Arsen.


"Itu tidak mungkin. Ini acara perusahaan dan sudah semestinya saya datang," kata Cheryl.


"Mau ikut denganku sebentar?" ajak Arsen.


Sepertinya lelaki itu sedang mencari kesempatan saat Cheryl akan sungkan untuk menolaknya.


"Hendra, Vina, aku pergi dulu dengan Pak Arsen, ya!" ijinnya.


Hendra dan Vina tersenyum mengiyakan. Tidak mungkin mereka melarang Pak Arsen membawa Cheryl dari mereka.

__ADS_1


Arsen mengambilkan segelas wine untuk Cheryl. Keduanya berdiri di samping balkon sembari menikmati semilir angin malam yang bertiup.


"Wine ini rasanya enak," ucap Cheryl setelah mencicipinya.


"Ini memang wine mahal yang dibawakan oleh Ibu Presdir. Kamu jangan terlalu banyak minum, aku takut nanti kamu mabuk."


Cheryl hanya tersenyum. Ia justru meneguk sisa wine di gelasnya dalam sekali tegukkan. "Kamu pasti sudah tahu kalau aku sangat kuat terhadap alkohol. Aku tidak akan mabuk hanya karena segelas wine. Kecuali kalau kamu menaruh sesuatu dalam minuman ini," sindir Cheryl.


Semasa mudanya, ia memang dikenal sebagai ratu clubbing. Ia sering pergi ke klab malam untuk minum-minum bersama temannya. Tentu saja dilakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tuanya.


Cheryl mengakhiri kebiasan buruknya yang dulu setelah kedua orang tuanya meninggal. Keluarganya dibantai saat ia sedang bersenang-senang di klab.


"Kamu memang tipe wanita yang akan melanggar meskipun sudah dilarang." Arsen mengambil paksa gelas kosong yang Cheryl pegang. Ia tak mau mengambilkan wanita itu minum lagi.


"Jadi, kenapa kamu memanggilku ke sini?" tanya Cheryl. "Kamu tidak lupa kan kalau hubungan kita sudah berakhir?" ia kembali mengingatkannya.


Arsen terlihat lesu. "Keputusanmu masih tidak adil bagiku. Meskipun kamu tidak bisa menerimanya, aku bersumpah tidak tahu kalau bisa melakukan hal itu dengan Diana."


"Ya, mungkin kamu mabuk karena obat yang diberikannya. Orang mabuk kan tidak akan bisa menolak mau melakukan apapun bahkan dengan orang yang tidak dikenalnya," sindir Cheryl.


"Itu kamu bisa paham. Tapi, kenapa kamu tidak mau memaafkan aku?"


"Entahlah! Rasanya aku tidak bisa menerimanya. Jadi, jangan memaksaku untuk mengikuti kemauanmu."


"Ibuku sangat kecewa dengan keputusanmu."


"Aku tahu. Terdengar jelas ia memakiku di telepon. Intinya dia menyalahkan aku, padahal kalian berdua yang melakukannya."


"Arsen, kamu di sini?" sapa Ibu Thea.


Arsen dan Cheryl segera menghentikan pembicaraan melihat kehadiran orang tertinggi di perusahaan datang.


"Oh, dengan dia," gumam Ibu Thea. Ia masih mengingat wajah wanita yang ada di ruang kerja Arsen saat itu.


Cheryl hanya menunjukkan senyuman kecil.


"Boleh aku ajak Arsen bersamaku sebentar? Ada relasi bisnis yang ingin berbincang dengan kami." Ibu Thea meminta ijin kepada Cheryl.


"Silakan, Ibu Presdir," ucap Cheryl dengan senang hati.


"Tunggu aku di sini sebentar," pinta Arsen sembari mengikuti Ibu Thea pergi.

__ADS_1


__ADS_2