Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 46: Takut Aku atau Gelap?


__ADS_3

"Cukup, cukup ... Aku tak bisa meneruskannya."


Cheryl menahan tangan Janu yang hendak melepaskan pakaiannya. Ciuman yang mereka lakukan sudah cukup berlebihan. Ia merasa tegang jika Janu melanjutkan perbuatan itu.


"Ah!" Cheryl menjerit dan melotot saat Janu dengan sengaja menyentuh dadanya.


"Hahaha ... Baru aku pegang sudah marah-marah. Aku ingin tahu apa yang akan kamu lakukan jika aku menyesapnya," ucap Janu dengan nakal.


Cheryl sampai ternganga mendengar ucapan cabvl lelaki itu. "Sudah gila ya, kamu!" umpatnya.


Dengan segenap tenaga, ia mendorong Janu menjauh dan segera berlari ke arah pintu.


Sebelum ia berhasil keluar, Janu lebih dulu berhasil menahan pintunya agar tidak terbuka.


Cheryl kembali berlari menjauh.


Janu mengunci pintu itu. "Malam ini kamu tidak boleh keluar dari sini," ucapnya dengan senyum seringai.


Ia membuka satu persatu membuka kancing kemeja. Istrinya terlihat panik melihat perbuatannya. Wanita itu terus berjalan mundur dan mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Sayang, kamu mau kabur kemana? Suamimu kan ada di sini," goda Janu. Ia rasa istrinya akan mengajaknya main kejar-kejaran.


"Ini tidak lucu, ya, Janu! Aku mau pergi!" teriak Cheryl.


"Mau pergi kemana? Ini sudah larut malam." Janu semakin berani melakukan aksinya melepas bawahannya di hadapan Cheryl.


"Aku mau ke kamarku!" jawab Cheryl gugup.


Janu terkekeh. "Ini kan kamarmu, Sayang."


Cheryl sampai lupa kalau ia ada kamarnya sendiri. "Kalau begitu, kamu yang keluar! Ini kan bukan kamarmu!" usirnya.


"Tidak mau! Aku mau tidur bersamamu."


Janu terus maju mendekat ke arah Cheryl. Wanita itu semakin lama merasa semakin terdesak dan akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi. Ia menutup rapat pintu dan menguncinya.


Janu terkekeh melihat tingkah Cheryl yang ketakutan padanya. "Sayang, keluarlah ... Aku kan bukan ingin memakanmu," rayu Janu sembari berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Keluar kamu dari kamarku!" seru Cheryl dari balik pintu.


"Aku kan mau mengajakmu main ... Ayo, keluar ...." bujuk Janu.


"Aku tidak mau sekamar dengan orang mesvm sepertimu!"


Janu merengut. "Bukankah keterlaluan seorang istri yang menyebut suaminya mesvm?"

__ADS_1


"Berhenti menyebut tentang suami istri, itu menggelikan, Janu! Cepat pergi dari kamarku! Aku mau tidur!" Cheryl kembali berteriak-teriak sambil marah-marah.


"Aku akan membuatmu lebih cepat tidur, keluarlah sekarang, sayang!" Janu tersenyum geli mengatakannya.


"Pergi! Pergi! Pergi!" usir Cheryl.


Janu rasa Cheryl tidak akan keluar secara baik-baik dari dalam. Ia sengaja menunggu di luar selama lima menit, namun Cheryl masih belum mau keluar. Akhirnya ia mematikan semua lampu yang ada di dalam kamar. Tinggal satu lampu yang masih menyala, yaitu lampu kamar mandi.


Klak!


"Ah! Janu ... Nyalakan lampunya ...."


Langsung terdengar suara teriakan dari dalam kamar mandi saat Janu mematikan lampu kamar mandi.


"Janu ... Janu ...."


Janu sengaja diam tak bersuara. Wanita itu jadi takut kegelapan sejak kejadian penyerangan waktu itu.


Srek!


"Hiks! Hiks! Janu ...."


Cheryl membuka pintu kamar mandi dan meraba-raba jalan sembari menangis. Ia merasa sesak napas di tengah kondisi yang gelap gulita.


"Janu .... Huhuhu ...."


Mendengar Cheryl yang terus menangis membuat Janu akhirnya tidak tega. "Aku di sini," ucapnya sembari memberikan pelukan.


"Berhenti menakutiku!" rengek Cheryl.


"Makanya jangan bandel!" kata Janu.


Ia menggendong Cheryl kembali ke atas ranjang. Dihidupkannya satu lampu tidur di sisi ranjang yang memberikan pencahayaan temaram.


Cheryl antara takut akan kegelapan di kamarnya dan lelaki setengah telan jang yang kini tengah menatapnya secara intens.


"Bisa tidak jangan menakutiku?" tanya Cheryl.


"Siapa yang sedang menakutimu? Justru aku ingin kamu sadar kalau aku suamimu yang bisa diandalkan," ucap Janu sembari tersenyum.


Cheryl menahan tangan Janu yang hendak menyingkapkan pakaiannya. "Sumpah, Janu ... Aku takut!" katanya. Ia merasa belum siap melakukan hal semacam itu. Perbuatan Janu benar-benar membuatnya merasa cemas dan ketakutan.


"Ini tidak akan menakutkan seperti yang kamu kira, percayalah." Janu berusaha menenangkan Cheryl seperti dirinya sudah berpengalaman.


Cheryl tetap tidak mau. Ia menggeleng. "Aku tidak bisa melakukan hal semacam ini!"

__ADS_1


"Kalau tidak dicoba memang tidak akan pernah bisa. Makanya harus dicoba," kata Janu sembari tersenyum.


"Aku ...."


Belum sempat Cheryl menyelesaikan perkataan, mulutnya lebih dulu dibungkam oleh ciuman Janu. Lelaki itu menciumnya dengan liar dan tak memberi kesempatan Cheryl untuk mengelak.


Tangannya secara lincah menyibakkan pakaian istrinya ketika wanita itu mulai lemah perlawannya.


Cheryl hanya bisa pasrah saat Janu berhasil mendaratkan kedua tangan di atas gundukan dadanya. Ia merasa telah kalah. Lelaki itu semakin serakah menurunkan ciuman menyisir lekuk leher hingga ke dadanya. Ia ikut terhanyut dengan apa yang Janu lakukan padanya.


Aktivitas mereka membuatnya merasa takut dan gugup. Di sisi lain, ia merasa dicintai oleh lelaki yang bahkan hampir setiap hari menjadi teman bertengkarnya.


Janu melakukannya dengan memaksa dan lembut di saat yang bersamaan. Ia masih tidak terima ketika istrinya memikirkan lelaki lain. Ia ingin membuat Cheryl hanya memikirkan dirinya serta bergantung padanya setiap saat.


Membuatnya menangis saat melakukannya untuk pertama kali lebih baik baginya. Mulai saat ini, istrinya hanya boleh tertawa atau menangis untuknya.


Usai melakukan malam pertama yang lama tertunda, Cheryl tertidur di atas ranjang. Ia kelelahan mengikuti kemauan erotis yang Janu inginkan.


Janu tersenyum memandangi wajah polos yang terlelap tidur di hadapannya. Lelehan air mata masih tampak menetes di sudut bibir. Rengekannya dan lengkuhannya masih terngiang-ngiang di telinga. Membuatnya ingin mengulang namun tak tega.


Baru kali ini ia merasakan bahagia yang luar biasa dalam hidupnya. Bisa tidur dengan istrinya sendiri membuat hatinya berbunga-bunga. Padahal, awalnya ia hanya ingin membuat jera sang istri. Sepertinya ia tidak akan lagi bisa berpaling dari wanita itu.


Tok tok tok


Janu merasa terusik dengan suara ketukan pintu. Momen romantisnya langsung buyar. Ia bangkit dari atas ranjang. Ia mengenakan kembali pakaiannya. Tak lupa ia tarik selimut menutupi tubuh istrinya yang masih tak berpakaian.


Ia melangkah membukakan pintu kamar. Dua orang anak buahnya tampak ada di sana, Finn dan Thor.


"Ada apa?" tanya Janu dengan raut wajah garang.


Mereka saling pandang karena tidak ada yang mau menyampaikannya sendiri. Mereka tahu bahwa keduanya baru saja mengganggu aktivitas yang bosnya lakukan.


"Tuan, saya mendengar kabar jika Nona Michan meninggal," kata Finn.


"Michan?" Janu tampak mengerutkan dahinya.


"Salah satu karyawan di perusahaan kita. Dia juga sahabat baik Nyonya Cheryl," terang Finn.


Janu mangguk-mangguk karena telah mengingat wanita itu. "Kenapa dia bisa meninggal?" tanyanya.


"Dugaan sementara bunuh diri, Tuan," jawab Finn.


"Apa kita perlu memberitahu Nyonya?" sahut Thor.


Janu mengintip ke dalam sebentar. Istrinya masih terlelap tidur. Hari juga telah sangat larut. "Tidak perlu! Kita pergi saja bertiga!" ucapnya.

__ADS_1


"Thor, kamu tolong panggilkan tiga pelayan wanita agar berjaga di depan kamar Cheryl sampai kita kembali!"


"Baik, Tuan."


__ADS_2