Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 38: Menemukan Surat Berharga


__ADS_3

Cheryl baru saja pulang dari kantor. Ia meletakkan tas diatas nakas lalu merebahkan dirinya di atas ranjang. Ia menghela napas, bekerja seharian di kantor membuatnya kelelahan.


Sudah satu bulan lamanya Janu pergi dan tidak ada tanda-tanda bahwa lelaki itu akan kembali. Sekalipun Janu tak pernah mengabarinya. Memang ia juga tidak mengharapkan kabar darinya. Tapi, terkadang ia merasa kesepian di rumah sebesar itu. Biasanya mereka selalu bertengkar dan berbeda pendapat.


Cheryl bangun dari rebahannya. Ia berjalan keluar kamar menuju kamar Janu. Seperti biasa, kamar itu tampak kosong dan sunyi. Kalau ada Janu ia tak mungkin bisa masuk sembarangan.


Ia memandangi seisi kamar Janu termasuk sebuah foto pernikahan mereka yang sangat besar terpajang di sana.


"Hah! Orang itu, kenapa menaruh foto pernikahan di kamar segala," gumamnya.


Janu menikahinya karena terpaksa memanfaatkan momen saat ia amnesia. Anehnya, lelaki itu masih menyimpan foto pernikahan mereka bahkan memajangnya di kamar.


Cheryl mendekati foto itu dan meraba dengan tangannya. Ada rasa rindu saat ia memandangi foto itu.


Brak!


Cheryl berjingkrak kaget. Sesuatu terjatuh dari balik foto itu. Ia mengambilnya. Ternyata salah satu dokumen kepemilikan rumah miliknya.


Ia langsung menggeser foto itu. Ada sebuah lubang pada dinding yang berbentuk kotak di balik foto. Di sanalah ternyata Janu menyimpan semua aset kepemilikan Cheryl di sana. Ia terkejut sekaligus senang menemukannya.


"Oh, akhirnya ...," ucap Cheryl lega.


Ia membawa semua dokumen miliknya itu ke dalam kamarnya sendiri. Ia memasukkannya ke dalam koper bersama beberapa lembar pakaian. Ia berniat akan pergi menemui Arsen dan kabur dari Janu.


Drrtt ... Drrtt ....


Ponsel Cheryl berbunyi. Ia buru-buru mengambilnya dari dalam tas. Ternyata Michan yang menghubunginya.


"Halo, Michan, ada apa?" tanya Cheryl.


"Cher, sepertinya kita harus ketemu. Kapan ada waktu?"

__ADS_1


Cheryl mengernyitkan dahi. "Memangnya kenapa?"


"Aku tidak bisa mengatakannya di telepon, pokoknya ini penting dan kita harus ketemu."


Cheryl sedang memikirkan waktu yang pas untuk bertemu temannya itu. Besok ia tidak bisa karena akan menemui Arsen. "Em, bagaimana kalau lusa? Soalnya besok aku ada urusan," kata Cheryl.


"Ya sudahlah, terserah kamu."


"Kita mau ketemu dimana? Apa di restoran biasa?" tanya Cheryl.


"Ah, tidak, tidak ... Kamu datang saja sendiri ke apartemenku. Pokoknya ini penting!"


Cheryl jadi penasaran dengan apa yang hendak Michan katakan. "Iya, iya. Lusa aku akan datang ke tempatmu."


***


"Tuan, Bull telah tertangkap dan masuk penjara," ucap Finn.


"Jadi, urusan kita di sini telah selesai, kan?" tanya Janu.


"Bagaimana dengan anak buah Tuan Dimitri yang masih tersisa? Mau kita bubarkan atau bagaimana, Tuan?"


Janu berpikir sejenak. Ia tidak ingin meneruskan kejahatan yang dilakukan Dimitri, termasuk mengambil alih kelompok mafia yang dipimpin ayah angkatnya itu. Namun, untuk menghadapi perang besar di tanah air, ia butuh banyak kekuatan. Saat pertama pulang, Janu sudah membawa beberapa anak buah Dimitri bersamanya, termasuk Finn yang memilih berada di pihaknya.


"Kita bawa sebagian yang terbaik dari mereka dan biarkan sisanya membubarkan diri. Aku rasa mereka tidak akan berbuat apa-apa tanpa Dimitri atau Bull," kata Janu.


Sengaja ia melemahkan posisi Dimitri dan Bull. Dengan keduanya masuk penjara, tidak akan ada lagi aktivitas dalam kelompok mafia itu. Bahkan Silvia juga tidak memiliki kekuatan untuk mengatur mereka.


"Katakan pada mereka untuk bersiap aku ajak pulang!" perintah Janu.


"Baik, Tuan," jawab Finn.

__ADS_1


Ponsel Janu bergetar. Ada telepon masuk dari Thor. Ia memiliki firasat kurang baik jika terjadi sesuatu di rumahnya yang di sana.


"Halo, Thor? Kenapa?" tanya Janu.


"Tuan, sepertinya ada yang aneh dengan Nyonya."


Janu sudah menebaknya. "Kenapa dia?"


"Nyonya pergi dari rumah membawa sebuah koper. Saya dilarang mengantarnya."


Janu menghela napas. Ia mulai hilang kesabaran dengan wanita itu. "Finn, hubungkan monitor dengan akses CCTV rumah!" perintahnya.


Janu mematikan telepon itu dan beralih duduk di meja kerjanya menghadap layar monitor. Setelah Finn menyambungkan dengan akses CCTV, ia membuka hasil rekaman yang tersimpan.


Ada cukup banyak rekaman yang belum dia teliti. Ia memilih hari sebelumnya. Ia percepat tayangan CCTV dan mencari bagian yang aneh.


Saat melihat Cheryl masuk ke dalam kamarnya, ia mulai memperhatikan apa yang wanita itu lakukan. Benar saja, wanita itu memegang foto pernikahan mereka dan tidak sengaja menjatuhkan sesuatu. Akhirnya Cheryl tahu dimana ia menyembunyikan seluruh surat-surat berharga itu.


"Ah, seharusnya aku menitipkannya pada pengacara," gumam Janu sembari menepuk dahinya.


Ia mengikuti pergerakan Cheryl membawa surat-surat itu ke dalam kamar. Pada rekaman terbaru, wanita itu memang tampak keluar kamar membawa sebuah koper.


Janu terkekeh. Istrinya benar-benar perlu diberi pelajaran. Wanita itu telah melukai harga dirinya.


"Finn, istriku mau kabur kepada pacarnya. Dia membawa semua surat-surat berharga itu," kata Janu pada anak buahnya.


Tubuh Janu seakan melemas. Padahal ia sudah berbaik hati untuk membantu Cheryl mengusut pembunuh keluarganya, namun sepertinya wanita itu tidak percaya akan niat baiknya.


Jika Cheryl mengambil alih semuanya, langkah Janu mengambil alih perusahaan keluarganya akan kembali menemui kendala. Sementara, posisinya masih berada di luar negeri.


"Apa yang akan kita lakukan, Tuan?" tanya Finn.

__ADS_1


Janu kembali tertawa. "Aku juga tidak tahu, Finn. Wanita itu benar-benar bodoh dan merepotkan." gerutunya.


__ADS_2